REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar mencatat kelompok muda menjadi sasaran prioritas terbanyak pada program penguatan literasi dan inklusi keuangan atau Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan).
Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin mengatakan, hingga Juli 2026 sasaran peserta pada program Gencarkan di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebanyak 2.204.391 orang. Sementara, pada kelompok muda yang terbagi atas pelajar, mahasiswa dan pemuda menyasar ke 7.056 orang.
“Dari 52 kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang dilaksanakan OJK Sulselbar di berbagai daerah itu menjangkau 7.056 peserta. Dimana menjadi yang terbesar pada kategori sasaran prioritas pada program Gencarkan diluar kelompok masyarakat umum dan lainnya,” katanya, dalam keterangan resminya, kemarin.
Baca Juga : Didik Pemilih Pemula, KPU Soppeng Dampingi Pelaksanaan Pilketos SMAN 4 Soppeng
Secara umum, total kegiatan yang dilaksanakan di periode tersebut telah mencapai 198 kegiatan melalui kolaborasi lintas sektor. Antara lain, TP PKK, pemerintah daerah, pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) dan lainnya. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk pelatihan, sosialisasi, hingga kampanye keuangan yang sehat.
Kemudian, pada sasaran peserta prioritas lainnya terbanyak kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebanyak 1.210 peserta melalui 10 kegiatan peningkatan pemahaman di sektor keuangan. Selanjutnya, kepada profesional melalui 17 kegiatan yang menyasar hingga 1.930 peserta.
Adapun, pada sasaran peserta pada kategori komunitas telah menjangkau 720 orang lewat lima kegiatan edukasi keuangan. Selain itu, pada kelompok petani dan nelayan yang berhasil menjangkau 990 orang melalui sembilan kegiatan.
Baca Juga : Konsolidasi Jalan Terus, Mardiono Tegaskan PPP Tak Risau Wacana Parliamentary Threshold
“Peserta lainnya itu adalah masyarakat umum dan lainnya dengan jumlah sasaran sebanyak 2.192.485 orang dari 105 kegiatan peningkatan literasi dan inklusi keuangan di wilayah Sulselbar,” ungkapnya.
Sebelumnya, OJK Sulselbar terus memperkuat upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda, khususnya pelajar di wilayah Sulawesi Barat.
Hal dilakukan melalui serangkaian program edukasi keuangan yang kali ini menyasar siswa-siswi tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Kegiatan yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026 lalu melalui kolaborasi bersama industri perbankan diikuti sebanyak 120 siswa dari SMP Negeri 2 Mamuju.
Baca Juga : Tak Gentar, PPP Sulsel Nilai Isu Parliamentary Threshold 5 Persen Baru Sekadar Cek Ombak
Melalui program edukasi keuangan yang menyasar pelajar, OJK mendorong pembentukan kebiasaan menabung sejak dini sebagai bekal menghadapi masa depan yang semakin kompleks dan Digital. Pada pertemuan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan simbolis rekening Simpanan Pelajar (SimPel) sebagai bagian dari upaya memperluas akses layanan keuangan bagi pelajar di lingkungan sekolah.
“Melalui kepemilikan rekening tabungan sejak usia sekolah, para siswa diharapkan dapat mulai memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat, termasuk membiasakan diri menyisihkan uang saku untuk ditabung dan merencanakan penggunaan uang secara lebih bijak,” terang Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin.
Dari sisi edukasi ekonomi, kebiasaan menabung sejak dini memiliki peran penting dalam membangun karakter disiplin dan kemampuan mengelola keuangan. Dengan menabung, pelajar belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun target keuangan sederhana, serta memahami manfaat lembaga keuangan formal dalam mendukung perencanaan masa depan.
Baca Juga : Aktif Kawal Kebijakan, Kadir Halid Masuk 10 Besar Legislator Golkar Tervokal se-Indonesia
Lanjut Muchlasin, peningkatan literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan memiliki kecakapan finansial. Tak hanya itu, edukasi keuangan yang diberikan sejak usia sekolah akan membantu generasi muda memahami cara mengelola keuangan secara bertanggung jawab serta mengambil keputusan keuangan yang tepat di masa mendatang.
“Pemahaman keuangan yang baik sejak usia sekolah merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam merencanakan masa depan. Selain mampu mengelola keuangan secara bijak, generasi muda juga perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan layanan keuangan digital secara cerdas serta memahami berbagai risiko yang dapat muncul dalam aktivitas keuangan di era digital,” ujarnya.
