REPUBLIKNEWS.CO.ID, TAKALAR – Pembelajaran Geografi di SMA Negeri 3 Takalar mulai diarahkan pada pemanfaatan teknologi pemetaan digital melalui penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone. Inovasi tersebut dikembangkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang pendanaannya didukung melalui dana PNBP Universitas Negeri Makassar Tahun 2026.
Kegiatan PKM ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam memanfaatkan teknologi geospasial untuk pembelajaran pemetaan dan penginderaan jauh.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai respons terhadap masih terbatasnya pemanfaatan teknologi pemetaan modern dalam pembelajaran Geografi. Materi pemetaan dan penginderaan jauh yang selama ini banyak disampaikan melalui pendekatan konvensional dinilai membutuhkan media yang lebih visual dan memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada peserta didik.
Baca Juga : Hengkang atau Bertahan, Masa Depan Appi di Golkar Kini di Persimpangan Jalan
Melalui program tersebut, guru dan siswa diperkenalkan pada proses pemetaan menggunakan UAV, mulai dari tahap perencanaan penerbangan hingga pengolahan data hasil pemotretan udara. Perangkat yang digunakan antara lain DJI Mini 4 Pro dengan DJI RC-2, Garmin GPS MAPS 65s, serta perangkat lunak ArcGIS 10.8.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi sosialisasi dan identifikasi permasalahan, workshop penggunaan UAV, praktik pemetaan lapangan, pengambilan data udara, pengolahan citra, pendampingan pengembangan perangkat pembelajaran, hingga penerapan pembelajaran berbasis proyek.
Dalam praktik pemetaan, peserta mendapatkan pengalaman melakukan flight plan, pemasangan premark, pengukuran Ground Control Point (GCP), data acquisition, hingga image processing.
Baca Juga : Program Stay & Play ala Aston Makassar, Tawarkan Paket Menginap Bonus Padel dan Kuliner
Rangkaian tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana data permukaan bumi diperoleh melalui teknologi UAV dan selanjutnya diolah menjadi informasi spasial yang dapat digunakan dalam pembelajaran.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta dalam memahami teknologi UAV dan proses pemetaan digital. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 48,5 pada pre-test menjadi 86,2 pada post-test. Hasil perhitungan menunjukkan nilai N-Gain sebesar 73,2 persen yang berada pada kategori peningkatan tinggi.
Selain peningkatan kapasitas peserta, kegiatan juga menghasilkan sejumlah produk geospasial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Produk tersebut meliputi 185 foto udara geotagged, enam titik Ground Control Point (GCP), orthophoto lingkungan sekolah dengan Ground Sampling Distance (GSD) 2,4 cm/piksel, Peta Penggunaan Lahan dan Sarana Prasarana skala 1:1.000, serta Peta Kontur Topografi.
Baca Juga : PLN Perkuat Koordinasi dengan Pemprov Sulsel untuk Percepat Pemulihan Sistem Kelistrikan Sulbagsel
Data dan produk pemetaan tersebut selanjutnya dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran Geografi berbasis Project-Based Learning (PjBL).
Guru dan siswa tidak hanya mempelajari konsep pemetaan secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk menggunakan data spasial hasil pemetaan sebagai bahan dalam melakukan interpretasi, ground check, identifikasi penggunaan lahan, digitasi, hingga penyusunan peta tematik.
Program ini juga menghasilkan satu Modul Ajar Geografi Berbasis UAV dan PjBL beserta perangkat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Modul tersebut dirancang agar hasil pemetaan lingkungan sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar yang kontekstual dan dekat dengan kondisi nyata peserta didik.
Baca Juga : BI Sulsel Raih Dua Penghargaan di Ajang IABC Indonesia Awards
Pemanfaatan UAV dalam pembelajaran diharapkan dapat mengubah pengalaman belajar Geografi menjadi lebih visual, interaktif, kontekstual, dan berbasis data. Teknologi tersebut juga memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan materi pemetaan dengan kondisi lingkungan di sekitar sekolah.
Kegiatan PKM ini tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pelatihan, tetapi juga diarahkan untuk memastikan keberlanjutan pemanfaatan teknologi di sekolah.
Pendampingan selanjutnya akan difokuskan pada implementasi pembelajaran, penyempurnaan modul dan LKPD, pelatihan lanjutan bagi guru, pemanfaatan produk pemetaan sebagai sumber belajar, serta pengembangan komunitas drone di SMA Negeri 3 Takalar.
Baca Juga : BI Sulsel Raih Dua Penghargaan di Ajang IABC Indonesia Awards
Melalui integrasi teknologi UAV dan pembelajaran berbasis proyek, program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru sekaligus membuka ruang bagi pembelajaran Geografi yang lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan teknologi geospasial.
Dengan demikian, pemetaan tidak lagi hanya dipelajari sebagai konsep, tetapi dapat dipraktikkan melalui data dan kondisi wilayah yang nyata di lingkungan sekolah. (*)
