0%
logo header
Sabtu, 25 April 2026 15:40

Cerita Serda Fajrin, Menemukan Harapan Baru di Rumah Lapuk Warga Selayar

Arnas Amdas
Editor : Arnas Amdas
Babinsa Batangmata Sapo, Serda Nur Fajrin Syam sedang berinteraksi dengan warga binaannya. [IST]
Babinsa Batangmata Sapo, Serda Nur Fajrin Syam sedang berinteraksi dengan warga binaannya. [IST]

REPUBLIKNEWS.CO.ID, SELAYAR — Pagi itu, langkah Serda Nur Fajrin Syam menyusuri jalan setapak di wilayah binaannya di Batangmata Sapo Selatan tak sekadar menjalankan tugas.

Ia membawa cerita tentang satu keluarga yang selama ini luput dari perhatian, hingga akhirnya tersentuh program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 1415/Selayar.

Bagi Serda Fajrin, menentukan rumah yang layak menjadi sasaran program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bukan hal mudah.

Baca Juga : TMMD 128 Selayar Siapkan Personel, Proyek Air Bersih Dipercepat

Prosesnya harus melalui verifikasi ketat agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

“Awalnya ada dua rumah yang saya ajukan ke komandan. Tapi setelah diverifikasi, keduanya belum memenuhi kriteria,” ujarnya, Sabtu (25/04/2026).

Proses seleksi yang dilakukan oleh Dansatgas TMMD, Letkol Czi Yudo Harianto, sangatlah ketat, namun dari proses tersebut, muncul satu nama yang akhirnya dinilai paling layak menerima bantuan, yakni Andi Panawang.

Baca Juga : TMMD Selayar Buka Akses Jalan Tani 3,3 Km, Dorong Ekonomi Petani

Di usia 58 tahun, Panawang masih bertahan sebagai petani kecil dengan penghasilan yang tidak menentu.

Ia tinggal bersama istrinya, Nurhaedah (56), di sebuah rumah panggung sederhana yang sebagian besar kayunya telah lapuk dimakan usia.

Anak semata wayang mereka telah berkeluarga dan hidup mandiri, namun belum mampu membantu memperbaiki rumah orang tuanya.

Baca Juga : Semangat Kebersamaan, Satgas TMMD dan Warga Bangun Rumah Layak di Selayar

“Anaknya ada, tapi belum punya penghasilan tetap. Jadi belum bisa bantu orang tuanya,” tutur Fajrin.

Rumah tersebut bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga menyimpan kenangan dan harapan.

Namun kondisi bangunan yang rapuh justru menghadirkan risiko bagi penghuninya.

Baca Juga : Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-128 Selayar Juga Sentuh Warga Rentan

Papan lantai dan balok penyangga yang keropos membuat setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Kondisi fisik Panawang pun tak lagi sekuat dulu. Ia tetap memaksakan diri bekerja di kebun kecilnya demi menyambung hidup.

“Kadang dia jatuh sendiri di jalan saat ke kebun, bahkan sampai tidak sadar. Nanti setelah bangun baru tahu kalau dia tadi jatuh,” kata Fajrin.

Baca Juga : Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-128 Selayar Juga Sentuh Warga Rentan

Meski demikian, semangat Panawang tidak pernah padam.

“Saya salut sama beliau. Masih terus berjuang cari rezeki,” tambahnya.

Di rumah, perjuangan serupa juga dilakukan sang istri, Nurhaedah.

Baca Juga : Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-128 Selayar Juga Sentuh Warga Rentan

Ia membantu ekonomi keluarga dengan membuka cangkang kenari, hasil yang dikumpulkan suaminya dari hutan atau warga sekitar.

Upah yang diterima pun sangat terbatas, hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari. Aktivitas itu dilakukan di dapur rumah mereka, yang justru menjadi bagian paling berisiko.

“Istrinya pernah jatuh, katanya sudah lima kali. Papan dapurnya sudah banyak yang lapuk. Kalau salah berpijak, bisa langsung jatuh ke tanah,” ungkap Fajrin.

Baca Juga : Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-128 Selayar Juga Sentuh Warga Rentan

Dengan jarak lantai dapur ke tanah sekitar dua meter, risiko cedera menjadi ancaman nyata setiap hari.

Kisah inilah yang akhirnya mengetuk hati Satgas TMMD ke-128. Setelah melalui pertimbangan dan verifikasi, rumah Panawang resmi ditetapkan sebagai sasaran program RTLH.

Keputusan tersebut bukan hanya berdasarkan penilaian teknis, tetapi juga hasil kesepakatan warga dan aparat setempat yang menilai keluarga ini sangat membutuhkan bantuan.

Baca Juga : Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-128 Selayar Juga Sentuh Warga Rentan

Tak lama kemudian, suasana rumah pun berubah. Papan-papan lama mulai dibongkar, digantikan dengan material baru yang lebih kokoh.

Personel TNI bersama warga bekerja berdampingan, menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ruh utama TMMD.

Bagian serambi dan dapur yang paling rapuh menjadi prioritas perbaikan. Perlahan, rumah itu tak hanya berdiri kembali, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya.

Baca Juga : Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-128 Selayar Juga Sentuh Warga Rentan

Di tengah bunyi palu dan gergaji, harapan baru ikut dibangunsatu papan, satu tiang, dan satu kisah kehidupan yang akhirnya menemukan perhatian.

Penulis : Andi Rusman
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646