OPINI: Membangun Ekonomi Kuat di Atas Pijakan Sektor Pertanian

  • Bagikan

(Catatan Kecil Untuk Kabupaten Lutra dan Luwu)

Penulis: AFRIANTO, S.Pd.,M.Si

REPUBLIKNEWS.CO.ID — Satu tahun pandemic covid-19 ini, tidak hanya menghantam sektor kesehatan tetapi, juga yang paling dirasakan adalah dampak ekonominya. Perjalanan ekonomi Indonesia setahun ini diwarnai dengan berbagai tantangan. Pandemic mengacaukan seluruh strategi pembangunan nasional, imbasnya juga ke daerah – daerah yang selama ini masih sangat bergantung sumber pendapatannya dari pemerintah pusat. Belum lagi masalah lain yang dihadapi dengan cuaca ektrim dan bencana di mana – mana.

Tadi siang sejak BPS merilis kondisi masing – masing daerah dalam angka tahun 2021, saya mencoba menelaaah setiap informasi yang disajikan berupa data statistik yang dideskriptifkan berupa pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan, kemiskinan dan kondisi sosial ekonomi lainnya dimana saya khusus menelaah pada 4 daerah di Wilayah Luwu Raya. Pada tulisan ini, saya lebih fokus menelaah perkembangan perekonomian Kabupaten Luwu dan Luwu Utara, karena secara gegorafis dua wilayah ini memliki kemiripan postur perekonomiannya, dimana tenaga kerjanya lebih banyak bekerja pada sektor pertanian. Tahun 2020 yang telah lewat sesungguhnya menjadi tahun yang buruk bagi dua kabupaten ini, selain pandemic covid 19, dua kabupaten ini mengalami musibah bencana alam berupa banjir, dan yang paling merasakan dampaknya adalah petani. Bisa dibilang, bahwa tahun 2020 menjadi tahun yang kelam bagi kedua kabupaten ini. Hal ini bisa dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi kabupaten Luwu Utara terkontraksi -0,59 %  di tahun 2020, kabupaten Luwu juga mengalami perlambatan dengan point 1,30 %.

Sumber: BPS (Diolah)

Bersarakan data BPS pada dua kabupaten ini, melemahnya perekonomian di kabupaten Luwu dan Luwu Utara turut disumbang oleh melemahnya pertumbuhan pada lapangan usaha pertanian, kabupaten Luwu Utara pada sektor pertaniannya terkontraksi dari pertumbuhan 2,30 (2019) menjadi -2,21 % (2020). Sementara itu, kabupaten Luwu juga mengalami perlambatan di sektor pertanian dari 3,98 % (2019) menjadi 0,32 % (2020). Pada dua wilayah ini, sesunguhnya jika melihat laju pertumbuhannya dari tahun – tahun sebelumnya, sudah terlihat perlambatan produksi barang dan jasa. Pertumbuhan yang rendah saat ini dan trend perlambatan pada sektor tradable menunjukkan bahwa perekonomian kedua wilayah ini masih belum berkualitas, sebab sektor pertanian inilah yang paling mendominasi postur tenaga kerja dan juga paling besar berkontribusi pada angka kemiskinan.

Selain itu, produksi pertanian utamanya pada sub sektor tanaman pangan padi masih sangat tergantung oleh pengusaha dari luar daerah sehingga output produksinya tidak memberi input produksi bagi sektor lainnnya di dua wilayah ini. Padahal setiap tahunnya pada neraca produksi beras di kabupaten Luwu surplus sekitar 137 ribu ton dan Luwu Utara surplus kurang lebih  70 ribu ton.

BPS Sulsel 2019.

AGENDA MENDESAK INFRASTRUKTUR

Perbaikan struktur pereknomian dua wilayah ini mengundang urgensi menyusun ulang pembangunan ekonomi kedepan. Walaupun tahun – tahun sebelumnya kinerja ekonomi masih terbilang relative stabil, namun jika tidak diikuti dengan penurunan kemiskinan dan pengangguran secara sginifikan, perlahan akan menciptakan perlambatan ekonomi, apa lagi ditengah pandemic covid saat ini. Pembangunan ekonomi dua wilayah ini yang cenderung masih bertumpu pada sektor – sektor minim penyerapan tenaga kerja menambah deretan angka kemiskinan. Bisa dibayangkan jika kantong –kantong kemiskinan di wilayah perdesaan yang berkontribusi beesar terhadap pembangunan ekonomi. Hubungan antar pelaku ekonomi di sektor ini memang meninggalkan banyak luka karena pembagian nisbah ekonomi yang timpang.

Pemenuhan infrastruktur untuk menopang aktivitas ekonomi masyarakat pada dua wilayah ini diharapkan kedepannya dilakukan dengan target yang terukur, utamanya bagaimana mendorong pembangunan di sektor pertanian yang terhubung dengan kegiatan industri pengolahan. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong nilai tambah pendapatan bagi petani dan penyerapan tenaga kerja. Selama ini proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah lebih mengedepankan  pada pembangunan jalan perkotaaan, rehabilitasi kantor pelayanan, pembangunan taman dan  lain – lain. Sementara itu, sektor pertanian adalah sektor terbesar yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk pada dua wilayah ini.

Untuk itu, alokasi anggaran pembangunan pada sektor pertanian harus menjadi prioritas pada setiap penyusunan program dalam APBD. Hal ini juga tampak pada persoalan ketimpangan infrastukrur di wilayah – wilayah pegunungan dan pesisir, penyelesaian masalah ketimpangan infrastruktur juga harus menjadi perhatian serius kedua di wilayah ini dimana masih terdapat beberapa wilayah yang minim infrastuktur dalam mendorong laju aktivitas perekonomian di wilayah setempat.

Dalam upaya mendorong peningkatan nilai tambah, pemerintah perlu mendorong industry pengolahan, mengupayakan aktivitas ekonomi lainnya saling berkaitan. Kelangsungan proses produksi dan aktivitas perdagangan yang ditopang melalui industry pengolahan akan memperluas lapangan pekerjaan dan mendorong peningkatan produk yang berdaya saing. Dua wilayah ini memiliki commodity/bahan baku yang berlimpah yang dapat menjadi sumber utama pengolahan produksi yang memiliki nilai tambah besar.

Sesungguhnya banyak ragam pemikiran yang telah melihat berbagai massalah di sektor pertanian dan penyelesaiannya. Namun, secara garis besar yang perlu diupayakan saat ini adalah dengan melakukan transformasi pertanian secara utuh. Ada tiga level yang sangat urgen untuk dibenahi saat ini, yaitu,  pertama adalah infrasturktur dasar yang diperlukan bagi pembangunan petani, keduaa adalah memperkuat pasar dan pengawasan yang aktif dalam interaksi antara sektor hulu dan sektor hilir, utamanya pada perlindungan harga pada produk pertanian dan ketiga membangun komunikasi dengn menggandeng pihak swasta (private sector) untuk mengeksekusi kegiatan lanjutan di sektor pertanian. Perlu diingat, bahawa sektor pertanian adalah adalah pilar strategis prekonomian nasional dan sektor penunjang terbesar ke dua wilayah ini (kab.luwu dan luwu utara) sehingga eksistensinya mutlak diperlukan, sektor ini meyediakan bahan baku sehingga aktivitas produksi industry dapat terus berlangsung

Tentunya kita harus membangun optimis yang kuat sehingga bisa keluar dari berbagai macam soal yang dihadapi saat ini, memperbaiki sendi – sendi fundamental ekonomi yang melemah. Tapi, semuanya itu bisa dilakukan jika para stakeholder punya komitmen kuat dalam setiap perumusan dan impelemntasi kebijakannya. (*)

  • Bagikan