0%
logo header
Rabu, 04 Maret 2026 18:39

OJK: Stabilitas Sistem Keuangan Butuh Penguatan Integritas

Chaerani
Editor : Chaerani
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa penguatan ketahanan dan integritas sektor jasa keuangan menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Apalagi, di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.

“OJK bersama pemerintah mendorong berbagai kebijakan strategis guna memastikan sektor jasa keuangan tetap sehat, transparan, dan mampu menghadapi berbagai potensi risiko,” terang Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDK) OJK, kemarin.

Upaya penguatan tersebut dilakukan melalui peningkatan pengawasan terhadap lembaga keuangan, penerapan manajemen risiko yang lebih baik, serta penguatan tata kelola perusahaan yang mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Baca Juga : Semangat Hari Kesaktian Pancasila, YBM PLN Hadirkan Terang dan Kepedulian bagi Masyarakat Sulselrabar

Tak hanya itu, pada peningkatan literasi dan inklusi keuangan juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan sektor jasa keuangan.

Lanjutnya, stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Saat ini, perekonomian global masih menunjukkan kinerja yang relatif baik sejalan dengan penguatan kinerja manufaktur global dan tren pemulihan keyakinan konsumen.

Namun demikian, peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi pada awal 2026, termasuk di Timur Tengah serta dinamika kebijakan perdagangan AS, menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Baca Juga : Wagub Sulsel Ajak Warga Kenali Layanan dan Produk Keuangan Legal di FIN Expo OJK Sulselbar

Perekonomian AS pada kuartal IV 2025 terpantau tumbuh 1,4 persen qtq, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen, didorong oleh government shutdown dan pelemahan konsumsi, di tengah pasar tenaga kerja masih relatif solid. Tekanan inflasi kembali meningkat dan sejalan dengan perkembangan tersebut, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada pertengahan tahun mulai menurun, dengan kecenderungan kebijakan suku bunga higher for longer.

Di kawasan Asia, perekonomian Tiongkok masih menghadapi tekanan permintaan domestik di tengah berlanjutnya krisis sektor properti, meskipun kinerja eksternal masih mencatatkan surplus.

Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia di kuartal IV 2025 mencatat pertumbuhan yang solid yaitu sebesar 5,39 persen yoy, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,11 persen. Inflasi headline meningkat terutama akibat efek basis rendah tahun sebelumnya.

Baca Juga : FIN Expo 2026, OJK Sulselbar Target 25 Ribu Pengunjung Kian Melek Sektor Keuangan

Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis meskipun menunjukkan moderasi dan aktivitas manufaktur tetap berada dalam fase ekspansif pada awal 2026.​

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646