Obituari Prof. Dr. Ir. Radi A.Gany, Misteri Cincin “Permata Ungu”

0

Oleh: M. Dahlan Abubakar (Pimpinan Redaksi Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID — Ada kekhawatiran saya ketika berangkat ke Bima, Rabu (12/02/2020) kemarin. Saya mengontak Baco, pembantunya, perihal kondisinya. Dia menjawab, masih di rumah sakit dan keadaannya masih belum berubah, Masih terpasang oksigen dan peralatan lain di beberapa tempat. Prof.Radi sejak masuk kembali ke RS Unhas, sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan siapa pun.

Jika tidak salah, sudah dua minggu di ruang Intensive Care Unit (ICU), unit perawatan khusus, di lantai II RS almamaternya. Saya hanya sempat membesuk sekali, setelah masuk kembali ke RS Unhas.

Kamis (13/02/2020) pagi sekitar pukul 07.00, saya baru saja bangun berdiri di pondok kecil di atas dua petak kolam di ujung kampung kelahiran, Kanca Bima, sekitar 55 km di sebelah selatan Kota Bima, ketika Albez, yang pernah jadi “ajudan” Prof.Dr.Ir.Radi A.Gany saat menjabat anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) 2006-2010.

“Prof meninggal!,” pendek sekali informasinya, diikuti suara Albez, putra Mamasa yang pernah tinggal bersama Pak Radi hingga diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN) membuat suara saya tercekak sejenak sebelum melanjutkan.

“Abu, (panggilan ayah yang sudah berhaji di Bima), Prof. Radi meninggal,” kata saya dengan air mata menyungai dan terisak.

Ayah saya, H.Abubakar H.Yakub, yang terakhir kali bertemu almarhum saat saya menjalani ujian promosi doktor 18 Mei 2018 di Unhas langsung mnelazaskan “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’’.

Prof. Radi bagi saya melekat tiga predikat. Beliau adalah orang tua, atasan, dan juga sahabat saya — seperti selalu dikatakannya. Sebagai orang tua, karena dari beliau saya banyak belajar tentang kepribadian dan keadaban sebagaimana yang menjadi ciri khasnya. Dari beliau saya banyak “duji” bagaimana mempertahankan integritas sebagai orang yang dipercaya.

Saya masih ingat, tahun 2004 ketika berlangsung peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang dirangkaikan dengan Pekan Olahraga wartawan Nasional (Porwanas) di Palembang, minta izin meninggalkan tugas sebagai Kepala Humas Unhas dan juga dosen Fakultas Ilmu Budaya beberapa hari.

“Apa yang bisa saya bantu, Lan?,” begitulah beliau menyapa saya, mengindikasikan hubungan silaturahim kami begitu sangat akrab.

“Saya hanya perlu sedikit biaya pengiriman berita melalui faksimili,” jawab saya.

“OK, suruh saja Dana (Mardiana, Staf Rektor Unhas) bikin kuitansi, nanti saya tandatangan,” kata beliau dan saya bergembira mendengar titahnya.

Dana kemudian membuat kuitansi dan sempat bingung beberapa saat karena ternyata di kolom rupiah tidak tercantum angka yang dibutuhkan, sementara kuitansi sudah diteken rektor. Saya maklum, Prof. Radi memercayakan kepada saya untuk menyebut berapa dibutuhkan, sementara bagi saya, menyebut berapa adalah sesuatu yang mustahil sebagai bawahan.

Setelah mengetahui kebingungan Ibu Dana, saya mengatakan, tulis saja Rp 500.000. Salah seorang pembantu dekat Prof. Radi mengetahui angka tersebut menimpali dengan mengatakan, jika dia pada posisi seperti itu, nolnya akan berjumlah enam.

Saya berpikir waktu itu, tidak mau merusak kepercayaan Prof Radi dengan mem-patgulipatkan angka. Jika saya ingin memanfaatkan kesempatan, banyak peluang tersedia untuk itu ketika saya dipercaya mencetak beberapa bukunya yang saya tulis dan edit dan dicetak di Yogyakarta. Kalau saya mau, sebut saja biaya cetak seenak perut, tokh waktu itu biaya operasional rektor tidak perlu dipertanggungjawabkan dan beliau tetap percaya angka yang saya katakan. Tetapi untuk apa? Hanya merusak integritas dan kepercayaan.

Prof. Radi adalah atasan saya saat menjabat Pembantu Rektor I Unhas (1993-1997) dan Rektor Unhas (1997-2006). Sebagai bawahan saya kerap ditempatkan sebagai teman, karena berangkat dari pertemanan sejak 1987, saat beliau menjabat Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unhas. Bahkan ketika berkunjung ke Timor Timur 1994 sekaligus menyerahkan peserta Bakti Sosial Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemat (KMA PBS) ke Pemprov Timor Timur (sebelum jajak pendapat), selaku Pembantu Rektor I dan mewakili Rektor Unhas, Prof Radi minta saya menemaninya di hotel. Saya justru minta tidur di kamar lain, tetapi beliau minta satu tempat tidur besar “diduai”.

Pertemanan saya dengan beliau mungkin melebihi yang lain. Pada saat sepi sendiri habis bermain golf di Jakarta, terkadang saya ditelepon.

“Lagi di mana, Lan?,” begitu kalimatnya yang bagi saya sudah terasa klise tetapi tetap senang mendengarnya.

“Di Makassar ji,” jawab saya pendek.

“Kapan ke Jakarta?,” balasnya lagi.

“Iih.. kalau ada yang “perjalankan” hari ini, siap,” sambung saya sedikit kelakar.

“Ok, tunggu,” katanya lagi.

“Nanti berangkat jam segini, sebentar saya kirimkan tiketnya,” katanya lagi dan tidak berapa lama kiriman tiketnya meluncur masuk ke Whatsapp.

Kalau tidak salah waktu itu,saya terbang ke Jakarta Jumat. Setelah sarapan pagi di kediamannya di Bekasi Barat, beliau mengajak saja ke toko buku di kawasan Bekasi, karena tahu saya maniak buku. Dari toko buku beliau mengajak saya ke Masjid Istiqlal menunaikan salat zuhur. Ini kedua kali saya bersama beliau ke masjid megah ini, setelah pertama kali ketika menjabat Wantimpres.

Kembali dari masjid, kami kembali ke Bekasi.

“Kapan pulang, Lan?” beliau bertanya saat kami duduk sembari menyeruput kopi yang dihidangkan Didi, pria bujang yang disekolahkan Prof.Radi dan menjaga rumah itu seorang diri.

“Minggu sore,” jawab saya.

“Kalau begitu sama-sama saja pulang,” beliau memberitahu.

Saya kemudian maklum, Prof. Radi ingin ada teman yang diajak diskusi. Sambil menyeruput kopi di kediamannya di Bekasi, kami menghabiskan puluhan menit berdiskusi dan memperbincang beragam masalah sosial politik yang sedang viral di media.

Cincin Permata Ungu

Menjelang kepergian Prof. Radi, sempat membuat saya gundah ketika pada tanggal 29 Oktober 2019, sehari sebelum usianya genap 77 tahun, permata cincin berwarna ungu pemberiannya tiba-tiba saja hilang ketika saya sedang memberikan kuliah. Begitu mengetahui mata cincin yang dibeli tahun 2003 seharga Rp 250.000 di Pasar Sayur Balikpapan itu, batin saya langsung bagaikan ter-strom. Mata batin saya bertanya beberapa saat, ada apa ini?. Ternyata pada kesempatan yang sama, Prof. Radi sedang sakit. Setelah kejadian itu, saya singgah membesuknya dengan Hery sebelum terbang ke Bima.

Cincin dengan permata berwarna – maaf – janda tersebut sudah puluhan perempuan yang meliriknya. Mereka mengagumi cincin tersebut yang tentu saja berhasrat memilikinya.

“Saya termasuk yang tidak bisa menolak permintaan, tetapi izinkan saya tidak memenuhinya, karena ini pemberian,” kata saya sembari menyebut nama Prof.Radi.

Yang lucu, orang terakhir yang “menegur” permata cincin saya itu adalah Hj.Andi Dahlia, istri Prof. Radi sendiri. Suatu hari saya ke rumah almarhum di Kawasan Pai Sudiang sana. Saat duduk=duduk bersama, tiba-tiba saja Ibu Andi Dahlia menegur.

“Ehh..bagusnya permata cincinnya Pak Abu,” begitu biasa Andi Dahlia menyapa saya, meski saya tidak terbiasa disapa seperti itu.

“Oh.. ini, Bapak yang belikan saya di Balikpapan tahun 2003,” jawab saya.

“Saya juga sudah lupa,” Prof.Radi menimpali.

“Waktu kita singgah di Pasar Sayur di Balikpapan tahun 2004, Pak,: kata saya menambahkan.

Usai kehilangan permata cincin tersebut, saya pun ke kediaman Prof. Radi, karena memperoleh informasi habis keluar dari rumah sakit lantaran jatuh.

“Jatuh ka, Hanya lecet,” katanya pendek saat saya singgah membesuknya.

Beliau tidak ingin merepotkan orang, sehingga berita sakitnya orang tahu dari mulut ke mulut.

Setelah kehilangan permata cincin pemberiannya itu, saya sempat ditelepon dan memberitahu kalau beliau habis dirawat di Rumah Sakit

Akademis.

“Ih.. tidak diinfokan ka,” begitulah bahasa gaul saya dengan beliau.

“Ah. takut. nanti merepotkan,” balasnya.

“Ah..tidak ji, itu, karena kita mau datang menghibur,” ucap saya.

Ketika masuk di RS Unhas, saya sempat khawatir karena ada pesan tidak boleh dibesuk. Saya dua kali gagal membesuk karena dihadang oleh Petugas Satpam RS Unhas yang meneruskan pesan tidak boleh dibesuk.

Pertengahan Januari 2020, usai dari RS Unhas, kalau tidak salah, saya membesuknya lagi ketiga kalinya di kediamannya di Pai Sudiang. Waktu itu, beliau terbaring. Karena saya datang, Baco yang biasa mengangkat dan menurunkannya ke dan dari tempat tidur “menjemputnya” di kamar dengan kursi roda. Dia keluar, duduk bersam saya, Hery, dan seorang cucunya.

Tidak berapa lama duduk, beliau minta diambilkan laptopnya dalam susunan kalimat yang terdengar sulit dipahami. Tangannya digerakkan sedikit membantu meluruskan maksudnya, sehingga benda itu ada di depannya.

Hery, anak saya, yang biasa membantu ketika beliau lupa “pintu masuk” ke laptopnya itu, langsung menghidupkan laptop. Saya memberi Hery membuka saja file dengan “produksi” terakhir. Di situ ada tulisan dengan label “Tamalanrea 30 Oktober 2019”, tepat pada ulang tahunnya yang ke-77. Berjudul “Keadaban” dan “Operasi Lappo Ase, Kebijakan Peningkatan Produksi Beras bernapaskan Kearifan Lokal”.

Tulisan ini salah satu impiannya dapat mengisi edisi revisi buku almarhum berjudul “Irigasi Tanpa Bendung” yang saya edit tahun 2015. Dan tentu saja, titipan amanah buat saya untuk mewujudkannya.

Saat masuk lagi RS Unhas yang terakhir kali, suatu sore saya membesuknya bersama Dr.Hasrullah. Sudah tidak bisa lagi berkomunikasi. Setelah memegang tangannya dan berdoa bagi kesembuhannya, saya pun bergerak ke luar kamar tempatnya berbaring. Dari balik kaca kamar, saya mendengar pekiknya karena kepanasan. Suhu tubuhnya waktu itu, 38,90 tertera pada indikator peralatan medik di sebelah kanan pembaringannya. Mata saya sembab dalam pandangan yang kosong…..

Selamat jalan, Prof. kenangan bersamamu tidak cukup dikisahkan selembar media ini. Semoga husnul khatimah. Al Fatihah…..(*).

(Kanca, Bima, tempat kelahiranku, saat tidak sempat menatapmu terakhir kali, 13 Februari 2020)

Tinggalkan Balasan