REPUBLIKNEWS.CO.ID, YOGYAKARTA — Ikatan Keluarga Besar Flores Timur Daratan Yogyakarta (IKAFLODYA) menyoroti minimnya infrastruktur Sekolah dalam menghadapi digitaliasi dan merdeka belajar khususnya di kabupaten Flores Timur (Flotim).
“Sehingga ini membuat sekolah-sekolah di kabupaten Flores Timur belum siap menjalankan program digitalisasi, karena minimnya infrastuktur pendukung,” berikut pernyataan Jinny da Gomez salah satu narasumber dalam diskusi digitalisasi sekolah di Flores Timur dan problema merdeka belajar, khususnya pengaruh game online di kalangan pelajar yang digelar pada, Kamis (05/05/2022).
Diskusi yang diprakarsai oleh keluarga pelajar Flores Timur Daratan di Yogyakarta ini memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2022 lalu, yang diadakan secara virtual maupun offline.
Jinny da Gomez menambahkan, di era merdeka belajar, kebijakan yang diluncurkan oleh Mendikbudristek mendorong semua elemen agar dapat membangun kolaborasi melalui berbagai sarana dan fasilitas.
Salah satunya kata Jinny, fasilitas digital yang dapat digunakan sebagai sumber belajar, sarana belajar serta dapat mengakses informasi yang akan membantu para murid dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Hampir semua sektor di era industry 4.0 ini sudah melakukan digitalisasi. Yaitu dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. Hal itu juga yang dilakukan di sektor pendidikan. Kita harus bersama-sama serentak bergerak memajukan pendidikan, karena sekali lagi pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Jinny menyambung, agar pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur memperhatikan sungguh atas persoalan yang tengah di hadapi sekolah-sekolah di Kabupaten Flores Timur.
Apalagi di Flores Timur merupakan kabupaten kepulauan, untuk itu perhatikan pemerintah atas infrastruktur pendidikan juga harapnya harus merata di setiap sekolah.
Dengan adanya kegiatan diskusi bersama anggota organisasi, Jinny da Gomez berharap agar ke depannya Ikaflodya bisa mengadakan diskusi bersama dengan pemerintah kabupaten Flores Timur terkait permasalahan digitalisasi sekolah di Flotim dan problema merdeka belajar.
“Kami juga ingin sekali kedepannya nanti berdiskusi dengan pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur soal permasalahan ini, dan mencari solusi bersama, atau berdiskusi soal perkembangan di daerah, agar kami mahasiswa dari Flores Timur yang berada di luar daerah, suatu saat bisa memberikan kontribusi terkait hal ini melalui pendapat dan aksi kami kedepannya,” ungkapnya.
Selain Jini da Gomez, salah satu peserta diskusi Ramon Tukan juga mengatakan hal serupa.
Ramon menyampaikan, digitalisasi pendidikan mesti disambut dengan SDM dan infrastruktur yang memadai.
“Ruang digital ini menyajikan ruang belajar yang lebih luas dan tanpa batas. Oleh karena itu kami berharap, aturan untuk digitalisasi pendidikan juga musti dirumuskan,” ucapnya.
Charles salah satu peserta diskusi juga turut memberikan tanggapan terkait tema diskusi mereka.
Program Digitalisasi Sekolah jelas Charles, merupakan terobosan baru yang memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mempermudah proses belajar mengajar.
Program digitalisasi sekolah kata Charles, akan didukung dan ditindaklanjuti dengan peningkatan kompetensi guru, khususnya di bidang penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Hal ini karena guru merupakan ujung tombak dan penentu keberhasilan program digitalisasi sekolah untuk mempercepat terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
”Kunci berhasil atau tidaknya program digitalisasi sekolah ada pada guru. Jadi kompetensi guru harus baik. Guru harus belajar tiap hari baik bersama instruktur, belajar sendiri, ataupun belajar dengan koleganya dalam asosiasi guru,” tutur Charles.
