0%
logo header
Kamis, 15 Oktober 2026 14:49

Di Balik Blokade Rante Balla, Ada Mimpi Sarjana dan Kepala Keluarga yang Dipertaruhkan

Mulyadi Ma'ruf
Editor : Mulyadi Ma'ruf
Ket: Ajay Fajar, Mahasiswa yang juga karyawan salah satu subkontraktor PT Masmindo Dwi Area (MDA)
Ket: Ajay Fajar, Mahasiswa yang juga karyawan salah satu subkontraktor PT Masmindo Dwi Area (MDA)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, LUWU — Bagi Ajay Fajar, pekerjaan bukan sekadar jalan untuk mendapatkan penghasilan. Di balik rutinitasnya sebagai karyawan salah satu subkontraktor PT Masmindo Dwi Area (MDA), tersimpan cita-cita besar yang sedang diperjuangkannya: menyelesaikan kuliah, meraih gelar sarjana hukum, sekaligus membantu menghidupi keluarganya.

Namun, harapan pemuda asal Desa Rumaju, Kabupaten Luwu, itu kini dibayangi ketidakpastian. Terhentinya aktivitas pekerjaan akibat pemalangan akses jalan menuju Proyek Awak Mas di Desa Rante Balla, Kecamatan Latimojong, membuat Ajay dan sejumlah pekerja lainnya harus menunggu tanpa kepastian kapan pekerjaan kembali normal.

Bagi sebagian orang, terhentinya pekerjaan mungkin hanya persoalan operasional. Bagi Ajay, situasi tersebut menyentuh langsung masa depan pendidikan dan keberlangsungan ekonomi keluarganya.

Baca Juga : Sepekan Akses Rante Balla Diblokade, Pekerja Awak Mas Tak Bisa Bekerja

Sejak 2023, Ajay tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Hukum Universitas Andi Djemma (Unanda), Kota Palopo. Ia membiayai kuliahnya sendiri dengan menyisihkan penghasilan dari pekerjaannya. Setiap semester, sekitar Rp3 juta harus disiapkannya untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT).

“Saya dari awal memang membiayai kuliah sendiri,” tuturnya.

Sebelum memperoleh pekerjaan di lingkungan Proyek Awak Mas pada 2025, Ajay mengandalkan pekerjaan serabutan di sektor konstruksi. Penghasilannya kala itu tidak selalu menentu. Menjadi karyawan subkontraktor memberinya kesempatan untuk memiliki pemasukan yang lebih teratur, sehingga ia bisa membagi penghasilan untuk pendidikan dan kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga : Blokade Jalan Rante Balla Disorot, Pekerja Lokal Minta Aparat Bertindak

Perjuangannya tidak ringan. Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Ajay turut memikul tanggung jawab membantu keluarga. Ayahnya telah lama sakit, sementara kebutuhan rumah tangga ditopang bersama oleh dirinya dan sang kakak.

Karena itu, pekerjaan yang dijalaninya memiliki arti lebih dari sekadar sumber penghasilan. Pekerjaan tersebut menjadi penopang agar pendidikannya tetap berjalan dan kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi.

Penghasilan Berkurang, Kecemasan Bertambah

Baca Juga : Pemangku Adat Rante Balla Bantah Klaim Sepihak, Pemalangan Dinilai Rugikan Warga

Sejak akses menuju proyek diblokade pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026, aktivitas pekerjaan Ajay terhenti. Ia bersama pekerja lainnya berada dalam status siaga atau standby sembari menunggu arahan dari manajemen perusahaan.

Kondisi tersebut mulai berdampak pada pendapatannya. Tidak adanya aktivitas kerja normal membuat kesempatan memperoleh upah lembur ikut hilang.

“Kalau kondisi standby seperti ini, pendapatan otomatis menurun karena lembur tidak masuk lagi,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga : Maklumat Kedatuan Luwu Tak Mengenal ‘Anak Adat’, Klaim Rante Balla Dipertanyakan

Kecemasan Ajay semakin bertambah setelah beredar kabar mengenai kemungkinan pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila situasi berkepanjangan.

Hingga saat itu, kabar tersebut masih berupa isu yang beredar di kalangan pekerja, bukan kepastian keputusan perusahaan. Meski demikian, bagi pekerja dengan kontrak yang diperbarui setiap enam bulan, ketidakpastian semacam ini cukup untuk menimbulkan kekhawatiran.

Ajay menyadari, jika kehilangan pekerjaan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Kelanjutan kuliah yang selama ini dibiayai dari hasil kerja kerasnya juga berpotensi terganggu. Di saat yang sama, keluarganya akan kehilangan salah satu sumber dukungan ekonomi.

Baca Juga : Maklumat Kedatuan Luwu Tak Mengenal ‘Anak Adat’, Klaim Rante Balla Dipertanyakan

“Apalagi Bapak sudah lama sakit. Saya dan kakak bersama-sama menopang ekonomi keluarga. Kalau saya ikut dirumahkan atau di-PHK, tentu akan kesulitan,” katanya.

Bukan Sekadar Proyek, tetapi Ruang Mencari Penghidupan

Bagi Ajay, keberadaan Proyek Awak Mas tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pertambangan. Ia melihat proyek tersebut sebagai salah satu ruang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan pekerjaan dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Baca Juga : Maklumat Kedatuan Luwu Tak Mengenal ‘Anak Adat’, Klaim Rante Balla Dipertanyakan

Ia juga menilai aktivitas proyek telah membuka peluang bagi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, pembangunan akses jalan, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut Ajay, banyak putra daerah yang menggantungkan penghidupan pada aktivitas proyek tersebut.

Pandangan itu membuat persoalan pemalangan jalan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari para pekerja. Ketika akses terhambat dan aktivitas pekerjaan berhenti, yang terdampak bukan hanya kelancaran operasional, tetapi juga rencana pendidikan, kebutuhan rumah tangga, dan masa depan keluarga yang bergantung pada penghasilan mereka.

Baca Juga : Maklumat Kedatuan Luwu Tak Mengenal ‘Anak Adat’, Klaim Rante Balla Dipertanyakan

Di tengah situasi tersebut, Ajay berharap pihak-pihak terkait dapat segera menemukan jalan keluar agar persoalan yang terjadi tidak terus berlarut-larut.

Ia ingin kembali bekerja seperti biasa, memperoleh penghasilan yang cukup, membayar biaya kuliah, dan tetap membantu keluarganya.

Harapan itu terdengar sederhana. Namun, bagi seorang pemuda yang membiayai pendidikan dari hasil keringat sendiri, keberlanjutan pekerjaan merupakan bagian penting dari perjuangan meraih masa depan.

Baca Juga : Maklumat Kedatuan Luwu Tak Mengenal ‘Anak Adat’, Klaim Rante Balla Dipertanyakan

Di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti aktivitas proyek, Ajay menyimpan satu pertanyaan yang mencerminkan kegelisahan banyak pekerja dalam situasi serupa.

“Kalau operasional Awak Mas ditutup, kami mau ke mana?” katanya.

Pertanyaan itu bukan sekadar tentang ke mana seorang pekerja harus mencari pekerjaan baru. Di baliknya, ada pendidikan yang ingin dituntaskan, keluarga yang harus dibantu, dan cita-cita yang sedang diperjuangkan agar tidak berhenti di tengah jalan. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646