Pemuda itu Pemersatu

  • Bagikan

(Catatan 92 Tahun Sumpah Pemuda  dan 1 Tahun Kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf Amin)

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah (Ketua Bidang OKP PB PMII)

Ketika mendengar kata “Pemuda” maka yang terbayang di benak kita adalah semangat. Karena pada pemuda terdapat semangat yang menyala-nyala dan berkobar-kobar. Sampai-sampai seorang Bung Karno hanya membutuhkan sepuluh pemuda untuk menggoncangkan dunia. Begitu pengandaiannya.

Selain semangat, Pemuda juga identik dengan idealisme. Suatu keyakinan akan nilai-nilai kebenaran yang termanivestasikan dalam tindakan, sikap, perilaku, ide dan gagasan. Inilah harta berharga yang dimiliki pemuda. Bahkan, Tan Malaka menyebutkan idealism sebagai kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh Pemuda.

Selain semangat dan idealismenya, Pemuda juga dikenal dengan keberanian dan heroismenya. Berani dalam menghadapi tantangan dan berjuang dengan penuh heroisme. Maka, tidak mengherankan jika seorang penulis dari Inggris, Benjamin Disraeli menyatakan hampir semua hal besar telah dilakukan oleh Pemuda.

Kurang lebih seperti itulah kita menggambarkan pemuda. Memiliki semangat, idealisme, keberanian hingga heroisme. Tentu masih banyak lagi selain itu, yang menngantarkan Pemuda sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika suatu bangsa.

Di Indonesia, Pemuda memiliki sejarahnya tersendiri. Bahkan, pemuda tidak pernah absen dalam setiap momentum bersejarah di bumi Nusantara. Kehadiran pemuda bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku sejarah. Dan, peran-peran itu tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Terbentuknya Boedi Otomo pada 1908 misalnya. Ini menjadi awal keterlibatan pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang kemudian dimaknai sebagai awal kebangkitan nasional. Lalu, peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menjadi momentum bersatunya seluruh pemuda bangsa Indonesia dengan mendaulatkan diri bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia.

Selanjutnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang diawali dengan peristiwa Rengasdengklok. Dimana sekelompok pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta pada 16 Agustus 1945, untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, peran pemuda masih terus berlanjut. Runtuhnya rezim Orde Lama pada tahun 1966 yang diwarnai oleh aksi demonstrasi para pemuda, yang kemudian muncul terma mahasiswa yang juga merupakan bagian dari pemuda. Lalu, lengsernya kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998 yang diwarnai dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang dikenal dengan peristiwa Reformasi.

Dari rentetan sejarah itu, kita bisa melihat bahwa Pemuda memiliki peranan yang sangat besar dalam setiap perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Kehadirannya bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku sejarah. Dan, yang paling monumental dari sekian catatan sejarah itu adalah peristiwa Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Ini menjadi simbolisasi untuk mengingatkan ke setiap generasi bahwa Pemuda memiliki andil besar bagi bangsa Indonesia.

Di tengah dinamika bangsa saat ini, menjadi penting bagi pemuda untuk memetik nilai-nilai yang menjadi pesan dalam setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda. Salah satunya tentang semangat persatuan. Dalam sejarahnya, Sumpah Pemuda adalah momentum bersatunya seluruh pemuda-pemuda bangsa Indonesia. Dari Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak dan masih banyak lagi. Berikrar untuk satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Semangat persatuan untuk merdeka dari belenggu penjajahan di masa kolonial.

Kini, masanya sudah berbeda. Dinamika bangsa pun sudah berbeda. Tetapi, semangat persatuan yang digaungkan dalam Sumpah Pemuda mesti terus dilanjutkan. Dan, pemuda adalah elemen yang mesti menguatkan itu dalam menghadapi berbagai dinamika dan permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia di setiap masa, di setiap zaman.

Peringatan Sumpah Pemuda yang ke-92 tahun ini akan lebih menarik jika dikaitkan dengan refleksi satu tahun pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Kita ketahui bersama, dinamika Pilpres 2019 kemarin begitu keras dengan tensi yang sangat tinggi. Polarisasi di masyarakat begitu terlihat, apalagi di media sosial. Sekalipun dua kandidat yang bertarung sudah berada dalam satu barisan kekuasaan, tetapi sebahagian elit dan kelompok lainnya masih merawat perarungan politik itu, sehingga ikut menggiring masyarakat arus bawah yang masih tetap terbelah. 

Belum selesai masalah polarisasi masyarakat akibat Pilpres itu, kita diperhadapkan lagi dengan masalah pandemi Covid-19 yang membawa dampak yang sangat besar bagi seluruh sendi kehidupan masyarakat. Ekonomi terpuruk bahkan terancam terjadi resesi ekonomi. Banyak korban, baik yang sekedar terpapar maupun yang meninggal dunia akibat Covid-19. (*)

  • Bagikan