REPUBLIKNEWS.CO.ID, BULUKUMBA – Program Studi Manajemen dan Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar (FEB UNM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Balleanging, Kabupaten Bulukumba, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai langkah awal memetakan potensi, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
Pemetaan tersebut dilakukan agar program pendampingan yang akan dilaksanakan oleh tim dosen FEB UNM benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan pendekatan partisipatif, pelaku UMKM diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, hambatan, serta harapan mereka terhadap pengembangan usaha yang dijalankan.
Baca Juga : Komisi V DPR RI Dorong Penambahan Anggaran Pelayaran 3T
Dalam pelaksanaan FGD, peserta dibagi ke dalam empat kelompok yang didampingi oleh dosen sesuai bidang keahliannya, yakni Manajemen Pemasaran, Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), dan Manajemen Keuangan.
Diskusi berlangsung aktif dengan membahas berbagai isu strategis, mulai dari penguatan merek (branding), pengemasan produk (packaging), pemasaran digital, pengelolaan keuangan, akses permodalan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Seluruh hasil diskusi kemudian dipresentasikan sebagai dasar penyusunan program pendampingan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Program Studi Manajemen FEB UNM, Dr Anwar, Kepala Desa Balleanging, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bulukumba.
Baca Juga : Jejak Teruji, Petahana Hasrul Hasan Kembali Terpilih Jadi Komisioner KPI Pusat Periode 2026-2029
Dalam sambutannya, Dr Anwar menegaskan bahwa kehadiran tim dosen bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi merupakan bentuk nyata kepedulian perguruan tinggi terhadap pengembangan ekonomi masyarakat.
“Kami hadir bukan sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi ingin memberikan solusi yang dapat membantu UMKM berkembang. Kita mungkin berjauhan secara geografis, tetapi semangat kolaborasi membuat kita tetap dekat,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan FEB UNM, Prof Dr Basri Bado, menyampaikan bahwa kontribusi terbesar perguruan tinggi kepada masyarakat tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga transfer pengetahuan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Modal yang kami bawa bukanlah bantuan dalam bentuk materi, melainkan ilmu pengetahuan yang diharapkan mampu memperkuat kapasitas pelaku UMKM sehingga usaha mereka semakin berkembang dan berdaya saing,” tuturnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para pelaku UMKM aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sekaligus berdiskusi mengenai solusi yang dapat diterapkan.
Sejumlah peserta mengaku memperoleh wawasan baru, khususnya terkait strategi pemasaran digital, pengelolaan keuangan usaha, serta pentingnya membangun identitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Baca Juga : Tokoh Turatea Ramai-ramai Dukung Alimuddin Kembali Nakhodai PP KKT Jeneponto
Melalui kegiatan ini, Program Studi Manajemen dan Program Studi Kewirausahaan FEB UNM berharap dapat memperkuat sinergi dengan pemerintah desa, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengembangkan UMKM berbasis potensi lokal.
Pendampingan yang dilakukan diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan FGD, tetapi berlanjut melalui berbagai program pelatihan, konsultasi, dan pembinaan yang berkesinambungan.
Kegiatan ini menjadi bukti konkret kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca Juga : Tokoh Turatea Ramai-ramai Dukung Alimuddin Kembali Nakhodai PP KKT Jeneponto
Dengan pendampingan yang terarah, UMKM Desa Balleanging diharapkan mampu menjadi usaha yang lebih inovatif, adaptif, dan kompetitif sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bulukumba. (*)
