REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulawesi Selatan terus menunjukkan tren positif pada Maret 2026.
Pertumbuhan terlihat pada capaian berbagai subsektor, mulai dari perusahaan pembiayaan, fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring (Pindar), pergadaian, perasuransian, dana pensiun, dan lembaga penjaminan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, Moch. Muchlasin mengatakan, perkembangan tersebut mencerminkan semakin beragamnya akses layanan keuangan dan pembiayaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun pelaku usaha.
Baca Juga : Dukung Argentina, Wabup dan Dandim Gowa Nonton Piala Dunia Bersama Warga Pattallassang
Dirinya menjelaskan, pada posisi Maret 2026, penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp19,27 triliun atau tumbuh 1,23 persen dari Rp19,04 triliun secara year on year (yoy). Sementara itu, pembiayaan perusahaan modal ventura mencapai Rp371 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp382 miliar.
“Dalam sektor ini mengalami kontraksi sebesar 2,84 persen secara tahunan (yoy), hanya saja secara keseluruhan sektor IKNB kita di Sulsel Masih dalam tren positif,” katanya, dalam keterangan resminya, kemarin.
Sedangkan, di sisi keuangan digital, outstanding pembiayaan Pindar masyarakat Sulawesi Selatan mencapai Rp2,52 triliun atau tumbuh signifikan sebesar 32,26 persen secara yoy atau Rp1,90 triliun di tahun lalu.
Baca Juga : Kalla Aspal Siapkan Material Jalan Ramah Lingkungan, Dukung Kebutuhan Infrastruktur di Kalimantan
“Jumlah piutang masyarakat di pinjaman daring menunjukkan meningkatnya pemanfaatan layanan pembiayaan digital di Sulawesi Selatan,” tegas Muchlasin.
Adapun pertumbuhan tertinggi di sektor ini terjadi pada industri pergadaian. Dimana, total pembiayaan pergadaian mencapai Rp12,57 triliun atau meningkat 61,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pada berbagai sektor tersebut mencerminkan semakin luasnya pilihan sumber pendanaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Selain pembiayaan, peningkatan juga terlihat pada sektor perlindungan dan pengelolaan risiko keuangan. Total aset dana pensiun tumbuh 6,31 persen secara tahunan menjadi Rp1,70 triliun. Nilai penjaminan pada lembaga penjaminan tercatat sebesar Rp1,00 triliun atau meningkat 20,04 persen secara yoy.
Baca Juga : Pemkab Gowa dan Pemkot Palu Eratkan Silaturahmi Lewat Sepakbola Persahabatan
“Pada industri perasuransian membukukan pertumbuhan premi sebesar 29,90 persen yoy menjadi Rp984 miliar. Kemudian pada total klaim di industri ini telah mencapai Rp499 miliar atau tumbuh 4,52 persen dengan nilai klaim Rp478 miliar tahun lalu,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan sektor perasuransian, dana pensiun, dan lembaga penjaminan juga menjadi indikator meningkatnya pemanfaatan instrumen proteksi, mitigasi risiko, serta perencanaan keuangan jangka panjang oleh masyarakat dan dunia usaha.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tidak hanya tetap stabil dalam mendukung kebutuhan pembiayaan, tetapi juga semakin berperan dalam memperkuat ketahanan keuangan masyarakat dan pelaku usaha melalui berbagai layanan perlindungan dan pengelolaan risiko,” tutup Muchlasin.
