0%
logo header
Minggu, 03 Mei 2026 19:30

Husniah Talenrang: Dalam Sinrilik Ada Sejarah Hingga Etika Hidup Orang Gowa

Chaerani
Editor : Chaerani
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang saat menghadiri Pembukaan Sekolah Sinrilik Angkatan I, di Sanggar Bakti Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, kemarin. (Dok. Humas Gowa)
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang saat menghadiri Pembukaan Sekolah Sinrilik Angkatan I, di Sanggar Bakti Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, kemarin. (Dok. Humas Gowa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang menilai bahwa sinrilik memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan memelihara ingatan kolektif masyarakat Kabupaten Gowa.

“Sinrilik adalah pustaka berjalan yang memuat sejarah, nilai kepahlawanan, hingga etika hidup orang Gowa. Jika ia hilang, maka hilang pula jejak jati diri kita,” ujarnya, saat menghadiri Pembukaan Sekolah Sinrilik Angkatan I, di Sanggar Bakti Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, kemarin.

Kegiatan ini pun menjadi langkah awal dalam melahirkan generasi penerus tradisi tutur sinrilik di tengah keterbatasan jumlah penutur. Termasuk, menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi lisan yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Bersama Pemprov Sulteng Pacu Investasi Lewat Percepatan Infrastruktur Kelistrikan

Husniah menekankan kehadiran sekolah ini sebagai langkah nyata dalam mengatasi kurangnya jumlah passinrilik yang fasih dan tantangan minat generasi muda di tengah arus digital.

“Sekolah Sinrilik menjadi ruang belajar yang menghubungkan pengetahuan teknik, pemahaman makna, dan kemampuan beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan pakem,” lanjutnya.

Dalam upaya pelestarian ini pun membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda agar tradisi tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga : Pengurus IPIM Gowa Didorong Perkuat Peran Imam Masjid di Kecamatan

“Semoga peserta angkatan pertama menjadi penjaga nyala budaya yang mampu membawa sinrilik kembali hadir di sekolah, panggung budaya, hingga ruang yang lebih luas,” harap Bupati Gowa.

Sementara, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan, Sinatriyo Danuhadiningrat, menekankan pentingnya kerja sistematis dalam pelestarian tradisi lisan.

“Pelestarian budaya membutuhkan pendataan yang akurat, dokumentasi yang rapi, serta pengarsipan yang berkelanjutan agar tradisi seperti sinrilik tetap terjaga dan dapat diakses lintas generasi,” terangnya.

Baca Juga : Terima Dokumen KKPR, PLN Siap Ciptakan Infrastruktur Energi Hijau di Sulawesi

Ia menambahkan bahwa sinrilik merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memerlukan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan akademisi agar tetap hidup.

Di tempat yang sama, Akademisi, Muhammad Thahir dalam orasi ilmiahnya mengingatkan bahwa tradisi tidak cukup diwariskan, tetapi harus terus dihidupkan dalam konteks kekinian.

“Sinrilik ini perlu diberi ruang untuk tumbuh di tengah masyarakat modern, diolah dengan pendekatan baru tanpa kehilangan ruh sehingga tetap relevan,” jelas Thahir.

Baca Juga : Kado Hardiknas untuk Warga Makassar, Munafri Tambah Insentif Guru hingga Fasilitas untuk Siswa

Pembukaan Sekolah Sinrilik ini diharapkan menjadi titik awal penguatan tradisi lisan di Kabupaten Gowa agar terus berlanjut dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646