REPUBLIKNEWS.CO.ID, LUWU — Bagi masyarakat Desa Balla, musim tanam bukan sekadar penanda dimulainya aktivitas di sawah. Ada tradisi yang terlebih dahulu dijalankan untuk memastikan para petani melangkah dalam irama yang sama. Setahun sekali, menjelang turun sawah, masyarakat berkumpul dalam acara “Tudang Sipulung”, sebuah tradisi yang menjadi ruang silaturahmi sekaligus tempat menyatukan persepsi sebelum musim tanam dimulai.
Tudang Sipulung secara sederhana berarti duduk bersama. Namun, bagi para petani Balla, pertemuan ini memiliki makna yang jauh lebih luas. Di tengah hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan, mereka membicarakan berbagai hal yang menentukan perjalanan satu musim tanam, mulai dari kapan lahan mulai diolah hingga bagaimana memastikan kebutuhan air dapat terpenuhi secara adil.
Ketua Fordes Matappa Desa Balla sekaligus Tokoh Petani, Hendra, mengatakan Tudang Sipulung menjadi momentum penting untuk mempertemukan para petani dan membangun kesepahaman sebelum aktivitas pertanian dimulai.
Baca Juga : Aktivitas Tambang Ilegal di DAS Suso Disorot, Komisi D DPRD Sulsel Turun ke Luwu
“Tudang Sipulung ini menjadi ruang untuk menyatukan persepsi petani sebelum turun sawah, supaya apa yang kita lakukan bisa berjalan bersama,” ujarnya, saat dimintai keterangan, Rabu, (30/09).
Salah satu pembahasan utama adalah menentukan waktu tanam. Para petani menyepakati kapan pengolahan tanah dimulai, kapan benih ditabur, hingga waktu yang dinilai tepat untuk memasuki tahapan berikutnya. Kesepakatan tersebut penting agar aktivitas pertanian dapat berlangsung lebih serempak dan pengelolaan sumber daya menjadi lebih teratur.
Bagi Hendra, duduk bersama sebelum musim tanam juga menjadi cara untuk membaca berbagai persoalan yang mungkin muncul di lapangan. Ketersediaan air menjadi salah satu perhatian utama. Pembagian air irigasi, termasuk jadwal penggunaan pompa, dibicarakan agar kebutuhan setiap petani dapat diatur.
Baca Juga : Fordes Matappa Gerakkan Kepedulian, Dari Menyiram Jalan hingga Membagikan Masker
“Kami membicarakan waktu tanam, pembagian air, kebutuhan pupuk dan bibit, termasuk bagaimana mengantisipasi hama dan penyakit tanaman,” katanya.
Pembahasan kemudian meluas pada kebutuhan produksi lainnya, mulai dari pupuk hingga bibit. Para petani dapat mengidentifikasi kebutuhan sejak awal sehingga persiapan tidak dilakukan secara terburu-buru. Begitu pula dengan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang menjadi bagian penting dari antisipasi untuk menjaga produktivitas sawah.
Kepala Desa Balla, Baso Jima, melihat Tudang Sipulung sebagai bagian dari kearifan lokal yang masih relevan dengan kebutuhan pertanian hari ini. Tradisi tersebut mempertemukan pemerintah desa dan petani dalam satu ruang komunikasi untuk membicarakan kepentingan bersama.
Baca Juga : KWLT Soroti Degradasi Demonstrasi: Dari Aspirasi Publik Menjadi Alat Tekanan
“Tudang Sipulung bukan hanya soal pertanian, tetapi juga menjaga kebersamaan dan komunikasi antarpetani,” ujarnya.
Di tengah perubahan kondisi pertanian dan berbagai tantangan yang dihadapi petani, Tudang Sipulung memperlihatkan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, ia berawal dari kebiasaan sederhana: duduk bersama, mendengar satu sama lain, kemudian menyepakati langkah yang akan dijalankan bersama. Tradisi menjadi jembatan antara pengetahuan yang diwariskan dan kebutuhan pertanian yang terus berkembang.
Pada akhirnya, Tudang Sipulung di Desa Balla bukan sekadar agenda tahunan sebelum sawah kembali digarap. Ia adalah cara masyarakat menjaga kebersamaan sekaligus mengelola kepentingan bersama. Ketika musim tanam dimulai, yang bergerak bukan hanya tangan para petani mengolah tanah, tetapi juga sebuah kesepakatan kolektif untuk menjaga air, tanaman, dan harapan atas panen yang akan datang. (*)
Baca Juga : Serap Aspirasi Warga, Fordes Kawal Bantuan Pipa Air Bersih di Saronda
