Oleh: Prof. Dr. Diana Rochintaniawati, M.Ed.
Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, pembelajaran di sekolah diharapkan untuk terus mengembangkan ragam strategi dan media yang mampu mendorong keterlibatan aktif peserta didik, memperkuat literasi, serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Salah satu media yang berpotensi mendukung tujuan tersebut adalah “kamishibai”. Seni bercerita tradisional Jepang yang memadukan rangkaian kartu bergambar, narasi lisan, dan penampilan pencerita. Melalui perpaduan unsur visual dan verbal, kamishibai memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyimak cerita, mengamati ilustrasi, memprediksi peristiwa, serta membangun pemahaman terhadap isi dan pesan cerita.
McGowan (2010) membahas pemanfaatan kamishibai dalam pembelajaran literasi melalui pendekatan teater kertas yang melibatkan beragam praktik literasi. Potensi ini menjadikan kamishibai relevan untuk dikaji sebagai media pembelajaran yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga dapat mendukung pengembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, komunikasi, dan pemahaman nilai-nilai kehidupan.
Baca Juga : Bantu Pendidikan Anak Kurang Mampu, Wali Kota Makassar Siapkan Beasiswa untuk Siswa SD-SMP
Dalam konteks kurikulum sekolah di Indonesia, penggunaan kamishibai dapat dikembangkan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang menghubungkan tujuan kurikulum dengan pengalaman konkret peserta didik. Media ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa asing, pendidikan karakter, pendidikan Pancasila, maupun pengenalan lingkungan dan budaya lokal, dengan penyesuaian terhadap capaian pembelajaran serta karakteristik peserta didik.
Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya melalui kegiatan mendengarkan cerita, tetapi juga dengan melibatkan peserta didik dalam menyusun alur, membuat ilustrasi, menulis narasi, dan menampilkan cerita secara kolaboratif.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan Vygotsky (1978) mengenai pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar dan Bruner (1990) tentang peran narasi dalam membangun makna. Paper ini membahas konsep dan sejarah kamishibai, landasan teoretis dan pedagogis, desain dan pengembangan media, strategi implementasi dalam pembelajaran, serta evaluasi efektivitas dan inovasinya. Pembahasan ini diharapkan dapat memberikan landasan konseptual dan praktis bagi guru serta pengembang kurikulum dalam memanfaatkan kamishibai secara terarah, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.
Baca Juga : Di Sela Kesibukan Pimpin Sidrap, Syaharuddin Alrif Tuntaskan Seminar Hasil Doktoral di Unhas
Secara regulatif, pemanfaatan kamishibai sebagai alternatif media pembelajaran sejalan dengan prinsip fleksibilitas kurikulum dan penyesuaian pembelajaran terhadap kebutuhan peserta didik serta konteks sosial budaya satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang kurikulum.
Konsep dan Sejarah Kamishibai sebagai Media Pembelajaran
Kamishibai merupakan seni bercerita tradisional Jepang yang menggunakan rangkaian kartu bergambar untuk menyampaikan cerita secara berurutan melalui perpaduan ilustrasi, narasi lisan, dan penampilan pencerita. Istilah kamishibai berasal dari kata Jepang kami yang berarti kertas dan shibai yang berarti pertunjukan atau drama. Dalam praktiknya, gambar-gambar disusun pada kartu yang dapat diganti secara bertahap di dalam bingkai atau panggung kecil, sehingga peserta didik mengikuti perkembangan cerita melalui perpindahan ilustrasi dan narasi. Kamishibai berkembang sebagai bentuk hiburan populer di Jepang, khususnya pada awal hingga pertengahan abad ke-20, dan kemudian dikenal pula sebagai salah satu pendekatan bercerita yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan (McGowan, 2010).
Baca Juga : Bukit Baruga Konsisten Wujudkan Gaya Hidup Sehat Lewat Aktivitas Poundfit
Sebagai media pembelajaran, kamishibai memiliki karakteristik yang memadukan unsur visual, verbal, dan performatif. Ilustrasi membantu peserta didik mengenali tokoh, latar, peristiwa, serta hubungan antarkejadian, sedangkan narasi lisan memberikan konteks dan penjelasan terhadap gambar yang ditampilkan. Pergantian kartu secara bertahap juga dapat membangun rasa ingin tahu, perhatian, dan antisipasi terhadap kelanjutan cerita.
Berbeda dari kegiatan membaca teks semata, kamishibai memungkinkan guru mengatur tempo penyampaian cerita, memberikan penekanan pada bagian tertentu, serta mengajukan pertanyaan untuk mendorong keterlibatan peserta didik. Dengan demikian, media ini dapat digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang mengintegrasikan bahasa, gambar, ekspresi, dan interaksi sosial.
Dalam konteks kurikulum sekolah di Indonesia, kamishibai dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi, bukan sekadar penyampaian materi. Pada pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya, guru dapat menggunakannya untuk mengembangkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis melalui kegiatan mengamati gambar, menceritakan kembali isi cerita, menyusun urutan peristiwa, dan menulis akhir cerita alternatif.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Pada pembelajaran pendidikan karakter, cerita dapat mengangkat nilai tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, capaian pembelajaran, usia peserta didik, serta konteks sosial budaya sekolah.
Landasan Teoretis dan Pedagogis Pembelajaran Berbasis Kamishibai
Penggunaan Kamishibai dapat dijelaskan melalui perspektif konstruktivisme yang memandang belajar sebagai proses aktif dalam membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Piaget (1970) menekankan peran aktivitas peserta didik dalam pembentukan pengetahuan, sedangkan Vygotsky (1978) menjelaskan pentingnya interaksi sosial dan dukungan dalam perkembangan belajar. Ketika guru menyampaikan cerita melalui Kamishibai, peserta didik tidak harus menjadi pendengar pasif. Mereka dapat mengamati ilustrasi, memprediksi kejadian berikutnya, menghubungkan cerita dengan pengalaman pribadi, dan mendiskusikan tindakan para tokoh.
Aktivitas tersebut memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membangun makna melalui proses interpretasi dan dialog. Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan pertanyaan pemantik, memberikan dukungan sesuai kebutuhan, dan mendorong peserta didik mengemukakan alasan atas pemahamannya.
Landasan berikutnya adalah pembelajaran multimodal, yaitu pendekatan yang memanfaatkan lebih dari satu bentuk representasi untuk membangun dan menyampaikan makna. Kress (2010) menjelaskan bahwa komunikasi dapat berlangsung melalui berbagai moda, termasuk bahasa, gambar, tata letak, dan unsur visual lainnya.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Kamishibai menggabungkan ilustrasi, bahasa lisan, urutan visual, intonasi, dan ekspresi pencerita dalam satu pengalaman belajar. Kombinasi tersebut membuka berbagai jalur bagi peserta didik untuk memahami isi cerita, meskipun manfaatnya tetap bergantung pada kualitas ilustrasi, kejelasan narasi, dan kesesuaian media dengan kebutuhan belajar. Mayer (2009) juga menjelaskan pentingnya pengintegrasian informasi verbal dan visual dalam pembelajaran multimedia.
Meskipun kamishibai pada dasarnya menggunakan kartu fisik, prinsip pengintegrasian informasi tersebut relevan untuk menjelaskan bagaimana gambar dan narasi dapat saling melengkapi dalam membantu peserta didik memahami konsep dan peristiwa.
Selain konstruktivisme dan pembelajaran multimodal, kamishibai dapat dikaitkan dengan pendekatan storytelling dan pembelajaran berbasis pengalaman. Cerita menyediakan konteks yang membantu peserta didik memahami hubungan sebab-akibat, mengenali perspektif tokoh, serta merefleksikan nilai dan konsekuensi suatu tindakan. Bruner (1990) membahas peran pemikiran naratif dalam cara manusia memahami pengalaman dan membangun makna.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Sementara itu, Kolb (1984) mengemukakan pembelajaran berbasis pengalaman melalui proses mengalami, merefleksikan, membentuk pemahaman, dan menguji penerapannya. Dalam pembelajaran kamishibai, peserta didik dapat mendengarkan cerita, merefleksikan peristiwa, menyusun interpretasi, kemudian membuat cerita atau pertunjukan mereka sendiri. Hubungan teoretis ini memberikan landasan pedagogis bagi penggunaan kamishibai, tetapi efektivitasnya tetap perlu ditelaah melalui pengamatan dan evaluasi dalam konteks kelas yang nyata.
Sejalan dengan perspektif politik kurikulum yang dikemukakan Wahyudin (2020), penggunaan kamishibai dapat dipahami sebagai pilihan pedagogis yang mencerminkan nilai, kepentingan, dan orientasi pendidikan, sekaligus membuka ruang bagi peserta didik untuk membangun makna, mengekspresikan identitas budaya, dan mengembangkan pemikiran kritis melalui cerita yang kontekstual.
Desain dan Pengembangan Media Kamishibai untuk Pembelajaran
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Pengembangan media kamishibai perlu diawali dengan analisis tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Guru menentukan kompetensi atau capaian pembelajaran yang hendak dikembangkan, materi yang akan disampaikan, serta aktivitas belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Cerita yang dipilih sebaiknya memiliki alur yang jelas, tokoh yang mudah dikenali, konflik atau persoalan yang relevan, dan penyelesaian yang dapat didiskusikan.
Pada jenjang sekolah dasar, misalnya, cerita tentang persahabatan, kebersihan lingkungan, kehidupan keluarga, atau kearifan lokal dapat digunakan untuk mengintegrasikan pembelajaran bahasa, pendidikan karakter, dan pengenalan lingkungan. Pemilihan cerita juga perlu mempertimbangkan latar budaya peserta didik agar pembelajaran terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Bruner (1960) bahwa materi pembelajaran perlu disusun secara terencana agar dapat dipahami oleh peserta didik sesuai dengan perkembangan dan pengalaman belajarnya.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Tahap berikutnya adalah menyusun naskah dan merancang kartu bergambar secara sistematis. Setiap kartu sebaiknya merepresentasikan satu adegan atau peristiwa penting dalam alur cerita, sehingga rangkaian gambar membentuk kesinambungan dari pengenalan tokoh hingga penyelesaian cerita. Ilustrasi perlu dibuat jelas, proporsional, dan tidak terlalu padat oleh detail yang tidak relevan. Narasi yang menyertai setiap kartu harus cukup ringkas untuk disampaikan secara lisan, tetapi tetap memuat informasi penting yang membantu peserta didik memahami cerita.
Prinsip pembelajaran multimedia menunjukkan bahwa desain visual dan verbal perlu saling melengkapi serta menghindari informasi tambahan yang dapat mengalihkan perhatian dari materi utama (Mayer, 2009).
Pengembangan kamishibai juga perlu memperhatikan fleksibilitas penggunaan dan peluang kreativitas peserta didik. Guru dapat menggunakan kartu cetak, ilustrasi hasil karya peserta didik, atau gambar digital yang dicetak menjadi kartu fisik. Tema cerita dapat bersumber dari dongeng, cerita rakyat, pengalaman sehari-hari, sejarah lokal, maupun persoalan lingkungan. Dalam konteks Indonesia, cerita tentang tradisi daerah, kehidupan masyarakat pesisir, budaya perbatasan, atau pelestarian alam dapat menjadi bahan untuk menghubungkan pembelajaran dengan lingkungan sosial peserta didik.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
McGowan (2010) membahas penggunaan kamishibai dalam pembelajaran literasi dan menunjukkan relevansi pendekatan ini untuk mengembangkan berbagai praktik literasi melalui seni bercerita. Sebelum digunakan secara luas, guru dapat melakukan uji coba sederhana untuk menilai keterbacaan ilustrasi, kejelasan narasi, durasi penyajian, dan kesesuaian cerita dengan tujuan pembelajaran.
Strategi Implementasi Kamishibai dalam Proses Pembelajaran
Implementasi kamishibai di kelas dapat dimulai melalui tahap persiapan, orientasi, penyampaian cerita, interaksi, dan tindak lanjut. Pada tahap persiapan, guru menetapkan tujuan pembelajaran, memilih cerita, menyiapkan kartu bergambar, dan merancang pertanyaan pemantik. Pada tahap orientasi, guru menghubungkan tema cerita dengan pengetahuan atau pengalaman peserta didik, misalnya melalui pengamatan gambar awal atau diskusi singkat.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Selanjutnya, guru menyampaikan cerita dengan memperhatikan intonasi, tempo, artikulasi, ekspresi, dan pergantian kartu. Guru dapat berhenti pada bagian tertentu untuk mengajukan pertanyaan seperti, “Apa yang mungkin terjadi berikutnya?” atau “Mengapa tokoh tersebut mengambil keputusan itu?”
Strategi ini memberi ruang bagi peserta didik untuk memprediksi, menafsirkan, dan menguji pemahamannya selama proses pembelajaran berlangsung. Pendekatan tersebut selaras dengan pandangan Vygotsky (1978) mengenai pentingnya interaksi dan dukungan sosial dalam perkembangan belajar.
Pada pembelajaran bahasa Indonesia misalnya, kamishibai dapat digunakan untuk melatih keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis secara terpadu. Setelah mendengarkan cerita, peserta didik dapat diminta mengurutkan kartu, menceritakan kembali isi cerita menggunakan bahasa sendiri, mengidentifikasi tokoh dan latar, atau menuliskan ringkasan cerita. Dalam pembelajaran bahasa asing, guru dapat memilih cerita sederhana dengan kosakata yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Sementara itu, dalam pembelajaran pendidikan Pancasila, cerita dapat mengangkat persoalan musyawarah, tanggung jawab, keadilan, dan kerja sama. Dalam pembelajaran IPAS, cerita tentang siklus air, ekosistem, atau pengelolaan sampah dapat menjadi pengantar untuk mengembangkan pemahaman konsep. Pemanfaatan cerita sebagai konteks pembelajaran memungkinkan peserta didik memahami materi melalui hubungan antarkejadian dan pengalaman yang bermakna (Bruner, 1990).
Strategi implementasi yang lebih partisipatif dapat dilakukan dengan melibatkan peserta didik sebagai pembuat sekaligus pencerita kamishibai. Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dan meminta setiap kelompok memilih tema, menyusun alur, membuat ilustrasi, menulis narasi, serta menampilkan cerita di depan kelas. Peserta didik kemudian memberikan tanggapan terhadap isi cerita, kejelasan penyampaian, kreativitas ilustrasi, dan pesan yang disampaikan. Kegiatan tersebut dapat mengembangkan kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas bersama.
Agar sesuai dengan kurikulum sekolah, guru perlu mengaitkan aktivitas tersebut dengan tujuan pembelajaran dan melakukan diferensiasi berdasarkan kesiapan, minat, serta kebutuhan peserta didik. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, yang mengubah ketentuan kurikulum dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, menjadi salah satu rujukan regulatif dalam merancang pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Evaluasi Efektivitas dan Inovasi Pembelajaran Berbasis Kamishibai
Evaluasi pembelajaran berbasis kamishibai perlu dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan media tersebut benar-benar membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Evaluasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada antusiasme peserta didik atau penilaian bahwa cerita terlihat menarik. Guru perlu menetapkan indikator yang sesuai, misalnya kemampuan menyimak informasi penting, mengurutkan peristiwa, menjelaskan karakter tokoh, menceritakan kembali isi cerita, menggunakan kosakata baru, atau menyampaikan pendapat dengan alasan yang logis.
Pengukuran dapat dilakukan melalui asesmen awal dan akhir, observasi selama kegiatan, tugas individu, hasil karya, serta refleksi peserta didik. Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk menentukan bagian media atau strategi pengajaran yang perlu diperbaiki. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Black dan Wiliam (1998) bahwa asesmen formatif dapat mendukung pembelajaran ketika informasi tentang perkembangan peserta didik digunakan untuk menyesuaikan proses pengajaran.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Selain mengukur hasil belajar, evaluasi kamishibai perlu memperhatikan proses dan pengalaman belajar peserta didik. Guru dapat mengamati tingkat partisipasi, keberanian berbicara, kemampuan bekerja sama, kualitas pertanyaan yang diajukan, dan keterlibatan peserta didik dalam mengembangkan cerita. Rubrik penilaian dapat mencakup ketepatan isi, urutan narasi, kejelasan bahasa, relevansi ilustrasi, kreativitas, dan kemampuan menyampaikan pesan. Penilaian perlu disesuaikan dengan tujuan kegiatan; apabila fokus pembelajaran adalah keterampilan berbicara, misalnya, kemampuan menyampaikan narasi sebaiknya mendapat perhatian lebih besar daripada keindahan gambar.
Guru juga perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya faktor lain yang memengaruhi hasil, seperti pengetahuan awal, kemampuan membaca, pengalaman bercerita, dan dukungan yang diberikan. Klaim bahwa kamishibai meningkatkan hasil belajar perlu didukung oleh bukti yang sesuai, bukan hanya oleh kesan positif selama pembelajaran. Inovasi kamishibai dapat dilakukan melalui integrasi media cetak dan teknologi digital tanpa menghilangkan karakter utama seni bercerita tersebut.
Guru dapat meminta peserta didik membuat ilustrasi menggunakan aplikasi desain, merekam narasi, atau menambahkan kode QR yang menghubungkan kartu dengan materi pendukung. Cerita digital juga dapat diproyeksikan di kelas, tetapi guru perlu memastikan bahwa teknologi memperkaya interaksi dan tidak sekadar mengubah kegiatan bercerita menjadi tontonan pasif.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan melalui kolaborasi antarmata pelajaran, misalnya peserta didik meneliti cerita rakyat dalam pembelajaran bahasa, mengkaji konteks sejarahnya, membuat ilustrasi dalam seni budaya, dan menyampaikan pesan pelestarian lingkungan dalam IPAS.
Mayer (2009) mengingatkan pentingnya merancang perpaduan media secara terarah agar informasi visual dan verbal mendukung pemahaman. Dengan evaluasi yang sistematis, Kamishibai berpotensi menjadi media pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan sekolah, sekaligus membuka ruang bagi penelitian tindakan kelas atau penelitian pengembangan untuk menguji manfaatnya secara lebih terukur.
Pembelajaran menggunakan media Kamishibai menawarkan alternatif pendekatan pedagogis yang memadukan seni bercerita, ilustrasi visual, narasi lisan, dan interaksi antarpeserta didik. Dalam konteks kurikulum sekolah, media ini berpotensi mendukung pengembangan literasi, keterampilan berkomunikasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman nilai-nilai karakter. Pemanfaatannya dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran melalui kegiatan menyimak cerita, mengidentifikasi tokoh dan peristiwa, menyusun alur, menulis narasi, hingga menampilkan cerita secara kolaboratif.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Landasan konstruktivisme, pembelajaran multimodal, dan pemikiran naratif memberikan perspektif teoretis untuk menjelaskan potensi Kamishibai dalam menciptakan pengalaman belajar yang aktif dan bermakna (Vygotsky, 1978; Bruner, 1990; Kress, 2010). Kamishibai tidak hanya dapat dipandang sebagai media untuk menyampaikan cerita, tetapi juga sebagai sarana untuk menghubungkan pengetahuan, pengalaman, bahasa, dan konteks sosial budaya peserta didik.
Keberhasilan penerapan kamishibai dalam pembelajaran bergantung pada kesesuaian cerita dengan tujuan pembelajaran, kualitas ilustrasi dan narasi, kompetensi guru dalam memfasilitasi interaksi, serta keterlibatan aktif peserta didik.
Guru perlu merancang penggunaannya secara sistematis, melakukan asesmen terhadap proses dan hasil belajar, serta menyesuaikan media dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Integrasi teknologi digital dan pengangkatan cerita rakyat maupun kearifan lokal dapat menjadi alternatif inovasi tanpa menghilangkan kekhasan kamishibai sebagai seni bercerita. Potensi pedagogis tersebut tetap perlu diuji melalui penelitian empiris untuk memperoleh bukti yang memadai mengenai pengaruhnya terhadap hasil belajar.
Baca Juga : Dari Bandung, Taruna Ikrar Tegaskan Indonesia Harus Berdaulat dalam Inovasi Farmasi dan Pangan
Ke depan, pengembangan dan penelitian kamishibai di sekolah diharapkan dapat memperkaya pilihan strategi pembelajaran dalam kurikulum, sekaligus mendorong pembelajaran yang lebih komunikatif, kreatif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. (*)
