REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar mencatat dana masyarakat yang tersimpan di perbankan terus menunjukkan tren positif.
Hingga posisi Juni 2026, tabungan menjadi komponen terbesar Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sulawesi Selatan dengan nilai mencapai Rp92,03 triliun.
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, mengatakan nilai tabungan tersebut mendominasi struktur DPK perbankan di Sulawesi Selatan dengan pangsa atau share sebesar 61,45 persen dari total DPK.
Baca Juga : Optimalisasi SP4N-LAPOR! Diskominfo Makassar Tingkatkan Kompetensi Pengelola Pengaduan OPD
“Dominasi tabungan juga menunjukkan preferensi masyarakat untuk menempatkan dana dalam instrumen yang lebih likuid, di tengah aktivitas ekonomi yang terus bergerak positif sepanjang semester pertama 2026,” ujarnya, dalam keterangannya, kemarin.
Selain tabungan, kontribusi terbesar berikutnya berasal dari simpanan berjangka atau deposito yang mencapai Rp33,96 triliun dengan pangsa 22,68 persen. Sementara itu, dana dalam bentuk giro tercatat sebesar Rp23,77 triliun atau berkontribusi 15,87 persen terhadap total DPK perbankan di Sulawesi Selatan.
Secara keseluruhan, kinerja penghimpunan DPK perbankan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif. Total DPK tumbuh 5,71 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana di sektor perbankan.
“Total DPK perbankan hingga Juni 2026 sebesar Rp149,77 triliun, meningkat dibandingkan posisi Juni 2025 yang tercatat sebesar Rp141,69 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut menjadi indikator positif terhadap stabilitas sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan,” tutupnya.
Sebelumnya, industri jasa keuangan di Sulawesi Selatan terus menunjukkan ketahanan di tengah dinamika perekonomian nasional maupun global.
Salah satunya di sektor perbankan yang hingga posisi Juni 2026 masih mencatatkan pertumbuhan positif. Kondisi ini tercermin dari peningkatan aset, penyaluran kredit, dan penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) perbankan.
Baca Juga : Sekda Gowa Dorong TPID Perkuat Empat Indikator Kendalikan Inflasi Daerah
Muchlasin mengatakan, total aset perbankan di Sulawesi Selatan hingga periode tersebut mencapai Rp214 triliun atau tumbuh 5,99 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, total aset perbankan tercatat sebesar Rp200,37 triliun.
“Industri sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan masih mencatatkan kinerja yang stabil dengan pertumbuhan positif, terutama di sektor perbankan,” katanya.
Selain pertumbuhan aset, penyaluran kredit juga terus meningkat. Hingga Juni 2026, kredit perbankan mencapai Rp176,30 triliun atau tumbuh 5,27 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar Rp167,47 triliun.
Baca Juga : Rakorda Gerindra Sulsel, DM: Satukan Semangat Menangkan Pemilu 2029
Menurut Muchlasin, pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan aktivitas pembiayaan kepada dunia usaha dan masyarakat masih berlangsung dengan baik sehingga tetap mendukung pergerakan ekonomi daerah.
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan di Sulawesi Selatan juga mencatatkan pertumbuhan 5,71 persen secara tahunan. Nilai DPK meningkat dari Rp141,69 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp149,77 triliun pada Juni 2026.
“Di Juni 2025 penghimpunan dana masyarakat Sulsel di perbankan itu sebesar Rp141,69 triliun. Sedangkan di periode saat ini itu tembus Rp149,77 triliun,” ujarnya.
Baca Juga : Rakorda Gerindra Sulsel, DM: Satukan Semangat Menangkan Pemilu 2029
Ia menambahkan, fungsi intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan juga masih berjalan cukup tinggi. Hal itu tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di level 117,71 persen. Meski demikian, kondisi tersebut tetap diimbangi dengan kualitas kredit yang terjaga.
“Di sisi kinerja intermediasi relatif cukup tinggi dengan LDR sebesar 117,71 persen, namun tetap didukung kualitas kredit yang terkendali dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 3,70 persen,” jelasnya.
Menurut Muchlasin, dengan capaian kinerja perbankan di periode tersebut menandakan bahwa industri perbankan Sulawesi Selatan masih berada dalam kondisi yang sehat dengan kemampuan menyalurkan kredit secara agresif, namun tetap menjaga risiko kredit pada level yang terkendali.
Baca Juga : Rakorda Gerindra Sulsel, DM: Satukan Semangat Menangkan Pemilu 2029
“Kondisi ini diharapkan dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan pembiayaan bagi sektor produktif dan penguatan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan,” harap Muchlasin.
