Kamis, 01 Oktober 2026 06:17

Jaga Stabilitas Harga dan Daya Beli Masyarakat, BI Sulsel Gagas Gerakan Pangan Murah

Chaerani
Editor : Chaerani
Bank Indonesia Sulawesi Selatan melaksanakan Gerakan Pangan Murah di Halaman Kantor Camat Tallo. Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat. (Dok. Humas BI Sulsel)
Bank Indonesia Sulawesi Selatan melaksanakan Gerakan Pangan Murah di Halaman Kantor Camat Tallo. Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat. (Dok. Humas BI Sulsel)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat. Bank Indonesia Sulawesi Selatan melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM).

Kegiatan yang dipusatkan di Halaman Kantor Camat Tallo, Makassar ini dirangkaikan dengan edukasi QRIS dan edukasi hilirisasi komoditas cabai di Kota Makassar.

“Kegiatan ini juga menjadi bentuk sinergi pemerintah daerah dan Bank Indonesia dalam mendukung upaya pengendalian inflasi di daerah,” terang Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Oki Hermawan, dalam keterangannya, kemarin.

Baca Juga : Ewako Kapoposang BI Sulsel: Layanan Penukaran Uang Makin Dekat ke Warga Wilayah 3T Pangkep

Ia menjelaskan, pelaksanaan GPM merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi pangan dengan menerapkan prinsip 4T, yaitu tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas, terutama terhadap komoditas pangan yang mengalami tekanan harga.

“Dari pelaksanaan ini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh berbagai kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus mendukung terjaganya daya beli masyarakat,” harapnya.

Ie menyebutkan, dalam pelaksanaan GPM tersebut, cabai menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian. Berdasarkan perkembangan harga per 25 September 2026, harga cabai rawit merah di Kota Makassar tercatat sebesar Rp71.250 per kilogram, berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.

Baca Juga : Jelang Dilantik Zulhas, Pengurus DPW PAN Sulsel Temui Gubernur Andi Sudirman

“Perkembangan ini lah menjadi salah satu pertimbangan dilaksanakannya intervensi melalui GPM untuk membantu masyarakat memperoleh komoditas pangan dengan harga yang lebih terjangkau,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, sebanyak 250 paket tebus murah cabai disiapkan dengan harga Rp17.500 per paket. Setiap paket terdiri atas cabai merah 200 gram, cabai rawit 200 gram, dan cabai keriting 200 gram. Penjualan paket tersebut dilakukan menggunakan mekanisme pembayaran QRIS, sehingga masyarakat dapat sekaligus memperoleh akses pangan dengan harga terjangkau dan pengalaman bertransaksi secara non-tunai.

Selain cabai, GPM juga menghadirkan berbagai komoditas pangan lainnya, diantaranya beras, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging sapi, telur ayam ras, tepung terigu, aneka sayuran dan buah segar, serta produk-produk olahan.

Baca Juga : Lewat Duta LIK, OJK Sulselbar Libatkan Anak Muda Ajak Masyarakat Cerdas Kelola Keuangan

“Kehadiran berbagai komoditas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari sekaligus mendukung keterjangkauan harga di tingkat konsumen,” harap Oki lagi.

Menurutnya, bagi Bank Indonesia, pengendalian inflasi merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai Rupiah, khususnya kestabilan harga barang dan jasa. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia terus bersinergi dengan pemerintah melalui forum TPIP/TPID untuk merespons dinamika harga dan menjaga stabilitas perekonomian daerah.

Rangkaian kegiatan GPM juga menjadi momentum untuk mendorong semakin luasnya pemanfaatan QRIS di tengah masyarakat. Edukasi QRIS diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan awareness masyarakat terhadap transaksi pembayaran digital yang mudah, cepat, dan efisien.

Baca Juga : MUSDALUB DPD SP PLN UIP Sulawesi Perkuat Regenerasi dan Soliditas Serikat Pekerja

“Penggunaan QRIS dalam transaksi GPM juga menjadi contoh penerapan digitalisasi pembayaran dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk pada transaksi kebutuhan pangan,” katanya.

Di sisi lain, upaya menjaga stabilitas harga cabai juga perlu dibarengi dengan pengembangan nilai tambah komoditas. Karena itu, kegiatan ini turut menghadirkan edukasi hilirisasi cabai serta showcasing produk olahan cabai dari UMKM Binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan.

Melalui pengolahan menjadi produk bernilai tambah, komoditas cabai diharapkan memiliki potensi pasar yang lebih luas, umur simpan yang lebih panjang, serta memberikan peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM. Integrasi antara GPM, digitalisasi pembayaran, dan edukasi hilirisasi menjadi bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh dalam pengendalian inflasi.

Baca Juga : MUSDALUB DPD SP PLN UIP Sulawesi Perkuat Regenerasi dan Soliditas Serikat Pekerja

“GPM memberikan respons terhadap kebutuhan masyarakat dalam memperoleh pangan dengan harga terjangkau, sementara digitalisasi dan hilirisasi diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi serta meningkatkan nilai tambah di tingkat pelaku usaha,” tegasnya.

Melalui sinergi yang terus diperkuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, TPID Provinsi Sulawesi Selatan berkomitmen untuk terus mendukung terjaganya stabilitas harga pangan, daya beli masyarakat, serta pengembangan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646
Berita Terbaru