0%
logo header
Rabu, 03 November 2021 20:03

Tingkatkan Imunitasnya, Ikan pun Perlu “Jamu”

admin
Editor : admin
Budidaya Ikan Nila yang cukup memberikan harapan.
Budidaya Ikan Nila yang cukup memberikan harapan.

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kampanye “say no to antibiotic” telah cukup lama dicanangkan oleh “Food and Agriculture Organization” (FAO) – badan PBB utusan pangan — menyusul maraknya kasus “antibiotic resistance” (resisten antibiotik). Padahal, pembudidaya membutuhkan obat-obatan untuk mengobati ikan atau udang mereka yang sakit selama masa budidaya.

Menyikapi hal ini, Prof. Yushinta Fujaya bersama Tim Dosen dan mahasiswa Budi Daya Perikanan (BDP) Unhas mengembangkan formula herbal yang dinamai VITOMOLT PLUS. Herbal ini untuk menstimulasi imunitas dan kesehatan ikan, sekaligus menjadi antibiotik alami dan perangsang pertumbuhan.

Prof Yushinta dan tim menggunakan berbagai tanaman herbal yang banyak tumbuh di sekitar Sulawesi Selatan. Tmbuhan itulah yang kemudian  diracik menjadi obat sekaligus suplemen untuk ikan, udang, dan kepiting. Salah satu komoditas yang saat ini berkembang pesat adalah ikan nila.

Baca Juga : Beredar Pamflet KLB PC PMII Baubau, Ketua Komsat PMII UMB: Itu Mengada-ngada

“Ikan nila saat ini semakin digemari karena disamping harganya terjangkau oleh masyarakat kebanyakan, juga tidak memiliki duri yang banyak. Bau badan yang biasanya mengganggu juga sudah dapat dihilangkan. Kemampun beranak pada usia muda juga sudah dapat dikurangi,” ujar Prof.Yushinta kepada republiknews.co.id, Rabu (03/11/2021).

Teknologi budidaya yang berkembang dewasa ini telah berhasil mengatasi berbagai masalah yang sering dihadapi pembudidaya. Misalnya, teknologi penyediaan induk dan benih unggul, teknologi probiotik, dan teknologi herbal.

Meskipun tidak banyak disebut-sebut, imbuh Yushinta, ikan nila merupakan produk ekspor unggulan Indonesia. Indonesia menempati peringkat kedua pengekspor ikan nila di dunia, setelah China. Sentra budidaya ikan nila di Indonesia antara lain Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara.  Badan Pusat Statistik (2020) mencatat Nilai ekspor nila Indonesia pada tahun 2020 tercatat sebesar USD 78.473 dengan volume 12.288 ton.

Baca Juga : Tembus ke Pelatnas Bulutangkis, Reza dan Sofy Harumkan Nama Sulsel

Dalam beberapa tahun terakhir, pembudidaya ikan di Sulawesi Selatan juga mulai gencar membudidayakan ikan nila. Namun, beberapa kendala yang dihadapi pembudidaya seperti yang diungkapkan oleh pak Kahar, salah seorang pengumpul ikan nila di Kabupaten Pangkep adalah pembudidaya kerap gagal memanen ikannya.  Masalah dalam proses produksi adalah ikan nila yang dipelihara lambat besar. Akibatnya jumlah pakan yang diberikan lebih banyak sehingga pembudidaya terancam merugi. Selain itu, juga terjadi tingkat kematian yang tinggi terutama pada musim kemarau.

Prof.DR.Yushinta Fujaya.

Melalui kegiatan program kemitraan masyarakat yang disponsori oleh BRIN 2021, Prof Yushinta dan tim melakukan pendampingan budidaya ikan nila di Kabupaten Pangkep menggunakan teknologi herbal yang telah dikembangkan.

Hasilnya sungguh sangat menggembirakan.  Daeng Ahmad untuk pertama kalinya berhasil melakukan panen ikan nila di tambaknya berukuran 1 ha sebanyak 3 ton ikan nila dan 1 ton udang vanamei untuk masa pemeliharaan 3,5 bulan.  Ukuran rata-rata ikan 2,3,4 ekor per kg dengan FCR 0,5.

Baca Juga : Jokowi Dijadwalkan Hadiri Peringatan HPN di Sultra, LLKS PMII Sultra Bakal Suarakan Masalah Lingkungan

“Semoga teknologi ini dapat berkontribusi dalam memajukan akuakultur di Indonesia dan terutama berkontribusi dalam meningkatkan produksi dan kesejahteraan pembudidaya,” ujar Yushinta, kemudian berkata, teruslah berinovasi dan berani mencoba metode baru yang lebih baik, efektif, dan efisien, untuk pembangunan akuakultur berkelanjutan. (M. Dahlan Abubakar)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 852-9999-3998
Baca Juga