REPUBLIKNEWS.CO.ID, BANJARMASIN UTARA- Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin mempertemukan antara Sarwadharma, tokoh Tionghoa dengan peneliti UIN Antasari di Rumah Alam Banjarmasin, Jl Sungai Andai, Banjarmasin Utara, Kalimantan Selatan. Dalam kesempatan itu, Sarwadharma Pangkusatya menyerahkan buku berwarna krem yang dianggapnya memuat silsilah dari Datu Kalampayan atau Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari itu kepada tim peneliti UIN Antasari.
“Moga ada temuan kuat dari hasil peneliti UIN Antasari. Buku ini sebenarnya ditulis oleh Phang Yauw Po, adalah adik dari kakek saya bernama Phang Yauw Tjong. Dia kebetulan cuma dua bersaudara saja,” ucap Sarwadharma kepada Republiknews.co.id, pada Rabu (27/7/2022) sore kemarin.
Dalam silsilah, Sarwadharma menjelaskan bahwa Phang Yauw Po beristeri dengan orang Kalimantan Tengah yang memiliki tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Sementara, turunan Phang Yauw Tjong hanya melahiran dua anak laki-laki; di antaranya merupakan ayah dari Sarwadharma. “Kalau yang keturunan saya ini, dua laki-laki,” tutur Romo.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
Jika menarik ke belakang ihwal sejarah Tionghoa berlabuh ke tanah Banua. Mulanya, Sarwadharma menceritakan bahwa leluhur pertamanya itu datang bersamaan dengan empat orang yang berasal dari Tiongkok, Cina. Mereka diundang untuk membuat ukiran istana kerajaan Banjar. “Karena datang sendiri, dia (leluhur Tionghoa) beristeri dengan orang istana,” ujarnya.
Setelah itu, kata Sarwadharma, dilahirkan dua anak yang jejaknya itu dulu memiliki kuburan guci, namun hilang entah kenapa di wilayah Kampung Gadang, Banjarmasin. Menurutnya, salah satu dari anaknya itu melahirkan kembali dua keturunan anak Tionghoa. “Di antaranya itu melahirkan anak bernama Phang Ban Po. Itu generasi ketiga, yang menurunkan silsilah ke saya,” jelasnya.
Lewat silsilah dari Phang Ban Tian inilah, Sarwadharma menyebut lahirnya seorang ulama besar yang bernama Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Karena seorang mualaf, kata dia, seorang Phang Ban Tian atau Panglima Minting ini beralih bernama Abdullah, yang merupakan ayah dari Datu Kalampayan tersebut.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
Kisah itu, dia pun curiga apakah silsilah di atasnya itu punya catatan juga perihal ini. Dalam pertemuan dengan Prof Mujiburrahman, Sarwadharma pernah mempertanyakan soal silsilah Datu Kalampayan. “Kalo saya, kan, sulit melacak turunan ke bawah dari Datu Kalampayan. Pernah saya berikan fotocopy-annya itu ke beliau, karena katanya banyak keluarga dari silsilah di Marabahan,” ujarnya.
Cuma, kata Sarwadharma, di dalam silsilah keluarga Phang Yauw Po itu cuma nama anaknya saja disebutkan tanpa turunan setelahnya. “Saya lahir tahun 1948, beliau (Phang Yauw Po) meninggal pada tahun 1953. Sejak kecil itu saya antara ingat atau lupa-lupa apakah pernah ketemu,” ujarnya.
Kemudian, kata Sarwadharma, pasca almarhum meninggal dunia maka buku itu diserahkan kepada anaknya. Lalu, buku itu disimpan ke dalam kotak kayu.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
“Buku itu ditaruh ke kotak kayu. Cuma berbahan kayu, dan disebelahnya itu ada kotak yang berisi uang. Tahun 1973, kebakaran besar melanda di kawasan RK Ilir. Habis rumah itu, tetapi kotak yang berisi buku silsilah itu selamat dan malah yang terbakar, berisi uang itu,” ceritanya.
Sejak kebakaran itu, kata Sarwadharma, lalu disimpan oleh bibinya sendiri yang merupakan anak dari Phang Yauw Po. Dan saat itu, kata dia, diturunkan ke ahli warisnya. “Kebetulan, saya keturunan ke-10 yang lebih tua. Katanya, tolong dijagakan buku itu. Sebagai catatan keluarga,” kisahnya.
Rata-rata, kata Sarwadharma, ahli waris dari keturunan Phang Yauw Po telah meninggal semua. Sebab itulah, kata dia, karena sebuah amanah dari keluarga besarnya untuk menyimpan buku tersebut. Dia pun menginisiasi untuk menyimpan ke salah satu bank.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
“Sebenarnya, buku ini tidak ingin di publikasi. Tetapi, saya menyadari buat apa juga disimpan dan apakah ada manfaatnya. Kalo aja ini menjadi fakta sejarah, dan bisa dipelajari,” katanya.
Pusat Kajian Pengembangan Pendidikan Islam (PUSJIBANG-PI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Antasari, Fathullah Munadi mengaku pihaknya meneliti tentang keberagamaan muslim Tionghoa, yang kemudian bertemu dengan sosok Winardi atau kerap disapa Wins. Upaya itu, pihaknya terus mengejar terus data-data yang diperolehnya selama riset.
“Bidangnya memang saya dari sastra arab, ada kajian tentang naskah juga yang diteliti. Kami memang minta disambungkanlah ke pemilik naskah itu, akhirnya hari ini bertemu langsung,” ucap Fathullah.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
Untuk menemukan fakta baru, Fathullah bersama tim Pusjibang-PI FTK UIN Antasari menelaah dari fisik naskahnya, baru kemudian memasuki teks naskah. “Filologi dulu, baru tekstologinya,” bebernya.
Karena tidak terlalu tebal, Fathullah memperkirakan bakal cepat untuk memproses dalam transkripsi dan transliterasi terlebih dahulu agar mudah dibaca. Terkait analisa konten, menurutnya itu berbeda lagi telaahnya.
“Karena pendapat di dalam buku ini berbeda dengan mainstream ya. Kalo pendapat umumnya kalo Syeikh Muhammad Arsyad itu datangnya dari Arab, Yaman lalu ke India, setelahnya ke Nusantara,” terang Fathullah usai acara.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
Fathullah memandang jika keabsahan dari buku kuno ini cukup kuat, maka terbantahkan pendapat umum lainnya. Sebab, menurutnya bahwa buku itu menyebut silsilah Datu Kalampayan dari Negeri Cina. “Kalo catatan lain, bisa dilihat dari risalah Syajaratul Arsyadiah. Syekh Abdurrahman Shiddiq Al Banjari (Mufti kerjaan Indragiri) itu menyebut dari Arab. Nah pelbagai pendapat ini menarik, kita telaah dan pelajari dulu,” ungkap dia.
Pendapat dalam buku ini bakal terkuak, kata Fathullah, apabila ada cantelan lain yang memuat kutipan di dalam catatan itu lebih tua usianya. Sementara, kata dia, karangan risalah sebelumnya itu ditulis pada tahun 1930 Masehi. “Mungkin itu seumur dengan catatan ini,” katanya.
Ketua DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalsel, Winardi Setiono merasa perlu dalam pertemuan ini untuk mengungkap silsilah Datu Kalampayan, yang berdasarkan dari catatan buku silsilah Tionghoa. Memang, kata dia, pihaknya juga melakukan kajian-kajian tentang mualaf dari kalangan Islam Tionghoa di Kalimantan Selatan.
Baca Juga : Bukan Tahun Terakhir untuk Munir, Kamisan Kalsel Gelar Tabur Bunga Pada Detik Kedaluwarsa
“Terkait itu maka kesempatan ini kita ambil, karena yang datang ini dari penelitian. Kemudian, kita ceritakan bahwa ada tulisan tangan yang memuat silsilah Datu Kalampayan,” tuturnya.
Jadi, kata Wins, menurut keterangan dari pemilik buku itu berusia yang tidak jauh dari rentang silsilah Datu Kalampayan dengan penulisnya. Dia berharap, lewat buku itu menemukan kepastian daripada silsilah ulama besar tersebut.
“Mudah-mudahan atas izin Datu Kalampayan juga, kalo beliau berkenan maka bisa ditemukan kebenaran-kebenaran itu tadi. Harapannya cuma itu saja,” tandasnya. (Rahim Arza)
