REPUBLIKNEWS.CO.ID, LUWU — Harapan baru dari lahan pertanian warga mulai terlihat di Lekopini, Desa Bonelemo. Tongkol-tongkol jagung pakan jenis Sumo Sakti yang kini siap dipanen menjadi penanda bahwa komoditas baru bisa tumbuh ketika petani diberi ruang untuk mencoba.
Salah satu yang merasakan langsung hasilnya adalah Kurnia, petani perempuan di Lekopini. Beberapa bulan sebelumnya, ia untuk pertama kalinya menanam jagung pakan Sumo Sakti di lahan yang selama ini dikelolanya.
Kini, hasilnya mulai terlihat.
Baca Juga : Menanam Kembali Harapan dari Kebun Kopi Ulusalu
Bagi Kurnia, panen tersebut bukan sekadar aktivitas memetik jagung. Ada pengalaman baru yang memberinya gambaran tentang peluang lain dari lahan pertanian yang dimilikinya.
“Awalnya kami coba tanam dulu. Setelah melihat pertumbuhannya sampai panen, hasilnya cukup bagus. Mudah-mudahan bisa terus dikembangkan,” kata Kurnia, Sabtu (15/8/2026).
Jagung Sumo Sakti tersebut dikembangkan melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Masmindo Dwi Area. Di tingkat desa, program ini dilaksanakan bersama Pemerintah Desa Bonelemo dan Forum Desa Matappa.
Baca Juga : Sambut HUT ke-81 RI, FORDES Matappa Gelar Kerja Bakti Serentak di 20 Desa dan Kelurahan
Panen di lahan Kurnia sekaligus menjadi bagian dari pengambilan sampel untuk melihat produktivitas tanaman. Hasil dari lahan Kurnia dan sejumlah petani lainnya menunjukkan potensi yang cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai jagung pakan.
Bagi masyarakat, angka produksi tentu menjadi penting. Namun, yang tak kalah penting adalah pengalaman langsung petani. Sebab, keputusan untuk mengembangkan sebuah komoditas tidak cukup hanya berdasarkan teori atau sosialisasi. Petani perlu melihat sendiri bagaimana benih tumbuh, bagaimana tanaman dirawat, hingga seperti apa hasil yang bisa dibawa pulang.
Ketua Forum Desa Matappa, H. Maming, mengatakan panen tersebut memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menilai sendiri potensi tanaman yang dikembangkan.
Baca Juga : Tim FORDES MATAPPA Bonelemo Cepat Tanggap Padamkan Kebakaran Lahan
“Kalau masyarakat sudah melihat hasilnya secara langsung, tentu lebih mudah untuk menentukan apakah tanaman ini bisa dikembangkan lebih luas. Harapannya, hasil panen seperti ini bisa menjadi awal yang baik bagi petani,” ujarnya.
Kepala Desa Bonelemo, Salma, juga mendorong agar pengalaman dari lahan Kurnia tidak berhenti pada satu kali panen.
Menurutnya, pengembangan pertanian membutuhkan proses. Masyarakat perlu diberi kesempatan untuk mencoba, melihat hasilnya, mengevaluasi, kemudian menentukan apakah komoditas tersebut layak dikembangkan dalam skala yang lebih luas.
Baca Juga : Aspirasi Warga Ditindaklanjuti, MDA dan Dishub Luwu Pasang Imbauan Keselamatan di Tiga Desa
Di Lekopini, jagung yang dipanen itu akhirnya membawa pesan yang lebih besar dari sekadar hasil produksi.
Dari satu lahan milik Kurnia, masyarakat mulai melihat kemungkinan baru: bahwa lahan yang selama ini mereka kelola masih memiliki ruang untuk menghasilkan lebih banyak melalui komoditas yang berbeda.
Jawabannya memang belum selesai. Tetapi panen Sumo Sakti kali ini setidaknya memberi satu bukti awal—bahwa harapan terhadap pengembangan jagung pakan di Bonelemo bukan lagi sekadar wacana. Ia sudah mulai tumbuh dari tanah petani sendiri. (*)
Baca Juga : Aspirasi Warga Ditindaklanjuti, MDA dan Dishub Luwu Pasang Imbauan Keselamatan di Tiga Desa