OPINI: Kongres ke-20 PMII – Ibu Kota Baru, Gotong Royong dan Kemandirian

  • Bagikan

Oleh: Falihin Barakati (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII dan Mahasiswa Pascasarjana UNJ)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan melakukan Kongres ke-20 pada bulan April 2020 mendatang di Kalimantan Timur (Kaltim), tepatnya di Kota Balikpapan. Terpilihnya Kaltim sebagai tuan rumah Kongres menjadi keputusan yang sangat menarik dan juga strategis. Hal ini dikarenakan Kaltim akan menjadi lokasi pemindahan ibu kota baru Republik Indonesia yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 dan sudah diumumkan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo. Kongres akan menjadi momentum untuk menyambut hadirnya Ibu Kota Baru Indonesia dengan harapan hadirnya ibu kota baru ini akan melahirkan peradaban baru untuk Indonesia Maju.

Begitupun bagi PMII. Sebagai organisasi mahasiswa Islam terbesar dengan jumlah cabang terbanyak di Indonesia, besar harapan pelaksanaan Kongres di Kaltim melahirkan produk-produk musyawarah hasil Kongres yang akan menjadikan organisasi lebih maju, seperti dalam tema Kongres yang diangkat yaitu: “Organisasi Maju untuk Peradaban Baru”.

Kongres tidak hanya dijadikan momentum pergantian kepemimpinan atau kepengurusan, tetapi juga menjadi momentum berdialektika untuk melahirkan ide dan gagasan-gagasan besar untuk kemajuan organisasi serta sumbangsih bagi bangsa dan negara. Pelaksanaan Kongres di ibu kota baru mesti dijadikan semangat untuk melahirkan gebrakan-gebrakan baru dan lompatan-lomptan besar dalam menghadapi tantangan di era disrupsi saat ini, baik secara internal organisasi, maupun secara eksternal yang hubungannya dalam bermasyarakat dan bernegara.

Selain menetapkan ibu kota baru Indonesia sebagai tuan rumah, PMII juga melakukan sebuah gerakan mandiri menjelang Kongres. PMII meluncurkan sebuah gerakan mandiri untuk mensukseskan pelaksanaan Kongres yang diberi nama Goceng Kongres. Gerakan ini dikonsolidasikan di seluruh kepengurusan baik di tingkat provinsi hingga kabupaten/ kota. Sesuai namanya, gerakan ini menggerakkan seluruh kader maupun alumni PMII untuk memberikan sumbangan Rp.5.000 (Goceng) per orangnya.

Menurut Ketua Umum PB PMII Agus M. Herlambang, gerakan ini mendorong spirit baru kader PMII untuk bergotong royong berdasarkan falsafah kebudayaan dan tradisi bangsa  Indonesia. Harapannya seluruh kader dan alumni bisa berpartisipasi dalam gerakan ini, gerakan yang bersumber dari nilai-nilai budaya dan tradisi bangsa Indonesia.

Goceng Kongres menjadi manifestasi nilai-nilai budaya Indonesia yaitu gotong royong. Budaya gotong royong merupakan warisan luhur dari nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak dulu hidup dan dipraktikkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat Nusantara. Budaya gotong royong menjadi identitas dan ciri khas bangsa Indonesia, dimana hidup saling bekerja bersama-sama, saling membantu antar sesama dan bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan Bapak Proklamator Indonesia, Bung Karno menyatakan dalam sebuah pidatonya: “jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan gotong royong. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah Negara Gotong Royong. Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”

Jika kita melihat realitas kehidupan masyarakat di era globalisasi saat ini dimana kemajuan teknologi informasi menyebabkan arus informasi begitu cepat sehingga masuknya budaya-budaya luar tidak dapat terbendung. Budaya gotong royong kita mulai memudar, khususnya di kalangan generasi muda dan juga masyarakat yang hidup di wilayah perkotaan. Pola pikir dan pola hidup masyarakat telah dipengaruhi oleh arus globalisasi khususnya dalam bidang sosial budaya yang membuat kehidupan masyarakat menjadi individualistik. Kebersamaan, kekeluargaan dan rasa senasib sepenanggungan tergerus akibat individualisme, liberalisme dan kapitalisme yang masuk di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, adanya Goceng Kongres ini akan menjadi upaya menguatkan kembali budaya gotong royong kita khususnya di kalangan anak muda atau mahasiswa.

Selain sebagai upaya menguatkan kembali budaya gotong royong, Goceng Kongres menjadi bukti kemandirian anak muda yang secara umum juga merupakan bagian dari upaya menggelorakan semangat kemandirian bangsa Indonesia. Gerakan ini juga boleh dikatakan sesuai dengan konsep kemandirian Bung Karno yaitu berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

Tidak hanya itu, semangat kemandirian seperti ini juga sudah dipraktikkan ketika Hadratus Syech K.H. Hasyim Asy’ari yang mendirikan pesantren Tebuireng dengan biayanya sendiri dari hasil berdagang. Juga bersama K.H. Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) sebagai usaha perdagangan dalam bentuk koperasi untuk kegiatan bersama dalam bidang social ekonomi dimana modal awalnya adalah 1.175 gulden yang bersal dari sumbangan 45 anggota, masing-masing 25 gulden dan dua orang menyumbang 50 gulden.  Ini menjadi contoh bagi anak-anak muda di PMII sebagai organisasi yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama, dalam menghidupkan semangat kemandirian.

Semangat kegotong-royongan dan semangat kemandirian mahasiswa melalui Goceng Kongres ini akan menjadi modal besar dalam menghadapi tantangan zaman untuk memajukan bangsa Indonesia. Saya seakan melihat pesan dalam Kongres ke-20 PMII ini, bahwa mari kita sambut ibu kota baru Indonesia di Kalimantan Timur dengan semangat gotong royong dan kemandirian untuk melahirkan peradaban baru dalam mewujudkan Indonesia maju.

  • Bagikan