0%
logo header
Selasa, 26 Maret 2024 15:58

BI Sulsel Optimalkan Pengendalian Kenaikan Harga Beras Jelang IdulFitri

Chaerani
Editor : Chaerani
Proses Panen Raya Padi Gapoktan Harapan Jaya di Desa Kalamandalle, Kecamatan Bajeng Barat dihadiri pejabat BI Sulsel, Pemprov Sulsel, Pemkab Gowa, dan stakeholder lainnya, Selasa, (26/03/2024). (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)
Proses Panen Raya Padi Gapoktan Harapan Jaya di Desa Kalamandalle, Kecamatan Bajeng Barat dihadiri pejabat BI Sulsel, Pemprov Sulsel, Pemkab Gowa, dan stakeholder lainnya, Selasa, (26/03/2024). (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan terus mengambil langkah preventif dalam upaya mengendalikan kenaikan harga beras, khususnya menjelang Hari Raya IdulFitri.

Salah satu yang dilakukan yaitu melalui panen raya padi yang dilakukan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Jaya, di Desa Kalamandalle, Kecamatan Bajeng Barat. Gapoktan ini pun merupakan salah satu binaan BI Sulsel.

“Maret dan April memang kami perkirakan akan ada panen raya, sehingga kami berekspektasi bahwa harga beras yang saat ini meningkat akan turun. Ini akan menjadi kabar baik di hari raya nanti,” kata Kepala BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda, usai melakukan panen raya padi, Selasa, (26/03/2024).

Baca Juga : Indosat dan Mastercard Kolaborasi Hadapi Tantangan Keamanan Siber

Luas lahan yang akan dipanen Gapoktan Harapan Jaya untuk tahap awal sebesar 20 hektare (Ha) dari luas lahan secara total sekitar 220 Ha. Proses panen pun akan dilakukan secara bertahap, termasuk di kecamatan lainnya.

“Meski kami belum menghitung tetapi paling tidak kami berharap akan turun harga beras di IdulFitri nanti atau inflasi Sulsel bisa ditekan,” ujarnya.

Rizki mengaku, komoditas padi memiliki peran yang sangat penting dalam ketahanan pangan dan inflasi di Sulsel. Sektor pertanian di Sulsel mempunyai bobot yang paling tinggi di antara lapangan usaha yang lain yaitu 21,7 persen.

Baca Juga : Satgas PASTI Blokir 13 Entitas Pinjol Ilegal, Modus Investasi Tanpa Izin

Di antara sektor pertanian tersebut, sektor pertanian atau tanaman pangan yang didalamnya adalah padi itu mempunyai bobot 27,7 persen atau nomor dua setelah perikanan dengan bobot 39,7 persen.

“Peran sektor pertanian sangat besar, karena itu mari kita semua mendukung program pertanian ini dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, terjadinya kenaikan harga beras akibat kelangkaan dari pasokan atau gagal panen dapat mendorong terjadinya laju inflasi secara signifikan.

Baca Juga : Tatap Pilkada Soppeng, Suwardi Haseng Intens Temui Masyarakat demi Dongkrak Elektabilitas

Ia menyebutkan, pada 2023 yang lalu kenaikan harga beras dari Januari hingga Desember 2023 itu mencapai 23,6 persen. Sementara, kondisi inflasi beras pada periode Januari hingga Februari 2024 juga mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 6,2 persen.

Hal ini pun menjadi konsen BI Sulsel dan seluruh aparat pemerintah, baik itu di provinsi maupun di kabupaten dan kota. Adapun inflasi padi yang masuk dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 1/3 dari inflasi YHK, karena itu stabilitas produksi dan harga padi di Sulsel memiliki dampak besar terhadap ketahanan pangan dan pengendalian inflasi nasional.

“Faktor-faktor seperti kenaikan harga pupuk, benih dan input produksi lainnya itu menyebabkan kenaikan biaya produksi padi yang berujung pada inflasi,” terangnya.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

Rizki mengatakan, kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan dan harga padi menjadi sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan dan inflasi agar terkendali. Apalagi, fenomena kenaikan harga beras di Sulsel sempat berlangsung di beberapa waktu yang lalu, hal ini dipengaruhi karena kondisi produksi padi yang diperkirakan menurun hingga 53,7 persen pada triwulan pertama tahun ini.

“Namun kami optimis dengan adanya panen raya ini kenaikan harga beras bisa dikendalikan. Terutama saat menjelang IdulFitri tahun ini,” katanya.

Ia menerangkan, upaya pengendalian inflasi telah dilakukan dengan kebijakan 4 K. Pertama, Keterjangkauan Harga yang dilakukan dengan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 68 lokasi di 24 kabupaten dan kota.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

Kedua, Ketersediaan Pasokan dengan dukungan pupuk, bibit dan obat. Ketiga, Kelancaran Distribusi yang diupayakan dengan memastikan kelancaran distribusi melalui perluasan untuk efesiensi distribusi pangan, dan keempat, Komunikasi yang efektif antara pemerintah dan seluruh pihak yang ada.

Selanjutnya, dari sisi pengendali inflasi, BI Sulsel yang tergabung dalam TPID Sulsel terus memperkuat sinergi dalam mendukung upaya stabilisasi harga beras. Upaya pengendalian inflasi beras terus dilakukan secara terintegrasi dari sisi hulu dan hilir dengan adanya sinergi antar berbagai pihak.

Sementara, Ketua Gapoktan Harapan Jaya Kamaruddin Dg Roa mengatakan, saat ini Gapoktan Harapan Jaya memiliki 21 kelompok tani yang didalamnya membawahi 25 petani.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

“Pada panen raya ini ada 200 Ha lahan yang akan dipanen tapi untuk awal ini baru 20 Ha,” katanya.

Ia mengaku, hingga proses pembinaan yang dilakukan BI Sulsel sejak 2019 hingga saat ini, pihaknya menikmati peningkatan yang cukup baik.

“Dalam pembinaan kami mendapatkan bantuan untuk menanam sistem Hazston. Kami juga diberikan bantuan alat pertanian berupa penggilingan padi, serta pengukur suhu tanah,” ujarnya.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

Pada sisi peningkatan produksi padi yang dikelola diakuinya juga mengalami peningkatan yang signifikan. Dimana, jika sebelum dibina BI, Gapoktan Harapan Jaya hanya memproduksi beras sekitar 6 ton dalam 1 Ha setiap kali panen, sementara setalah adanya binaan hasil produksi yang bisa dicapai sebanyak 8 hingga 10 ton dalam 1 Ha.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Gowa Fajaruddin mengungkapkan, saat ini Kabupaten Gowa memiliki luasan baku sawah sekitar 32.900 Ha, sementara khusus di Kecamatan Bajeng Barat memiliki lahan seluas 1.500 Ha.

Kemudian, untuk Indeks Pertanaman (IP) yang ada pada lahan pertanian yakni pada IP 2, IP 3 dan IP 4.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

“Bajeng dan Bajang Barat adalah daerah potensial untuk tanaman padi. Khusus di Kecamatan Bajeng Barat dan Desa Kalemandalle ini kita memiliki sekitar 199 Ha yang siap panen raya mulai hari ini,” ungkap Fajar.

Lanjutnya, sektor pertanian pun masih menjadi penopang utama pada pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gowa. Misalnya pada kontribusi PDRB pertanian periode 2023 mencapai 53,83 persen.

“Kontribusi pertanian pada pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gowa pun menyumbang 29,53 persen di 2023,” jelasnya.

Baca Juga : Revitalisasi Kompleks Makam Arung Palakka dan Pattingalloang, Bupati Gowa: Terimakasih Polda Sulsel

Tak hanya itu, untuk pertumbuhan produksi padi juga mengalami peningkatan setiap tahunnya meskipun terjadi kondisi El-Nino. Misalnya, di periode 2022 produksi padi mencapai 415.503 ton, sementara di periode 2023 produksi padi naik menjadi 421.454 ton.

“Di Kabupaten Gowa ada 3.900 kelompok tani yang siap menjamin ketahanan pangan di Sulsel, utamanya di Kabupaten Gowa,” sebutnya.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646