0%
logo header
Kamis, 28 Mei 2026 13:50

Penyaluran Kredit Perbankan di Sulsel Capai Rp173,39 Triliun, OJK Nilai Aktivitas Ekonomi Meningkat

Chaerani
Editor : Chaerani
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. (Dok. Istimewa)
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin. (Dok. Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan menunjukkan tren positif pada triwulan pertama 2026.

Hingga Maret 2026, penyaluran kredit perbankan tercatat mencapai Rp174,39 triliun atau tumbuh 5,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Capaian ini pun dianggap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama 2025 sebesar 3,76 persen.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin mengatakan, peningkatan pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan membaiknya aktivitas ekonomi di daerah.

Baca Juga : DANCOW Indonesia Cerdas Season 2 Sapa Anak-Anak Berprestasi di Makassar

“Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas ekonomi serta kebutuhan pembiayaan dari masyarakat dan pelaku usaha,” katanya, dalam keterangan resminya, kemarin.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit produktif masih mendominasi penyaluran kredit perbankan dengan pangsa sebesar 52,69 persen dari total kredit yang disalurkan. Kredit produktif tumbuh 2,79 persen secara tahunan dan tetap menjadi motor utama pembiayaan sektor usaha.

Sementara itu, kredit konsumtif mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni sebesar 8,00 persen secara yoy. Kondisi ini menunjukkan masih kuatnya permintaan masyarakat terhadap pembiayaan konsumsi yang turut menopang pergerakan ekonomi daerah.

Baca Juga : Dharma Menjaga Perdamaian Dunia, Munafri Serukan Kolaborasi Lintas Agama di Makassar

Ditinjau dari sektor ekonomi, kredit produktif pada sektor perdagangan besar dan eceran menjadi kontributor terbesar dengan pangsa mencapai 22,00 persen dari total penyaluran kredit. Besarnya porsi pembiayaan pada sektor tersebut menegaskan peran strategis perdagangan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Sulawesi Selatan.

Selain pertumbuhan kredit yang positif, fungsi intermediasi perbankan juga tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada pada level 118,30 persen, menunjukkan kemampuan perbankan dalam menyalurkan dana yang dihimpun kepada sektor produktif dan masyarakat.

“Di sisi kualitas kredit, industri perbankan masih mampu menjaga risiko pada level yang terkendali. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,73 persen hingga Maret 2026,” jelasnya.

Baca Juga : Terpilih Aklamasi, Haris Yasin Limpo Kembali Pimpin Kosgoro Sulsel Periode 2026-2031

Muchlasin menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor perbankan di Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi yang sehat dan mampu mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat serta dunia usaha di tengah dinamika perekonomian yang terus berkembang.

“Dengan pertumbuhan kredit yang meningkat dan kualitas aset yang tetap terjaga, sektor jasa keuangan diharapkan terus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah sepanjang 2026,” harapnya.

Sebelumnya, OJK Sulselbar mencatatkan kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga Maret 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini tercermin dari peningkatan total aset, hingga Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga : Turnamen Mini Soccer SB Series 2026 Sukses Digelar, Heriwawan Siapkan Seri Kedua dengan 24 Tim Peserta

Muchlasin mengatakan bahwa total aset perbankan di Sulawesi Selatan pada Maret 2026 tercatat mencapai Rp213,44 triliun atau tumbuh 4,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

“Pertumbuhan aset perbankan ini menunjukkan bahwa industri perbankan di Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi yang sehat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah berbagai dinamika ekonomi,” katanya.

Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, DPK tercatat tumbuh 7,33 persen secara yoy menjadi Rp147,41 triliun. Struktur DPK masih didominasi oleh tabungan dengan pangsa sebesar 61,45 persen, diikuti deposito sebesar 22,70 persen dan giro sebesar 15,85 persen.

Baca Juga : Turnamen Mini Soccer SB Series 2026 Sukses Digelar, Heriwawan Siapkan Seri Kedua dengan 24 Tim Peserta

“Tingginya pertumbuhan DPK ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan sebagai tempat penyimpanan dana yang aman dan terpercaya,” tegasnya.

Muchlasin menegaskan OJK akan terus mendorong industri perbankan untuk memperkuat fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami berharap perbankan dapat terus meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan kualitas aset yang baik,” tutup Muchlasin.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646