0%
logo header
Kamis, 22 Februari 2024 08:57

Sektor Jasa Keuangan yang Kuat dan Stabil Dukung Ekonomi Berkelanjutan Tumbuh

Chaerani
Editor : Chaerani
Presiden RI Joko Widodo (tengah) saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK), di Jakarta, kemarin. (Dok. Humas OJK)
Presiden RI Joko Widodo (tengah) saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK), di Jakarta, kemarin. (Dok. Humas OJK)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dapat tetap stabil jika di dukung dengan kekuatan dan stabilitas sektor jasa keuangan.

Hal ini pun akan didorong sebagai arah kebijakan OJK 2024 yang disampaikan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK). Kegiatan ini dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo.

Dalam acara itu OJK juga meluncurkan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).

Baca Juga : Indosat dan Mastercard Kolaborasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber

Jokowi pun mengapresiasi OJK dan kerja sama seluruh pihak dalam memajukan dan mewujudkan resiliensi industri jasa keuangan Indonesia. Dalam arahannya, Presiden RI menyampaikan untuk terus belajar dari krisis keuangan di masa lalu dan agar tetap waspada dalam menjaga industri jasa keuangan dan perekonomian, terus meningkatkan tingkat literasi dan inklusi keuangan serta dukungan terhadap pembiayaan UMKM dan keuangan berkelanjutan.

“Saya mengapresiasi penyempurnaan ekonomi berkelanjutan Indonesia yang diluncurkan tadi oleh Ketua OJK. Sehingga inisiatif keuangan hijau bisa menyeimbangkan aspek ekonomi, lingkungan dan inklusivitas. Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras OJK dalam memajukan sektor keuangan,” katanya dalam kegiatan, kemarin.

Sementara, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan, OJK menilai saat ini ketidakpastian perekonomian global mulai menurun, namun masih terjadi divergensi pemulihan antarnegara.

Baca Juga : Satgas PASTI Blokir 13 Entitas Pinjol Ilegal, Modus Investasi Tanpa Izin

Indikator perekonomian menunjukkan pertumbuhan ekonomi termoderasi di beberapa negara, khususnya di negara Uni Eropa dan Tiongkok.

“Perlambatan pertumbuhan ekonomi mendorong inflasi turun mendekati target inflasi sehingga memberikan ruang bagi bank sentral untuk lebih akomodatif,” katanya.

Lanjutnya, di tengah potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global, industri perbankan Indonesia per Desember 2023 tetap resilien dan berdaya saing didukung oleh tingkat profitabilitas ROA sebesar 2,74 persen, dan NIM sebesar 4,81 persen.

Baca Juga : Tatap Pilkada Soppeng, Suwardi Haseng Intens Temui Masyarakat demi Dongkrak Elektabilitas

“Permodalan (CAR) perbankan relatif tinggi sebesar 27,65 persen, dan menjadi bantalan mitigasi risiko yang solid di tengah kondisi ketidakpastian global,” katanya.

Dari sisi kinerja intermediasi, pada Desember 2023, secara yoy kredit meningkat Rp666,68 triliun atau tumbuh double digit sebesar 10,38 persen menjadi Rp7.090 triliun. Pertumbuhan tersebut utamanya didorong Kredit Investasi yang tumbuh sebesar 12,26 persen yoy dan Kredit Modal Kerja sebesar 10,05 persen yoy.

Sementara ditinjau dari kepemilikan bank, Bank BUMN menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit yaitu tumbuh sebesar 12,02 persen yoy, dengan porsi kredit sebesar 45,64 persen dari total kredit perbankan. Dalam pada itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2023 tercatat 3,73 persen yoy atau menjadi Rp8.458 triliun, dengan giro menjadi kontributor pertumbuhan terbesar yaitu 4,57 persen yoy.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

Likuiditas industri perbankan pada Desember 2023 meningkat dengan rasio-rasio likuditas jauh di atas level kebutuhan pengawasan. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing naik menjadi 120,07 persen atau jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL net perbankan sebesar 0,71 persen dan NPL gross sebesar 2,19 persen. Seiring pertumbuhan perekonomian nasional, jumlah kredit restrukturisasi Covid-19 melanjutkan tren penurunan menjadi sebesar Rp265,78 triliun, dengan jumlah nasabah tercatat sebanyak 1,04 juta nasabah.

Menurunnya jumlah kredit restrukturisasi dan NPL berdampak positif bagi penurunan rasio Loan at Risk menjadi 10,94 persen. Adapun jumlah kredit restrukturisasi Covid-19 yang bersifat targeted adalah 42,3 persen dari total porsi kredit restrukturisasi Covid-19.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

Di sisi risiko pasar, penurunan yield pada Desember berdampak pada penurunan unrealized loss perbankan. Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan juga mengalami penurunan menjadi sebesar 1,44 persen. Hal ini masih jauh di bawah threshold 20 persen.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646