0%
logo header
Selasa, 28 Mei 2024 10:30

Accera Kalompoang Kembali Digelar di Museum Balla Lompoa, 15 Benda Pusaka Akan Dicuci

Chaerani
Editor : Chaerani
Kadisparbud Gowa Tenriwati Tahri bersama Kabid Kebudayaan Disparbud Gowa Ikbal Thiro di sela-sela Rapat Koordinasi Pelaksanaan Accera Kalompoang, di Museum Balla Lompoa, kemarin. (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)
Kadisparbud Gowa Tenriwati Tahri bersama Kabid Kebudayaan Disparbud Gowa Ikbal Thiro di sela-sela Rapat Koordinasi Pelaksanaan Accera Kalompoang, di Museum Balla Lompoa, kemarin. (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Pelaksanaan ritual budaya pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Gowa atau Accera Kalompoang akan kembali digelar di Museum Balla Lompoa bertepatan perayaan Hari Raya Idul Adha 2024.

Dalam Accera Kalompoang ini akan dilakukan pencucian 15 benda kerajaan.

“Masih seperti pada pelaksanaan Accera Kalompoang sebelum-sebelumnya, dimana ada 15 benda pusaka yang dicuci dalam proses pencucian,” terang Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Ikbal Thiro, dalam keterangannya, Selasa, (28/05/2024).

Baca Juga : Aspirasi Masyarakat Jadi Prioritas Karaeng Kio Saat Pimpin Gowa

15 benda pusaka kerajaan tersebut terdiri dari. Pertama, Solokoa atau Mahkota terbuat dari emas murni, bertahtakan berlian dan permata sebanyak 250 butir. Ukuran garis tengah 30 centimeter dengan berat 1768 gram. Bentuknya menyerupai kerucut bunga teratai yang memiliki 5 helai kelopak daun.

Kedua, Sudanga atau sebilah senjata sakti sejenis kalewang (sonri) dari besi putih, berhulu dan bersarung tanduk binatang berhias emas putih berlief geometris serta lilitan rotan.

“Adapun panjangnya berukuran 72 cm, lebar 4 cm dan 9 cm,” terangnya.

Baca Juga : Modena HC Rolling Hill’s Makassar, Tawarkan Outlet Serasa Rumah Sendiri

Sudanga ini milik Karaeng Bayo, suami Karaeng Tumanurunga Baieneyea ri Tamalatea sekitar abad XIII, kemudian menjadi atribut legitimasi saat prosesi penobatan raja berkuasa.

Ketiga, Ponto Janga-Jangaya atau gelang berbentuk Naga Melingkar sebanyak 4 buah, gelang ini berbentuk emas murni dengan berat 985,5 gram. Benda pusaka ini berasal dari Tumanurung.

Keempat, Kolara atau Rante Kalompoang berbahan emas murni. Terdapat 4 Kolara masing-masing panjangnya 51 cm, 55 cm, 55 cm, dan 49 cm dengan berat keseluruhan 2.182 gram.

Baca Juga : Indosat dan Google Cloud Komitmen Wujudkan Pengalaman Digital Berbasis AI di Indonesia

Kelima, Tatarapang atau sejenis keris emas bertahta permata dan besi tua sebagai pelengkapnya. Dipakai dalam upacara kerajaan, keris ini sepanjang 51 cm, lebar 13 cm dan berat 9865 gram

Keenam, Lasipo atau parang dari besi tua. Senjata sakti ini dipergunakan raja sebagai petanda untuk mendatangi suatu tempat yang akan dikunjungi. Panjang parang ini sepanjang 62 cm, dan lebar 6 cm. Parang ini berasal dari Kerajaan Nunukan.

Ketujuh, Matatombak, matatombak yang dimiliki kerajaan ada tiga jenis. Pertama, Tama Dakkaya adalah matatombak yang dapat dipergunakan sebagai senjata sakti pada masa Kerajaan GGow. Panjangnya 49 cm dan lebar 3 cm. Kedua, matatombak jinga yang terbuat dari besi hitam, berfungsi sebagai senjata sakti Kerajaan Gowa. Panjangnya 45 cm dan 3 cm.

Baca Juga : Jelang Idul Adha, TPID Gowa Cek Stok dan Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional

Kemudian matatombak Bu’le adalah anak sumpit dari besi hitam yang panjangnya 31 cm dan lebar 1,3 cm. Senjata ini berasal dari Karaeng Loe di Bajeng.

Delapan, Berang Manurung atau sejenis kelewang/perang panjang. Parang ini bernama Manurung karena keberadaannya secara ghaib di bilik penyimpanan benda-benda pusaka.

Sembilan, Bangkarata’roe atau perhiasan berbentuk seperti anting-anting yang terbuat dari emas murni yang berjumlah 4 pasang. Anting-anting ini merupakan perlengkapan wanita dari pihak Raja pada kegiatan upacara.

Baca Juga : Jelang Idul Adha, TPID Gowa Cek Stok dan Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional

Panjang anting-anting ini 62 cm, lebar 5 cm, berat 287 gram dan berasal dari Tumanurunga.

Sepuluh, Kancing Gaukang atau Kancing Bulaeng yang terbuat dari emas murni sebanyak 4 buah. Merupakan perlengkapan kerajaan dengan ukuran garis tengah 11,5 cm dan beratnya 277 gram. Pusaka ini berasal dari Tumanurunga.

Sebelas, Cincin Gaukang atau cincin dari emas murni dan perak sejenis batu. Benda ini merupakan alat perlengkapan perhiasan bagi wanita sejumlah 12 buah.

Baca Juga : Jelang Idul Adha, TPID Gowa Cek Stok dan Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional

Duabelas, Tobo Kaluku atau Rante Manila sejenis emas sebagai perlengkapan pada upacara khusus kerajaan. Beratnya 270 gram, panjang 212 cm. Benda ini pemberian Kerajaan Sulu (Philipina Selatari sekitar Abad XVI).

Tiga Belas, Pannyanggayya atau parang emasang terbuat dari rolan dan berambut ekor kuda. Panjangnya 22 cm yang dipakai pada upacara kerajaan khusus.

Empat Belas, Penning Emas atau medali emas yang terbuat dari emas murni. Merupakan pemberian Kerajaan Gowa 1.814, bentuknya bulat seberat 401 gram.

Baca Juga : Jelang Idul Adha, TPID Gowa Cek Stok dan Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional

Lima Belas, medali emas atau piagam penghargaan yang terbuat dari emas murni. Penghargaan ini merupakan pemberian Kerajaan Belanda sebagai tanda kehormatan. Rantainya 110 cm, dan medalinya bergaris tengah 7,5 cm dan beratnya 110 gram.

Lanjut Ikbal, ritual budaya Kerajaan Gowa baru kembali dilaksanakan setelah vakum empat tahun akibat pandemi Covid-19.

“Pada ritual ini seluruh proses pelaksanaannya dilakukan Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa. Sementara untuk teknisi dilakukan panitia dalam hal ini Forum Komunikasi Generasi Pelanjut Sultan Hasanuddin (FKGP-SH) melalui koordinasi dengan Keluarga Kerajaan,” ujarnya.

Baca Juga : Jelang Idul Adha, TPID Gowa Cek Stok dan Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional

Ia mengungkapkan, Accera Kalompoang merupakan warisan budaya tak benda yang telah diberikan sertifikat secara resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 10 Oktober 2018.

“Pencucian benda-benda pusaka ini pula hanya dapat dikeluarkan dari tempatnya satu kali dalam setahun yaitu saat dilakukan pencucian benda atau Accera Kalompoang ini,” terangnya.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646