0%
logo header
Senin, 06 April 2026 09:41

OJK-Kemenag Luncurkan Buku Saku ESA 2026, Panduan Keuangan Berbasis Syariah untuk Masyarakat

Chaerani
Editor : Chaerani
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi saat menghadiri Penutupan GERAK Syariah 2026, di Kantor OJK Menara Radius Prawiro, Jakarta, kemarin. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi saat menghadiri Penutupan GERAK Syariah 2026, di Kantor OJK Menara Radius Prawiro, Jakarta, kemarin. (Dok. Otoritas Jasa Keuangan)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia mendorong masyarakat untuk lebih memahami terkait pengelolaan keuangan berbasis syariah.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan melakukan Buku Edukasi Keuangan Berbasis Agama (ESA). Buku saku ini menjadi panduan praktis bagi masyarakat untuk mempelajari pengelolaan keuangan, termasuk keuangan syariah, dengan pendekatan nilai-nilai agama yang relevan dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

“Pemanfaatan Buku ESA dimaksud diharapkan mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan inklusif dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan,” terang, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, di sela-sela peluncuran, kemarin.

Baca Juga : OJK Dorong Industri BPR Lebih Sehat dan Berdaya Saing

Termasuk, kehadiran buku saku ESA tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan masyarakat yang cakap literasi keuangan dan mampu mengelola keuangannya dengan baik dalam mencapai kesejahteraannya. Selain itu, peluncuran Buku ESA ini sejalan dengan prinsip keuangan syariah yang bersifat Universal, serta memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

“OJK menegaskan komitmennya untuk terus mendorong terwujudnya masyarakat yang semakin terliterasi dan terinklusi keuangan syariah melalui penguatan sinergi dan kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar mengatakan, perilaku ekonomi syariah ini perlu terus ditingkatkan. Apalagi, saat ini populasi muslim di Indonesia telah mencapai 244 juta, sementara perilaku ekonomi syariahnya hanya sekitar 7,6 persen.

Baca Juga : Digelar di Sidrap, Yamaha Cup Race 2026 Seri I Satukan Konsep Hiburan dan Promo

Sehingga, dianggap masih jauh apabila dibandingkan dengan Malaysia yang telah mencapai sebesar 67 persen.

“Jadi mestinya peningkatannya jauh lebih tinggi. Tapi apapun namanya, itu jauh lebih baik daripada datar seperti selama ini. Saya melihat ada kurvanya naik, saya juga mengikuti perkembangan tahun lalu dibandingkan dengan tahun ini ada peningkatan,” katanya.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646