REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Angkatan Muda Syekh Yusuf Al-Makassari (AMSY) mengagas pertemuan dengan tokoh pemuda dan unsur masyarakat lainnya untuk membahas ke-tokohan Syekh Yusuf Al-Makassari.
Seorang pahlawan nasional asal Kabupaten Gowa yang juga digelar Taunta Salamaka ini dibahas melalui Dialog Kebudayaan bertajuk “Spirit Patriotisme Lintas Zaman Hidupkan Kembali Syekh Yusuf”. Kegiatan berlangsung di Museum Balla Lompoa, Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Sungguminasa.
Dialog kebudayaan ini menjadi rangkaian Halal bi Halal yang dilaksanakan AMSY bekerjasama Merial Institute. Selain itu menjadi bentuk peringatan 400 tahun Syekh Yusuf dan UNESCO Anniversary.
Baca Juga : Rintis Rumah Koran di Dataran Tinggi, Jamaluddin Kantongi Penghargaan Kalpataru 2026
Ketua AMSY sekaligus Founder Merial Institute, Arief Rosyid Hasan mengungkapkan, latar belakang pertemuan ini digelar karena keprihatinannya melihat banyaknya tokoh pemuda yang belum mengenal ke-tokohan Syekh Yusuf.
Termasuk, secara pemikiran dan sifat patriotismenya yang memberikan dampak luar biasa bagi Indonesia hingga dunia. Apalagi, semangat ini juga menjadi landasan awal dibentuknya AMSY pada 2025 lalu.
“Setelah melakukan ziarah ke makamnya di Cape Twon di 2028 lalu saya melihat meskipun Syekh Yusuf punya nama besar tapi banyak generasi muda kita yang mengenalnya hanya sekadar nama lapangan jogging, masjid, atau juga nama rumah sakit. Tidak banyak yang mendalami pemikirannya, dan apa yang telah diperjuangkan,” terangnya, dalam kegiatan, Rabu, (25/03/2026).
Baca Juga : Seminar Budaya di Museum Balla Lompoa, Dorong Kecintaan Generasi Muda Terhadap Kearifan Lokal
Lanjutnya, dengan adanya pertemuan tersebut muncul berbagai pengetahuan baru. Misalnya, Syekh Yusuf adalah tokoh yang lahir dalam suasana yang sangat meritokratis di Sulawesi Selatan atau di Sulawesi.
“Jadi, Syekh Yusuf ini ada dua perdebatan kan, ada yang dia bilang anaknya Raja, ada juga yang bilang sebenarnya bukan. Tapi dari situ kelihatan bahwa seorang Syekh Yusuf ini akhirnya merantau ke mana-mana, lahir dan dia menjadi pejuang di berbagai tempat,” jelas Arief.
Sehingga, sebenarnya di Sulawesi ini selalu melahirkan banyak tokoh-tokoh besar, tapi dalam suasana yang meritokratis. Kemudian menjadi semacam refleksi untuk anak-anak muda di Sulawesi Selatan agar tidak berkecil hati, meskipun ada perbedaan secara strata sosial atau lainnya.
Baca Juga : Ketua DPRD Sulsel Perkuat Integritas dan Budaya Anti Korupsi Lewat Pelatihan PAKU Integritas 2026 KPK
“Anak-anak muda di Sulsel meskipun tidak punya nama belakang terpandang harus juga bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dengan pengetahuannya, bahwa dia adalah calon pemimpin di masa yang akan datang. Sehingga meruntuhkan image bahwa di Sulsel ini yang bisa memimpin itu hanya orang yang punya nama belakang. Karena minta maaf, banyak juga yang punya nama belakang tapi tidak punya kompetensi dalam memimpin,” tegasnya.
Kemudian, dalam forum tersebut juga disebutkan bahwa ternyata Syekh Yusuf merupakan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM), serta pribadi yang sangat jujur. Sehingga menjadi bahan refleksi agar kita dapat melahirkan generasi muda yang lebih bermoral, jujur dan memiliki keteguhan hati, terutama saat menjadi seorang pemimpin.
“Kita kan lihat yang terjadi di Sulsel saat ini, ada tiga gubernur itu kan kena musibah (korupsi). Ini karena seruan soal moral bagaimana pemimpin Sulsel itu harus jujur, harus punya keteguhan hati terhadap kekuasaan, dan tidak silau terhadap harta dan segala macam itu belum kuat,” terang mantan Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ini.
Baca Juga : Pemkab Gowa Dorong Tanggung Jawab Bersama Lindungi Data Pribadi Warga
Kedepan melalui gerakan AMSY, pihaknya akan mendorong penguatan literasi terkait ke-tokohan Syekh Yusuf agar lebih massif. Bagaimana karakter Syekh Yusuf sebagai pribadi jujur, bagaimana dia tidak silau terhadap kekuasaan, bagaimana perlawanan terhadap kaum mustad’afin akan selalu dihadirkan. Termasuk juga pada kegiatan-kegiatan sosialnya.
“Kita akan membangun terus narasi-narasi yang positif bagaimana legasi Syekh Yusuf ini tadi tentang keilmuan, tentang sistem yang meritokratis, tentang perjuangan terhadap HAM. Jadi saya kira diskusi-diskusi seperti ini menjadi sangat fundamental dan itu yang akan terus kami suarakan sebagai kontekstualisasi dari apa yang sudah dilakukan oleh Syekh Yusuf Al-Makassari,” ungkapnya.
Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa, Ary Mahdin Asfari mengatakan, nilai-nilai patriotisme yang dikembangkan oleh Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ini sangat begitu besar. Syekh Yusuf yang lahir di Kabupaten Gowa, berjuang bersama kita semua, baik dalam segi agama, dalam segi perjuangan melawan Belanda.
Baca Juga : Pemkab Gowa Dorong Tanggung Jawab Bersama Lindungi Data Pribadi Warga
“Dan alhamdulillah, kita yang sekarang ini bisa menikmati apa yang kita rasakan. Alhamdulillah, Tuanta Salamaka Syekh Yusuf mendapatkan gelar pahlawan dari Bapak Presiden kedua, Soeharto, di tahun 1995. Dan orang tua kita ini juga mendapatkan apresiasi yang sama di Afrika sebagai pahlawan di negara tersebut. Jadi dua negara mengakui keberadaan beliau sebagai syiar Islam,” jelasnya.
“Kami berharap mudah-mudahan dialog-dialog seperti ini bisa berjalan terus-menerus, terkhusus di Kabupaten Gowa. Kenapa hal ini penting? Karena Gowa ini merupakan kabupaten beradab, yang mana ada berbagai tempat-tempat wisata budaya yang harus kita angkat,” katanya.
Seperti, mulai dari Makam Syekh Yusuf, Balla Lompoa, Museum Balla Lompoa, dan Bungung Lompoa ri Bajeng. Ini yang harus diangkat terus.
Baca Juga : Pemkab Gowa Dorong Tanggung Jawab Bersama Lindungi Data Pribadi Warga
“Ini yang harus kita sampaikan ke anak cucu kita, jangan sampai putus di era-eranya kita dengan keasyikan kita dengan gadget-gadget kita sehingga terkikis kita punya nilai-nilai budaya yang ada,” tutupnya.
