0%
logo header
Selasa, 28 November 2023 10:04

PLN Sulselrabar Sebut Efek Kekeringan Ekstrem Masih Jadi Penyebab Utama Pemadaman Bergilir

Rizal
Editor : Rizal
Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif. (Foto: Istimewa)
Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif. (Foto: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) mengakui pemadaman listrik secara bergilir diakibatkan kurangnya pasokan air dan kekeringan ekstrem yang terjadi di beberapa daerah tertentu di Sulawesi Selatan.

Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif mengaku, PT PLN (Persero) sudah melakukan berbagai upaya untuk terus meningkatkan pasokan listrik sehubungan dengan kondisi kelistrikan di Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).

PLN terpaksa melakukan manajemen beban akibat cuaca ekstrem, khususnya panas yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan kondisi debit air yang menjadi sumber utama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) turun drastis dan mengakibatkan berkurangnya pasokan listrik.

Baca Juga : Delapan Tahun Kepemimpinan Adnan-Kio: Momen Tuntaskan Janji

“Beberapa hari terakhir, hujan telah turun namun belum bisa sepenuhnya memulihkan pasokan bagi PLTA. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga masih terus dilakukan, khususnya di daerah tangkapan air di sekitar lokasi PLTA,” kata Ahmad saat dikonfirmasi, Minggu (26/11/2023) lalu.

Menurutnya, sistem kelistrikan Sulbagsel sangat bergantung pada sumber listrik dari PLTA, yaitu sebesar 33 persen dari total pasokan listrik. Di sisi lain, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dimaksimalkan produksinya secara terus menerus juga perlu menjalani maintenance atau pemeliharaan sehingga manajemen beban harus dilakukan.

“PLN terus mengupayakan penambahan pembangkit dan mengoptimalkan sistem interkoneksi sistem kelistrikan Sulbagsel yang terhubung mulai dari Sulawesi Selatan daratan, Sulawesi Barat, Palu (Sulawesi Tengah) dan Sulawesi Tenggara daratan sehingga bisa saling menopang,” urainya.

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

Diketahui, saat ini penambahan pembangkit yang sudah sinkron adalah sebesar 30 MW. Kemudian akan masuk lagi tambahan 50 MW pada akhir Desember 2023. PLN juga sedang lakukan percepatan penambahan pembangkit Inter Temporary Capacity di Punagaya sebesar 200 MW yang ditargetkan masuk sistem pada Maret 2024.

“PLN memohon maaf terkait manajemen beban yang dilakukan, dan kami berharap masyarakat bersedia bahu membahu dengan menurunkan penggunaan pemakaian listrik sehari-hari, sambil menunggu pemulihan sistem kelistrikan,” harapnya.

Dampak kekurangan pasokan listrik dirasakan juga pabrik smelter yang beroperasi di wilayah Sulselrabar. Tak sedikit pihak smelter harus mengurangi produksinya demi memenuhi kebutuhan pasokan listrik masyarakat umum.

Baca Juga : Bupati Gowa: Pengembangan Kawasan Mamminasata Pacu Ekonomi Daerah

Salah satu perusahaan pabrik smelter yang turut merasakan langsung dampaknya, yakni PT Huadi Nickel Alloy Indonesia beserta grupnya dan pabrik smelter PT Bumi Mineral Sulawesi (PT BMS).

“Untuk mengurangi dampak dan durasi padam, PLN mohon dukungan masyarakat untuk sementara waktu ini agar bersama-sama mengurangi pemakaian listriknya sekitar 30 persen selama masa pemulihan pembangkit,” demikian Ahmad.

Sementara itu, Manajer PLN Bantaeng, Bustamin menyebut bahwa fenomena alam El Nino berimbas pada turunnya pasokan pembangkit-pembangkit listrik, seperti PLTA dan PLTB.

Baca Juga : Sikapi Kasus Bullying, Komisi D DPRD Makassar Gelar RDP dengan Lembaga Perlindungan Anak Sulsel

“Dengan adanya El Nino, PLTA yang tadinya mampu 850 MW kini hanya bisa kurang lebih 150 MW. Di PLTB normalnya bisa suplai 140 MW itu turun hanya bisa 50 MW,” kata Bustamin di kantor PLN UP3 Bantaeng, Senin (27/11/2023).

Selain itu, penggunaan listrik di industri besar, kata Bustamin, jaringan transmisi berbeda dengan jaringan untuk disuplai ke warga.

“Kalau yang kawasan industri itu kan tegangan tinggi. Jaringannya pun itu beda, bukan yang tiang tiga kabel itu, yang biasa di pinggir jalan, tapi pakai jaringan langsung SUTT yang tinggi itu, yang tower itu, jadi langsung dari gardu induk,” jelasnya.

Baca Juga : Sikapi Kasus Bullying, Komisi D DPRD Makassar Gelar RDP dengan Lembaga Perlindungan Anak Sulsel

Manajemen Produksi PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia, Fuad Ismail menjelaskan, sejauh ini pihaknya sudah mengurangi aktivitas produksi akibat kurangnya pasokan listrik.

“Beberapa bulan terakhir kami sudah mengurangi aktivitas produksi di dalam (smelter Huadi),” kata Fuad saat dikonfirmasi, Minggu (26/11/2023).

Ia mengaku, sejauh ini 40 persen aktivitas produksi sementara walaupun dari PLN meminta semua pelanggan mengurangi sekitar 30 persen, sembari menunggu daya listrik kembali normal.

Baca Juga : Sikapi Kasus Bullying, Komisi D DPRD Makassar Gelar RDP dengan Lembaga Perlindungan Anak Sulsel

“Kami mengurangi pemakaian daya listrik, supaya bisa mengurangi pemadaman bergilir listrik. Produksi kami turunkan hingga kapasitas yang terpakai adalah 60 persen dari yang terpasang,” tuturnya.

Pihaknya memang sudah mengurangi daya listrik berdasarkan permintaan PLN sampai kondisi pasokan listrik kembali normal.

“Kita semua berharap kondisi ini dapat segera diatasi, tetapi yang kami harapkan mitigasi dari PLN untuk produksi selanjutnya dapat dilakukan karena jika keadaan ini terjadi lagi yang akan merasakan dampaknya adalah seluruh pelanggan,” demikian Fuad. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646