REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kinerja pasar saham domestik masih berada dalam fase konsolidasi sepanjang Juni 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global serta penyesuaian (rebalancing) portofolio investor. Meski demikian, ketahanan dan likuiditas pasar modal Indonesia dinilai tetap berada pada level yang terjaga.
Kepala Pengawas Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) OJK, Hasan Fawzi mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Juni 2026 ditutup di level 5.643,19 atau terkoreksi 7,90 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm) dan 34,74 persen secara tahun berjalan atau year-to-date (ytd).
Baca Juga : Dukung Argentina, Wabup dan Dandim Gowa Nonton Piala Dunia Bersama Warga Pattallassang
“Meski terjadi penyesuaian atau rebalancing portofolio investor, resiliensi dan likuiditas pasar modal dalam negeri secara umum tetap manageable,” katanya, dalam keterangan resminya, kemarin.
Dari sisi likuiditas, OJK mencatat rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik pada Juni 2026 berada di level 1,75 persen, sedikit meningkat dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 1,50 persen. Kondisi tersebut menunjukkan likuiditas pasar secara umum masih terjaga.
Sementara itu, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) di pasar saham tercatat sebesar Rp22,23 triliun, sedikit menurun dibandingkan Rp22,86 triliun pada Mei 2026. Di sisi lain, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp19,63 triliun, meningkat dibandingkan net sell Rp4,10 triliun pada bulan sebelumnya seiring volatilitas pasar keuangan global dan penyesuaian portofolio investor.
Baca Juga : Kalla Aspal Siapkan Material Jalan Ramah Lingkungan, Dukung Kebutuhan Infrastruktur di Kalimantan
Pada pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 429,85 pada Juni 2026 atau terkoreksi 1,69 persen secara bulanan dan 2,49 persen secara tahun berjalan. Rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) juga meningkat sebesar 40 basis poin (bps) secara bulanan atau 96,22 bps sejak awal tahun, dipengaruhi oleh dinamika persepsi risiko akibat ketidakpastian global.
Meski pasar obligasi bergerak dinamis, minat investor asing terhadap SBN tetap positif. Hal ini tercermin dari aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp22,43 triliun pada Juni 2026, berbalik dari posisi net sell Rp3,70 triliun pada Mei 2026. Sementara itu, di pasar obligasi korporasi, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp0,07 triliun setelah pada bulan sebelumnya membukukan net buy Rp0,20 triliun.
“Perkembangan pasar turut memengaruhi kinerja industri pengelolaan investasi yang mengalami moderasi terbatas selama periode pelaporan. Nilai Asset Under Management (AUM) per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.011,81 triliun. Kondisi turun 3,14 persen secara bulanan dan 2,96 persen secara tahun berjalan,” jelasnya.
Baca Juga : Pemkab Gowa dan Pemkot Palu Eratkan Silaturahmi Lewat Sepakbola Persahabatan
Adapun Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp652,90 triliun atau turun 4,79 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan melemah 3,32 persen secara year-to-date. Investor reksa dana juga mencatatkan net redemption sebesar Rp23,75 triliun secara bulanan, sementara secara kumulatif sejak awal tahun masih terjadi net redemption yang relatif terbatas sebesar Rp2,14 triliun.
Ke depan, OJK akan terus memantau perkembangan pasar keuangan serta menjaga stabilitas dan integritas pasar modal nasional melalui penguatan pengawasan dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan.
“OJK menilai dinamika tersebut masih mencerminkan proses penyesuaian pasar di tengah tingginya ketidakpastian global,” ujar Hasan.
