REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, Moch. Muchlasin menaruh harapan besar agar pelaksanaan Financial Expo (FIN Expo) 2026 menjadi wadah dalam memperkuat pemahaman masyarakat tentang layanan dan produk jasa keuangan.
Hal ini dengan melihat adanya kesenjangan (gap) yang terjadi antara literasi dan inklusi keuangan masyarakat berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
“Saya ingin menyampaikan mengapa urgensi edukasi keuangan ini menjadi sedemikian penting, tadi sempat disinggung bahwa hasil SNLIK menunjukkan tingkat literasi keuangan nasional jauh lebih rendah jika dibandingkan inklusi keuangannya,” ujar Muchlasin, dalam pelaksanaan FIN Expo 2026 bertajuk “Akses Keuangan yang Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera”, di Atrium Trans Studio Mal (TSM) Makassar, kemarin.
Baca Juga : MUSDALUB DPD SP PLN UIP Sulawesi Perkuat Regenerasi dan Soliditas Serikat Pekerja
Ia menjelaskan, secara data literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, sementara untuk inklusi keuangannya sebesar 93,61%.
“Artinya antara orang yang tahu dengan orang yang menggunakan layanan atau produk keuangan itu adalah selisih antara orang yang sudah punya rekening atau memiliki rekening karena dibukakan. Baik itu karena ada bantuan sosial atau lainnya. Sementara yang paham itu hanya kurang lebih 70%,” tambahnya.
Lanjutnya, khusus di wilayah Sulawesi Selatan angkanya jauh lebih tinggi. Dimana, tingkat literasi keuangan tercatat 61%, sedangkan tingkat inklusi keuangannya 94%. Dengan kesenjangan tersebut terlihat bahwa masyarakat Sulawesi Selatan sudah menggunakan layanan atau produk jasa keuangan, tetap tidak memahami secara baik.
Baca Juga : 36 Sekolah Sepak Bola di Enam Provinsi Berlaga di Superco Superfest Makassar
“Tingkat literasi keuangan kita di Sulawesi Selatan itu 61%, jadi lebih rendah 8%. Sementara tingkat inklusinya 94%, jadi kurang lebih ada 33% masyarakat Sulawesi Selatan yang sudah menggunakan jasa keuangan, tapi tidak memahami. Untuk itu tentunya kita berusaha agar gap ini bisa dikurangi dengan cara kegiatan seperti ini,” harap Muchlasin.
Sementara, Ketua Panitia Pelaksana FIN Expo 2026 yang juga Regional CEO Office 15 Makassar, Riza Pahlevi mengatakan, hasil SNLIK 2026 mencatat sebesar 93,61% masyarakat Indonesia telah menggunakan produk dan atau layanan jasa keuangan formal diberbagai industri keuangan. Kondisi ini meningkat sebesar 0,87 persen dari hasil SNLIK 2025 sebesar 92,31 persen.
Namun demikian, masih terdapat gap terhadap target RPJPN sebesar 4,39 persen yang menjadi target di 2045 mendatang. Sehingga, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan masyarakat masih perlu ditingkatkan melalui kolaborasi lintas stakeholder.
Baca Juga : Semangat Hari Kesaktian Pancasila, YBM PLN Hadirkan Terang dan Kepedulian bagi Masyarakat Sulselrabar
“Dari upaya ini diharapkan dapat semakin mendorong penggunaan produk dan atau layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat di Sulawesi Selatan,” katanya.
Lanjutnya, ke depan pihaknya berharap Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Sulawesi Selatan dapat terus memperkuat semangat kolaborasi dan sinergi. Sehingga berbagi program yang dilaksanakan dapat memberikan dampak yang semakin luas bagi masyarakat.
“Mari menjadikan FIN Expo 2026 ini sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa industri jasa keuangan hadir, tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Mari memperkuat literasi, memperkuat kepercayaan, serta memberikan pelayanan dan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tegas Riza.
Baca Juga : Wagub Sulsel Ajak Warga Kenali Layanan dan Produk Keuangan Legal di FIN Expo OJK Sulselbar
Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi menambahkan, adanya gap yang terjadi harus menjadi perhatian seluruh pihak, termasuk pemerintah untuk ambil bagian dalam memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat dalam mengenal layanan dan produk keuangan.
“Kita harus highligt bersama bahwa masih ada 33 persen masyarakat kita belum paham, belum tahu soal literasi keuangan. Sehingga ini harus lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat kita, agar masyarakat kita melihat literasi keuangan secara bijak dan sesuai kebutuhannya,” tegasnya.
