REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Transformasi digital di dunia pendidikan tidak cukup hanya dengan memindahkan buku ke layar atau mengganti lembar kerja dengan dokumen digital. Lebih jauh, teknologi dituntut mampu mengubah cara guru merancang pengalaman belajar agar lebih interaktif, kontekstual, kolaboratif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Semangat itulah yang dibawa Universitas Megarezky melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tahun Pendanaan 2026. Melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim Universitas Megarezky menggelar workshop bertajuk “Pendampingan Pengembangan Modul Ajar Sosiologi Berbasis LMS dan QR Code sebagai Inovasi Pembelajaran Berdampak di SMA” di SMA Amanah Nusantara Makassar, 7–8 Agustus 2026.
Program tersebut didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Baca Juga : Beri Kontribusi Ekonomi, Perputaran Uang di MHM 2026 Tembus Rp52,3 Miliar
Dua hari pelaksanaan workshop tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga praktik dan pendampingan. Guru diajak melihat bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari strategi pembelajaran, bukan sekadar pelengkap di ruang kelas.
Dari Konsep Sosiologi ke Realitas Digital
Tim PkM Universitas Megarezky terdiri atas Hasanudin Kasim, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua, bersama Andi Alviadi Nur Risal, S.Pd., M.T. dan Dr. Sriwahyuni, S.Sos., M.Pd. sebagai anggota.
Kombinasi kompetensi pendidikan Sosiologi dan teknologi informasi menjadi salah satu kekuatan dalam kegiatan tersebut. Pendampingan dirancang agar aspek pedagogis dan pemanfaatan teknologi tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan.
Baca Juga : Upaya KALLA Jaga Biodiversitas Pesisir, Aksi Mangrove Lestari Raih Gold ISRA 2026
Workshop menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda. Mereka adalah Dr. Jalal, M.Pd., akademisi Pendidikan Sosiologi sekaligus pengajar Program Pascasarjana Universitas Megarezky; Herwin, S.Pd., guru Matematika dan Informatika SMP Negeri 2 Parigi, Kabupaten Gowa; serta Deddy Yusuf, S.Kom., praktisi teknologi informasi Universitas Megarezky.
Pada sesi pertama, Dr. Jalal membahas “Transformasi Pembelajaran Berdampak melalui Pengembangan Modul Ajar Sosiologi Berbasis Digital.”
Ia mengajak peserta melihat transformasi digital secara lebih luas. Digitalisasi pembelajaran, dalam konteks ini, bukan sekadar mengubah materi cetak menjadi file digital, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan bermakna.
Baca Juga : Kalla Land & Property Raih Penghargaan Corporate Entrepreneurial Marketing Award 2026
Khusus dalam pembelajaran Sosiologi, pendekatan tersebut menjadi relevan karena materi pelajaran sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Fenomena sosial di lingkungan sekitar peserta didik, misalnya, dapat dihubungkan dengan konsep-konsep Sosiologi melalui materi digital, aktivitas pembelajaran, sumber belajar, hingga tugas yang mendorong siswa melakukan pengamatan dan berpikir kritis.
Dengan demikian, kelas tidak berhenti pada hafalan konsep, tetapi bergerak menuju pembelajaran yang mengajak siswa memahami realitas sosial di sekitarnya.
QR Code Jadi Jembatan Menuju Sumber Belajar
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Teknologi sederhana seperti QR Code juga diperkenalkan dalam workshop tersebut.
Herwin, S.Pd. membawakan materi “Aplikasi QR Code dalam Manajemen Materi dan Tugas Murid Integrasi dengan LMS Odoo.”
Melalui pendekatan ini, QR Code dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk menuju berbagai sumber belajar digital. Guru dapat menghubungkan kode tersebut dengan video pembelajaran, dokumen, tautan aktivitas, maupun materi pendukung lainnya.
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Penggunaan QR Code juga membuka peluang bagi guru untuk membuat proses pembelajaran lebih praktis. Peserta didik tidak harus mencari sumber belajar secara manual karena akses dapat diarahkan melalui satu kode yang tersedia pada modul atau aktivitas pembelajaran.
Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan Learning Management System (LMS) Odoo, sehingga pengelolaan materi dan tugas dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
Guru Tak Hanya Mendengar, tetapi Langsung Praktik
Hari kedua workshop diarahkan pada praktik teknis. Deddy Yusuf, S.Kom. memberikan pendampingan melalui materi “Pengembangan Media Ajar Sosiologi Berbasis LMS Odoo.”
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Para guru tidak hanya menerima penjelasan, tetapi langsung berlatih mengelola konten, menyusun materi, mengorganisasikan aktivitas, serta memanfaatkan berbagai fitur LMS sesuai kebutuhan pembelajaran Sosiologi.
Pola pendampingan seperti ini membuat workshop tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Guru didorong menghasilkan dan mengembangkan media pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan guru sebagai aktor utama perubahan. Teknologi hanyalah alat; keberhasilan transformasi pembelajaran tetap bergantung pada bagaimana guru merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Kolaborasi Kampus dan Sekolah untuk Ekosistem Pembelajaran Digital
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih jauh dalam mendampingi sekolah menghadapi perubahan ekosistem pendidikan.
Universitas, guru, praktisi teknologi, dan sekolah dipertemukan dalam satu ruang untuk membahas kebutuhan pembelajaran sekaligus mencari pendekatan yang dapat diterapkan secara nyata.
Kepala SMA Amanah Nusantara Makassar, Muhammad Arsyad, S.Pd., Gr., menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi perkembangan pembelajaran berbasis teknologi.
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Menurutnya, pendampingan memberikan pengalaman praktis kepada guru dalam mengembangkan modul ajar, memanfaatkan LMS Odoo, serta mengintegrasikan QR Code ke dalam pembelajaran.
“Kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi transformasi pembelajaran digital. Pendampingan memberikan pengalaman praktis dalam mengembangkan modul ajar, memanfaatkan LMS Odoo, dan mengintegrasikan QR Code,” ujar Muhammad Arsyad.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sehingga pemanfaatan teknologi tidak berhenti setelah workshop selesai, tetapi benar-benar berkembang menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah.
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Harapan tersebut sejalan dengan tujuan program PkM Universitas Megarezky yang mendorong agar pendampingan tidak berhenti pada kegiatan dua hari. Pengembangan media dan modul pembelajaran digital diharapkan terus diterapkan serta disesuaikan dengan kebutuhan guru dan peserta didik.
Pada akhirnya, transformasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Bisa saja dimulai dari sebuah modul yang dirancang lebih menarik, satu QR Code yang menghubungkan siswa dengan sumber belajar, atau satu platform yang membantu guru mengelola aktivitas kelas dengan lebih terstruktur.
Melalui semangat “Kolaborasi, Inovasi, Edukasi, Berdampak”, workshop tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pembelajaran Sosiologi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman—tanpa kehilangan konteks sosial yang menjadi ruh utama mata pelajaran tersebut.
Baca Juga : Hasil Sertifikasi SMK3 PLN UIP Sulawesi Berpredikat Memuaskan, Raih 90,36 Persen
Bagi guru, teknologi bukan pengganti peran pendidik. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi ruang baru untuk memperluas cara guru mengajar dan membuka lebih banyak jalan bagi peserta didik untuk belajar.
