REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik, tekanan inflasi, serta ekspektasi kenaikan suku bunga di berbagai negara.
“Kondisi sektor jasa keuangan nasional masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan eksternal,” terang Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK secara virtual, kemarin.
Ia mengungkapkan, dinamika ekonomi global saat ini masih diwarnai kenaikan harga energi akibat eskalasi konflik geopolitik. Kondisi tersebut mendorong peningkatan inflasi di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Inggris, yang bahkan telah melampaui rentang target inflasi masing-masing.
Baca Juga : Konsen Majukan Pendidikan, DM Terima Anugerah Adhiwidya PNFI Indonesia
“Tekanan inflasi tersebut membuat sejumlah bank sentral global melanjutkan kebijakan moneter ketat. Suku bunga kebijakan diperkirakan masih bertahan pada level tinggi hingga 2027,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan ruang fiskal turut mempersempit kemampuan pemerintah di berbagai negara, khususnya kawasan Eropa, untuk memberikan subsidi kepada masyarakat di tengah melemahnya daya beli akibat kenaikan harga kebutuhan.
Sejumlah negara bahkan mulai menghadapi kebutuhan konsolidasi fiskal melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah. Perkembangan ini turut meningkatkan ketegangan sosial dan memicu gejolak di berbagai wilayah.
Baca Juga : Rangkaian HUT ke-15 NasDem Dimulai di Sidrap, 212 Kader Penggerak Dilantik
Ketidakpastian global juga diperburuk oleh ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dan instabilitas politik. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global. Kinerja bursa saham dunia turut menghadapi tekanan akibat koreksi saham teknologi. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara terus meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Hanya saja, meski menghadapi tekanan eksternal, kondisi perekonomian domestik masih menunjukkan perkembangan yang relatif terjaga. Dari sisi permintaan, pola konsumsi masyarakat mulai bergeser menjadi lebih konservatif. Rumah tangga cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok.
Inflasi domestik mengalami peningkatan, terutama dipengaruhi kenaikan harga pangan, sedangkan pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif stabil.
Baca Juga : Bupati Gowa Targetkan Kontingen Raih 143 Medali di Porprov XVIII Sulsel
“Di tengah perubahan pola konsumsi tersebut, penjualan kendaraan bermotor masih tumbuh cukup solid, terutama didorong oleh meningkatnya penjualan mobil listrik,” ujarnya.
Sementara dari sisi produksi, aktivitas manufaktur nasional menunjukkan penguatan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 meningkat ke level 54, menjadi posisi tertinggi sejak Maret 2024.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus, yang menunjukkan aktivitas perdagangan eksternal tetap memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga : Bantu Warga Luar Kota Berobat, YBM PLN UIP Sulawesi Siapkan Rumah Singgah Pasien di Makassar
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 juga masih terjaga positif sebesar 5,47 persen secara tahunan (year on year/yoy). Seluruh lapangan usaha tercatat mengalami pertumbuhan positif,” jelas Friderica.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa fundamental ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global.
