0%
logo header
Sabtu, 11 April 2026 13:59

Ikon Adat dan Budaya, Kawasan Museum Balla Lompoa Jadi Lokasi Pernikahan Keluarga Kerajaan Gowa

Chaerani
Editor : Chaerani
Pelaksanaan pernikahan warga Kabupaten Gowa di Istana Tamalate yang menjadi bagian dari Kawasan Museum Balla Lompoa, Sabtu, (11/04/2026). (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)
Pelaksanaan pernikahan warga Kabupaten Gowa di Istana Tamalate yang menjadi bagian dari Kawasan Museum Balla Lompoa, Sabtu, (11/04/2026). (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Kawasan Museum Balla Lompoa, khususnya di Istana Tamalate menjadi tempat pelaksanaan pernikahan warga Kabupaten Gowa yakni Andi Siti Alifa Syalda dan Muhammad Irwan.

Hal ini membuktikan bahwa kawasan ini berfungsi bukan hanya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga sebagai tempat berbagai kegiatan sosial, adat dan kebudayaan daerah. Apalagi pelaksanaan pesta pernikahan ini diselenggarakan dari keluarga keturunan Kerajaan Gowa.

Salah satu perwakilan keluarga pengantin, Ahmad Johan, mengungkapkan bahwa penggunaan kawasan tersebut bukanlah hal yang biasa, melainkan sebuah kehormatan yang diberikan dari pemerintah daerah karena kedekatan keluarga dengan garis keturunan Kerajaan Gowa .

Baca Juga : Lewat Workshop Hibah Penelitian dan Pengabdian Internasional, Dosen Manajemen FEB UNM Perkuat Kapasitas Riset Global

“Kalau dibandingkan biasanya harus sewa tempat, tapi karena kami diberi izin, mungkin karena masih termasuk keluarga dekat, jadi kami diizinkan menempati lokasi ini untuk melangsungkan resepsi pernikahan anak kami,” ujarnya, saat dikonfirmasi di Istana Tamalate, Sabtu, (11/04/2026).

Sementara, terkait proses perizinan, ia menyebut bahwa pemerintah setempat, khususnya pihak yang mengelola sektor pariwisata dan budaya, memberikan respons yang positif. Menurutnya, izin diberikan dengan mempertimbangkan latar belakang keluarga yang masih memiliki garis keturunan kerajaan.

“Responnya bagus, ditanggapi secara positif. Karena banyak dari kami ini memang keturunan kerajaan, jadi diberikan izin. Mungkin kalau tidak sesuai aturan penggunaan tempat pasti tidak akan diizinkan,” jelasnya.

Baca Juga : Tamsil Linrung Serukan Konsolidasi Umat, Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Kemandirian Nasional

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua acara pernikahan keluarga dilakukan di kawasan bersejarah tersebut. Dalam beberapa kesempatan, keluarga juga menggunakan gedung lain untuk menggelar acara serupa.

“Tidak selamanya di sini. Kadang kami juga menggunakan gedung seperti gedung Haji Bate. Ini kebetulan saja karena pengantin merupakan cucu dari raja terakhir yakni Andi Kumala Ijo,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan acara di Museum Balla Lompoa juga menjadi bagian dari upaya keluarga besar kerajaan untuk terus melestarikan adat dan budaya lokal.

Baca Juga : Dapatkan Kesempatan Raih Voucher Listrik dengan Beli Token Listrik di PLN Mobile

“Iya betul, ini juga untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda, khususnya cucu-cucu keluarga kerajaan, agar tetap mengenal dan melestarikan budaya yang ada,” tutupnya.

Penyelenggaraan pernikahan di kawasan Museum Balla Lompoa ini menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga sebagai simbol sejarah, tetapi juga tetap hidup dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa, Ary Mahdin Asfar, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut kini tidak hanya difungsikan sebagai tempat wisata sejarah, tetapi juga telah berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Baca Juga : Lindungi Generasi Muda dari Nikotin, Pemkot Makassar Perkuat Regulasi Pengendalian Tembakau

“Tidak sedikit kawasan Museum Balla Lompoa ini dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan formal, seperti ruang diskusi, pertemuan, hingga aktivitas olahraga di sore hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, daya tarik museum yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Sungguminasa ini juga terlihat pada koleksi-koleksi bersejarah yang ditawarkan kepada pengunjung. Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar museum ini semakin dioptimalkan sebagai pusat kegiatan kemasyarakatan, khususnya yang berkaitan dengan kebudayaan.

“Mari kita mengembalikan nuansa Museum Balla Lompoa ini dengan berbagai kegiatan kebudayaan. Baik dengan menampilkan tarian-tarian, sinrilik, dan lainnya. Intinya tempat ini terbuka untuk berbagai aktivitas, namun tetap mengikuti aturan yang berlaku,” tegas Ary.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646