OPINI: Apa Kabar Pe-ka-i?

  • Bagikan

Oleh: Falihin Barakati (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII dan Mahasiswa Pascasarjana UNJ)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, — “Kalau belakangan ini ada kekhawatiran PKI akan bangkit?” tanya Andi F Noya kepada Gus Dur dalam sebuah acara di televisi. Hadirin jadi tegang, karena memang isu PKI selalu menakutkan. Lalu, apa jawaban Gus Dur? “Kenapa takut? PKI aja ditakuti,” jawab Gus Dur dengan santainya, yang diikuti dengan tawa para hadirin.

Begitu kira-kira singkatnya, tentang pandangan Gus Dur terhadap kabar-kabar bangkitnya PKI. Sang Guru Bangsa yang paling terdepan dalam upaya pencabutan TAP MPRS No. XXV tahun 1966 tentang larangan PKI dan ajaran komunisme, ketika Gus Dur masih Presiden RI. Ada sebuah pesan untuk tidak perlu ada rasa takut yang berlebihan. Masyarakat tidak perlu ditakut-takuti agar masyarakat tak takut. Buktinya, jawaban Gus Dur itu membuat hadirin tertawa, paling tidak di situasi itu rasa takut hadirin hilang seketika dengan tawa yang pecah.

Isu Pe-ka-i memang menjadi isu tahunan. Setiap bulan September selalu muncul. Apalagi kalau di musim Pilpres, intensitasnya makin meningkat. Isu Pe-ka-i menjadi gorengan yang begitu laris di publik. Sampai-sampai Abang Gorengan kebingungan karena pisang goreng, ubi goreng, tahu isi dan bakwan jualannya gak laku. Publik lebih banyak disuguhkan dengan gorengan isu Pe-ka-i. Padahal tidak membuat kenyang, hanya menciptakan ketakutan.


Di bulan September 2020 ini, isu Pe-ka-i itu hadir lagi. Tapi, tidak begitu laku. Selain musim Pilpres masih jauh, publik saat ini masih menghadapi masalah pandemic Covid-19 dengan berbagai dampak buruk yang ditimbulkannya.

Seorang mantan Panglima TNI, Jendral Gatot coba mengangkat isu kekhawatiran terhadap bangkitnya Pe-ka-i dalam wawancara di sebuah acara televisi. Salah satunya menyinggung terkait pencabutan TAP MPRS tentang pelarangan PKI, yang menurutnya siapa lagi kalau bukan PKI. Sangat berbahaya pernyataan deklarator KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) ini. Padahal jelas itu adalah upaya dari Gus Dur sebagai seorang Presiden yang kita kenal dengan pandangannya bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Apakah Pak Gatot sadar bahwa pernyataannya itu bisa mengarah pada seorang Kiai NU, Gus Dur? Apakah Pak Gatot ingin menuduh Gus Dur sebagai seorang PKI? Entahlah.

Pemberontakan Gerakan 30 September (G30S) adalah sejarah kelam bangsa. Peristiwa itu menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa yang kita harapkan tidak kembali terulang. Sekalipun, ada salah satu group band lawas dari negeri jiran Malaysia, New Boyz dengan lagunya “sejarah mungkin berulang”. Namun, bukan karena itu kita mesti takut berlebihan apalagi sengaja menciptakan ketakutan dengan isu kembali bangkitnya Pe-ka-i di Indonesia hanya untuk membuat kegaduhan.

Bangsa kita sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai jenis pemberontakan. Dari pemberontakan yang berideologi agama hingga pemberontakan yang berideologi anti agama. Jadi tidak perlu takut berlebihan yang melahirkan tuduhan-tuduhan tak berdasar kepada anak bangsa yang ingin membangun rekonsiliasi dengan sejarah kelamnya. Kita mesti bisa move-on. Jangan ada diskriminasi kepada siapapun warga negara Indonesia, termasuk anak dari tokoh-tokoh PKI. Jangan kesalahan dari orang tua mereka, juga ditimpakan kepada mereka. Bukan kah tidak ada dosa yang diwariskan? Setiap orang memikul dan menanggung dosanya masing-masing.
Lalu, jika ada pertanyaan, bagaimana kabar Pe-ka-i hari ini? Organisasi itu sudah dibubarkan sejak tahun 1966. Bahkan hal itu juga disertai dengan pembantai dan pembunuhan ratusan ribu anak bangsa yang terindikasi orang Pe-ka-i sebagai hukuman, meski tanpa diadili lewat meja hijau. Artinya, kekejaman Pe-ka-i, juga sudah dibalas dengan kekejaman. Sekalipun sesama anak bangsa saling menumpahkan darah. Dan, kita berharap kejadian ini adalah akhir dari perjalanan kelam sejarah bangsa tentang pertarungan ideology dan kekuasaan.

Secara global, ideologi komunisme juga sudah memudar. Ibarat embun, pudar sebelum pagi datang. Uni Soviet sebagai kekuatan besar komunisme dunia telah runtuh berkeping-keping. China yang saat ini secara politik berpaham komunisme, tetapi secara ekonomi telah dipengaruhi kapitalisme. Setidaknya sisa 5 negara di dunia yang menganut ideologi yang berdasar dari pemikiran Marxisme-Leninisme ini: China, Kuba, Korea Utara, Vietnam dan Laos. Itupun sudah tidak murni komunisme lagi, khususnya dalam system ekonominya yang sudah dipengaruhi oleh kapitalisme.

Jadi, apa yang harus ditakutkan dengan Pe-ka-i? Meminjam apa yang dikatakan Gus Dur seperti di awal tulisan ini, “Kenapa takut? PKI aja ditakuti”. Kita sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya tak perlu takut apalagi ditakut-takuti dengan isu Pe-ka-i. Jangan menghabiskan energy hanya untuk melawan Pe-ka-i yang tidak jelas keberadaannyanya. Pelajari itu sebagai sejarah agar tidak terulang di massa mendatang. Seperti apa kata seorang penulis asal Spanyol George Santayana: “mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka ditakdirkan untuk mengulanginya”

Tapi, belajar sejarahnya bukan hanya melalui film Pemberontakan G 30S/PKI, tetapi sumber-sumber literasi sejarah lainnya agar bisa memperkaya khasanah pengetahuan kita serta kita tidak terjebak pada penafsiran tunggal terhadap sejarah. Mempelajarinya pun bukan untuk saling membenci dengan kejadian masa lalu, tetapi untuk saling memahami. Mengutip kata seorang pejuang kemanusiaan, Nelson Mandela: “Tujuan mempelajari sejarah bukanlah untuk mencemooh tindakan manusia, atau untuk menangisi atau membencinya, tetapi untuk memahaminya. Dan, semoga kemudian belajar darinya saat kita merenungkan masa depan kita”.

  • Bagikan