REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Pemikiran sosialisme Islam adalah salah satu gagasan untuk mewujudkan sistem ekonomi yang lebih adil dan berpihak kepada masyarakat.
Penegasan itu disampaikan oleh Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Syamsu Rizal MI dalam diskusi bedah buku Sosialisme Islam: Pemikiran HOS Tjokroaminoto dan Ali Shari’ati di Kantor DPC PKB Kota Makassar, Jalan Letjen Hertasning, Makassar, Kamis (5/11/2026).
Menurut Deng Ical, sapaan karibnya, PKB ingin membuka ruang dialog dengan berbagai kalangan untuk mendalami nilai-nilai sosialisme Islam dan relevansinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga : OJK Pertegas Komitmen Pemerintah Perkuat Industri Asuransi dan Dana Pensiun di Forum Internasional
“Kajian ini bagian dari komitmen kami di PKB untuk mendapatkan pencerahan dari berbagai kalangan. Seperti apa sebenarnya sosialisme Islam itu dan apa yang seharusnya kita lakukan bersama-sama,” bebernya.
Deng Ical menyebut pemikiran sosialisme Islam memiliki akar dalam sejarah Indonesia, salah satunya melalui gagasan HOS Tjokroaminoto. Pemikiran Yusuf Wibisono dan tokoh Iran, Ali Shari’ati, juga menjadi referensi dalam memahami konsep tersebut.
Ia mengakui istilah sosialisme masih kerap dikaitkan dengan komunisme akibat sejarah politik Indonesia. Namun, substansi sosialisme Islam, terutama terkait keadilan dalam pengelolaan dan distribusi sumber daya ekonomi, tetap relevan untuk dikaji.
Baca Juga : Bantuan Pendidikan YBM PLN UIP Sasar Belasan Mahasiswa Unismuh Makassar
“Substansi pemikiran sosialisme Islam tetap penting untuk dikaji, terutama menyangkut prinsip keadilan dalam pengelolaan dan distribusi sumber daya ekonomi,” katanya.
Deng Ical juga menilai koperasi dapat menjadi instrumen pemerataan ekonomi dengan memperluas keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, kesempatan tersebut tidak boleh hanya didominasi korporasi atau lembaga besar, tetapi juga harus terbuka bagi masyarakat lokal.
“Saya berharap bahwa seluruh masukan dari forum ini dapat menjadi bahan bagi PKB dalam merumuskan konsep sosialisme yang sesuai dengan karakteristik Indonesia dan dapat diterapkan melalui kebijakan maupun regulasi,” ujarnya.
Baca Juga : Usung Kualitas dan Layanan Nomor Satu, ASUS Perkenalkan Ragam Laptop dengan Inovasi Terbaik 2026 di Makassar
“Kami ingin menemukan konsep yang benar-benar mewakili Indonesian style dan applicable. Karena itu, kami membuka diri untuk menerima masukan dari berbagai kalangan,” tambah Deng Ical.
Dirinya menegaskan, gagasan tersebut bukan untuk merombak sistem yang ada, melainkan menyempurnakannya secara bertahap dengan memperbesar ruang partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan pengelolaan ekonomi.
“Yang ingin kita lakukan pada dasarnya adalah bagaimana mengembalikan pemerintahan kepada rakyat dan membawa rakyat masuk dalam pemerintahan,” demikian Deng Ical.
Baca Juga : Perkuat Pasokan Listrik Sulbagsel, PLN Percepat Pemulihan Pembangkit PLTU di Tengah Penurunan Produksi PLTA
Sekadar diketahui, diskusi tersebut juga menghadirkan Ketua Dewan Wilayah Syarikat Islam Sulawesi Selatan, Prof Tahir Kasnawi, serta Ketua Umum Asosiasi Bisnis Development Service Indonesia (ABDSI), Bahrul Ulum Ilham. (*)
