0%
logo header
Jumat, 17 April 2026 09:31

Program SAKINAH OJK, Tingkatkan Literasi Santri untuk Kesehatan Keuangan dan Raga

Chaerani
Editor : Chaerani
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen, OJK, Dicky Kartikoyono saat menghadiri FEBIS dan SAKINAH, di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, kemarin. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen, OJK, Dicky Kartikoyono saat menghadiri FEBIS dan SAKINAH, di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, kemarin. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya literasi keuangan syariah di kalangan generasi muda, khususnya para santri yang ada diseluruh pondok pesantren.

Penguatan ini dilakukan dengan menganggas program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah atau SAKINAH. Program ini menjadi salah satu langkah strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara finansial, tetapi juga sehat secara fisik dan mental.

“Program SAKINAH ini merupakan inisiatif penting dalam mendorong penguatan literasi keuangan syariah bagi generasi santri,” terang Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam keterangannya, kemarin.

Baca Juga : Keberadaan KDMP Dinilai Akan Perkuat Ekonomi Warga Gowa

Program SAKINAH kali ini menjadi bagian dalam Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Kegiatan ini mengusung tema “Santri Sehat, Keuangan Kuat, Masa Depan Hebat”.

Dalam pelaksanaannya, program ini menghadirkan berbagai materi edukatif, mulai dari pengenalan produk dan layanan keuangan syariah, pengelolaan keuangan yang bijak, hingga kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.

Dicky menegaskan, program SAKINAH tersebut tidak hanya berfokus pada aspek finansial, tetapi juga menekankan pentingnya pemahaman gizi bagi para santri. Edukasi mengenai pola makan sehat menjadi bagian integral dalam membentuk generasi yang sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan.

Baca Juga : Ini Tips dari PLN untuk Hitung Komponen Pembayaran Listrik dan Atur Pola Pemakaian

“Santri diharapkan mampu memahami pentingnya menjaga kesehatan keuangan melalui pengelolaan yang tepat serta pemanfaatan produk dan layanan keuangan syariah,” ujarnya.

Di sisi lain, kesadaran akan pentingnya gizi juga menjadi faktor pendukung dalam menjaga kesehatan jiwa dan raga.

“Dari program ini diharapkan para santri dapat memiliki bekal yang komprehensif, baik dari sisi literasi keuangan maupun kesehatan, sebagai bagian dari perencanaan menuju kesejahteraan di masa depan,” katanya.

Baca Juga : Puluhan Siswa SD Gamaliel Makassar Bergembira di Kids Hotel Adventure Aston

Sebelumnya, Dicky menilai bahwa penguatan ekosistem pesantren akan membantu dalam memperluas akses keuangan syariah.

“Penguatan ekosistem pesantren ini sebagai langkah strategis mendukung program prioritas pemerintah dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, pondok pesantren dengan jumlah santri yang signifikan memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat, serta merupakan ekosistem yang kuat dalam mendukung program prioritas pemerintah.

Baca Juga : Pemkab Gowa Gandeng BPN Percepat Sertifikasi Ribuan Tanah Milik Daerah

“Program pemerintah saat ini tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk generasi ke depan. Ini merupakan sebuah kebersyukuran bagi kita semua ketika memiliki program yang berorientasi jangka panjang seperti ini,” ujarnya.

Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), bahkan sejak dini. Di saat yang sama, program ini juga membuka peluang ekonomi yang luas.

Ia menjelaskan, ekosistem yang ada, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan, dapat menjadi bagian dari rantai pasok yang mendukung program ini. Masyarakat di sekitar pesantren dapat berperan sebagai pemasok kebutuhan, sehingga tercipta perputaran ekonomi yang kuat.

Baca Juga : Pemkab Gowa Gandeng BPN Percepat Sertifikasi Ribuan Tanah Milik Daerah

“OJK tidak hanya hadir sebagai regulator, namun juga berperan sebagai katalis, yang mempercepat dan menghubungkan, serta sebagai fasilitator yang membuka akses dan membangun pemahaman. Peran ini diwujudkan melalui program yang langsung menyentuh kebutuhan di lapangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa melalui FEBIS, pelaku usaha tidak hanya dikenalkan pada alternatif pembiayaan syariah, tetapi juga dipertemukan langsung dengan lembaga jasa keuangan melalui business matching, sehingga terbuka peluang nyata untuk memperoleh pembiayaan.

Menutup sambutannya, Dicky menegaskan bahwa penguatan ekosistem pesantren membutuhkan kolaborasi bersama antara pemerintah, regulator, industri jasa keuangan, pesantren, dan masyarakat.

Baca Juga : Pemkab Gowa Gandeng BPN Percepat Sertifikasi Ribuan Tanah Milik Daerah

Sementara, Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, mengatakan bahwa program MBG merupakan salah satu program pemerintah yang berguna bagi masyarakat sekarang dan di masa mendatang.

“Program ini menyasar kelompok rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta peserta didik, termasuk para santri. Pemerintah ingin memastikan bahwa bahkan sejak dalam kandungan, generasi penerus bangsa sudah mendapatkan asupan gizi yang baik,” katanya.

Menurutnya, program ini juga melibatkan jutaan relawan, khususnya dari kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646