REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Industri jasa keuangan di Sulawesi Selatan terus menunjukkan ketahanan di tengah dinamika perekonomian nasional maupun global.
Salah satunya di sektor perbankan yang hingga posisi Juni 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif. Kondisi ini tercermin dari peningkatan aset, penyaluran kredit, dan penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) perbankan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin mengatakan, total aset perbankan di Sulawesi Selatan hingga periode tersebut mencapai Rp214 triliun atau tumbuh 5,99 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, total aset perbankan tercatat sebesar Rp200,37 triliun.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Dorong Pertanian Berkelanjutan melalui Greenhouse di Luwu Timur
“Industri sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan masih mencatatkan kinerja yang stabil dengan pertumbuhan positif, terutama di sektor perbankan,” katanya, dalam Media Breafing Kondisi Sektor Jasa Keuangan di Sulawesi Selatan, di Kantor OJK Sulselbar, kemarin.
Selain pertumbuhan aset, penyaluran kredit juga terus meningkat. Hingga Juni 2026, kredit perbankan mencapai Rp176,30 triliun atau tumbuh 5,27 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar Rp167,47 triliun.
Menurut Muchlasin, pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan aktivitas pembiayaan kepada dunia usaha dan masyarakat masih berlangsung dengan baik sehingga tetap mendukung pergerakan ekonomi daerah.
Baca Juga : Srikandi PLN UID Sulselrabar Cetak 100 Perempuan Tangguh dan Siaga Bencana
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan di Sulawesi Selatan juga mencatatkan pertumbuhan 5,71 persen secara tahunan. Nilai DPK meningkat dari Rp141,69 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp149,77 triliun pada Juni 2026.
“Di Juni 2025 penghimpunan dana masyarakat Sulsel di perbankan itu sebesar Rp141,69 triliun. Sedangkan di periode saat ini itu tembus Rp149,77 triliun,” ujarnya.
Ia menambahkan, fungsi intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan juga masih berjalan cukup tinggi. Hal itu tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 117,71 persen. Meski demikian, kondisi tersebut tetap diimbangi dengan kualitas kredit yang terjaga.
Baca Juga : Pilah Sampah Solusi Menyelamatkan Kota Makassar
“Di sisi kinerja intermediasi relatif cukup tinggi dengan LDR sebesar 117,71 persen, namun tetap didukung kualitas kredit yang terkendali dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,70 persen,” jelasnya.
Menurut Muchlasin, dengan capaian kinerja perbankan di periode tersebut menandakan bahwa industri perbankan Sulawesi Selatan masih berada dalam kondisi yang sehat dengan kemampuan menyalurkan kredit secara agresif, namun tetap menjaga risiko kredit pada level yang terkendali.
“Kondisi ini diharapkan dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan pembiayaan bagi sektor produktif dan penguatan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan,” harap Muchlasin.
