0%
logo header
Minggu, 12 Juli 2026 20:14

Festival Gaukang Ri Lakkang Jadi Motor Gerakan Menghidupkan Kembali Sejarah dan Budaya Lakkang

Rizal
Editor : Rizal
Tim Kerja Gaukang Ri Lakkang menggelar konferensi pers di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar, Minggu (12/7/2026). (Foto: Istimewa)
Tim Kerja Gaukang Ri Lakkang menggelar konferensi pers di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar, Minggu (12/7/2026). (Foto: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Tim Kerja Gaukang Ri Lakkang menggelar konferensi pers di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar, Minggu (12/7/2026).

Kegiatan itu sebagai langkah awal memperkenalkan rencana pelaksanaan program Gaukang Ri Lakkang kepada masyarakat, media, akademisi, pemerintah, serta berbagai komunitas budaya di Kota Makassar.

Konferensi pers itu menjadi ruang untuk menjelaskan arah besar kegiatan yang bertujuan menghidupkan kembali identitas sejarah, budaya, dan ekologi Pulau Lakkang melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan warga sebagai pelaku utama.

Baca Juga : Momen HUT ke-15, NasDem Sulsel Siapkan Peresmian Kantor Baru Pada 11 November

Ketua Tim Kerja Gaukang Ri Lakkang, Sofyan, mengatakan bahwa Pulau Lakkang merupakan salah satu kawasan yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan lingkungan yang sangat penting, namun belum memperoleh perhatian yang memadai.

“Pulau Lakkang bukan hanya sebuah kampung yang berada di tengah Sungai Tallo dan Anak Sungai Pampang. Ia adalah ruang sejarah yang menyimpan banyak cerita, mulai dari bunker peninggalan Jepang, tradisi masyarakat, kawasan bambu, sawah, tambak hingga ekosistem mangrove yang menjadi identitas kampung ini,” kata Sofyan.

Ia menjelaskan, Gaukang Ri Lakkang tidak sekadar menghadirkan festival kebudayaan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangun kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah kampungnya sendiri.

Baca Juga : Di Forum Kota Cerdas Kemendagri, Kadis Kominfo Makassar Paparkan Inovasi Lontara Plus dan Command Center

“Masyarakat kampung adalah pemilih sah pengetahuan kampung mereka sendiri. Karena itu, kesadaran itu mesti dibangun agar ada kepedulian yang lahir dari diri kampung itu,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan akan meliputi Workshop Penulisan Sejarah Kampung, Tur Sejarah Kampung, Pameran Gambar Anak-anak, dan Diskusi Sejarah dan Budaya yang seluruhnya dirancang dengan pendekatan kolaboratif antara warga, akademisi, budayawan, sejarawan, seniman, mahasiswa, dan pemerintah.

Menurut Sofyan, warga tidak ditempatkan sebagai penonton kegiatan, melainkan menjadi subjek utama dalam seluruh proses pelaksanaan.

Baca Juga : Transformasi Berorientasi Pelanggan, PLN Raih Sector Champion dan Runner Up BUMN Layanan Terbaik Danantara Indonesia CX100 Award 2026

“Kami ingin warga menjadi penulis sejarahnya sendiri. Mereka yang hidup di Pulau Lakkang adalah orang-orang yang paling memahami sejarah, budaya, dan perubahan kampungnya,” katanya.

Melalui konferensi pers ini, tim kerja juga mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam menjaga dan mengembangkan Pulau Lakkang sebagai ruang publik berbasis kebudayaan yang mampu memberikan manfaat sosial, budaya, sekaligus ekonomi bagi masyarakat. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646