REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Puluhan booth hadir mengisi Expo Keuangan dan Seminar Syariah (EKSiS) 2026 yang berlangsung di Kota Kasablanka, Jakarta pada 20 hingga 23 Agustus 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini mengangkat tema “Tumbuh Bersama, Bermanfaat untuk Semua”. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi, edukasi, serta produk dan layanan keuangan syariah.
Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK, M. Ismail Riyadi mengatakan, dalam pameran tersebut diikuti 40 boot yang terdiri dari 34 booth Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) syariah serta enam booth produk halal dan ekosistem syariah.
Baca Juga : Berdayakan Masyarakat, Heriwawan Dorong Program Pekarangan Pangan Lestari Dianggarkan Kembali
“Di kegiatan ini masyarakat juga dapat mengenal keuangan syariah secara lebih dekat melalui berbagai sesi edukasi dan talkshow yang dikemas secara menarik dan inspiratif,” terangnya, dalam pertemuan, kemarin.
Melalui EKSiS 2026, OJK terus memperkuat kolaborasi, inovasi, dan digitalisasi sebagai bagian dari upaya memperluas akses serta pemanfaatan keuangan syariah. Selain itu, OJK mendorong pengembangan produk dan layanan keuangan syariah yang kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, perluasan jaringan layanan, serta penguatan literasi berbasis komunitas dan pendidikan keagamaan.
“Dengan langkah tersebut, keuangan syariah diharapkan semakin inklusif dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan perekonomian nasional,” harapnya.
Baca Juga : OJK Sulselbar Perkuat Literasi Keuangan ke Pelajar, Perempuan dan Pelaku UMKM di Pasangkayu
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono mengatakan bahwa pengembangan keuangan syariah tidak semata-mata berkaitan dengan transaksi, tetapi juga tentang membangun keadilan, kemitraan, kepercayaan, dan kemaslahatan.
“Keuangan syariah bukan hanya tentang bagaimana kita melakukan transaksi, tapi keuangan syariah adalah tentang bagaimana kita membangun keadilan, kemitraan, kepercayaan, dan kemaslahatan,” katanya, dalam pembukaan.
Menurutnya, peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem keuangan syariah yang semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
Baca Juga : Kuasai 51,4 Persen Penjualan, Toyota Hilux Rangga Jadi Andalan Pelaku Bisnis di Sulawesi
Saat ini, keuangan syariah Indonesia terus menunjukkan eksistensi dan daya saing di tingkat global. Sejalan dengan perkembangan tersebut, industri keuangan syariah nasional juga terus bertumbuh dan berperan dalam mendukung perekonomian. Namun, pertumbuhan industri keuangan tidak hanya perlu dilihat dari sisi besaran industri, tetapi juga dari kemampuan industri dalam memberikan manfaat yang semakin luas serta menghadirkan layanan yang berkualitas.
“Industri keuangan harus tumbuh. Tapi tumbuh dengan manfaat yang makin meluas. Tumbuh dengan kualitas,” tegasnya.
Menurut Dicky, EKSiS menjadi jembatan dari pengetahuan menuju pemahaman, dari pemahaman menuju pilihan, dan dari pilihan menuju keyakinan bahwa produk keuangan syariah merupakan pilihan yang berkualitas. Pada akhirnya, produk dan layanan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi riil, serta kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Baca Juga : Event KALLA 10K Siapkan Rute Bersertifikasi PASI, Peserta Dari Lintas Pulau di Indonesia
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara peningkatan literasi dan perluasan inklusi keuangan syariah. Masyarakat tidak hanya perlu memahami karakteristik produk dan layanan keuangan syariah, tetapi juga memperoleh akses dan kemudahan untuk menggunakannya sesuai dengan kebutuhan.
Penyelenggaraan EKSiS semakin relevan sejalan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Survei tersebut menunjukkan indeks literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 13,24 persen.
Capaian tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang luas untuk memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus mendorong peningkatan pemanfaatan produk dan layanan keuangan syariah.
