0%
logo header
Rabu, 13 Mei 2026 14:02

Kinerja Industri Pembiayaan dan Pinjaman Daring Tak Pengaruhi Dinamika Ekonomi Nasional

Chaerani
Editor : Chaerani
Kepala Eksekutif Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)
Kepala Eksekutif Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) masih menunjukkan kinerja yang positif hingga Maret 2026.

Bahkan pertumbuhan pembiayaan di berbagai subsektor tetap terjaga dengan tingkat risiko yang terkendali di tengah dinamika perekonomian nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, mengatakan bahwa industri pembiayaan secara umum masih mampu menjaga pertumbuhan dan kualitas aset yang baik, didukung oleh meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat serta kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang.

Baca Juga : IGS 2026 Buka Jalan Investasi Infrastruktur Makassar, 8 Negara Siap Tindak Lanjut Kerja Sama

“Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan yang relatif baik dengan profil risiko yang tetap terjaga. Ini juga mengartikan bahwa ketahanan industri dalam mendukung pembiayaan berbagai sektor ekonomi,” jelasnya.

OJK mencatat piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan pada Maret 2026 mencapai Rp514,09 triliun, atau tumbuh 0,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pembiayaan modal kerja yang tumbuh 6,15 persen yoy, meskipun secara keseluruhan laju pertumbuhan pembiayaan sedikit melambat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 1,01 persen.

Dari sisi kualitas pembiayaan, kondisi industri masih terjaga dengan baik. Rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,83 persen, sementara NPF net berada di level 0,8 persen. Selain itu, gearing ratio perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,17 kali, jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan regulator sebesar 10 kali.

Baca Juga : Momen Peringatan HUT ke-18 Kabupaten Sigi, BSI dan BSI Maslahat Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa

“Indikator ini tentunya menunjukkan bahwa industri pembiayaan masih memiliki ruang yang cukup kuat untuk melakukan ekspansi bisnis dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian,” katanya.

Sementara itu, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan terus mencatat pertumbuhan tinggi. Berdasarkan data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), outstanding pembiayaan BNPL mencapai Rp12,81 triliun atau tumbuh 55,85 persen yoy pada Maret 2026.

Menariknya, pertumbuhan yang tinggi tersebut juga diikuti oleh perbaikan kualitas pembiayaan. Rasio NPF gross BNPL tercatat sebesar 2,51 persen, membaik dibandingkan posisi Februari 2026 yang berada di level 2,79 persen.

Baca Juga : Terpilih Aklamasi, Supratman Resmi Nakhodai PBVSI Makassar Periode 2026-2030

Di sisi lain, industri modal ventura mengalami perlambatan. Pembiayaan modal ventura pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp16,57 triliun, atau mengalami kontraksi 0,95 persen yoy. Kondisi ini berbalik dari Februari 2026 yang masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,78 persen.

Untuk sektor pinjaman daring (Pindar), OJK mencatat pertumbuhan yang tetap kuat. Outstanding pembiayaan pinjaman daring mencapai Rp101,03 triliun, meningkat 26,25 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kualitas pembiayaan pada industri Pindar juga masih berada dalam kondisi yang terkendali. Hal ini tercermin dari tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 yang berada pada level 4,52 persen, sedikit membaik dibandingkan Februari 2026 sebesar 4,54 persen.

“Pertumbuhan industri pinjaman daring masih cukup tinggi dan terus menjadi salah satu alternatif pembiayaan bagi masyarakat serta pelaku usaha. Namun demikian, OJK tetap mengedepankan aspek perlindungan konsumen dan penguatan tata kelola industri,” katanya.

Baca Juga : Kolaborasi PLN UIP Sulawesi dan Kejati Sulsel, Kawal Infrastruktur Kelistrikan Secara Transparan

Sementara itu, industri pergadaian mencatatkan pertumbuhan paling tinggi di antara subsektor PVML. Hingga Maret 2026, penyaluran pembiayaan pergadaian mencapai Rp153,49 triliun, meningkat 60,27 persen yoy. Sebagian besar pembiayaan tersebut disalurkan melalui produk gadai dengan nilai mencapai Rp127,90 triliun, atau setara 83,33 persen dari total pembiayaan industri pergadaian.

Menurut Agusman, tingginya pertumbuhan industri pergadaian menunjukkan semakin besarnya peran sektor tersebut dalam menyediakan akses pembiayaan yang cepat dan mudah bagi masyarakat.

“OJK akan terus memperkuat pengawasan dan mendorong pengembangan sektor PVML agar dapat tumbuh secara sehat, berkelanjutan, dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional,” tutup Agusman.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646