0%
logo header
Minggu, 29 Januari 2023 17:46

HWDI Sulsel Gandeng PKBI Perkuat Pengetahuan HKSR ke FAM, Anak, Remaja Disabilitas, dan Kusta

Chaerani
Editor : Chaerani
Ketua PKBI Sulsel Andi Iskandar Harun saat membahas terkait pendidikan HKSR pada Tudang Sipulung Forum Anak Makassar bersama anak dan remaja dengan disabilitas dan kusta di ruang pertemuan, Kantor PKBI Sulsel, Jalan Andi Djemma, Minggu (29/01). (Chaerani/Republiknews.co.id).
Ketua PKBI Sulsel Andi Iskandar Harun saat membahas terkait pendidikan HKSR pada Tudang Sipulung Forum Anak Makassar bersama anak dan remaja dengan disabilitas dan kusta di ruang pertemuan, Kantor PKBI Sulsel, Jalan Andi Djemma, Minggu (29/01). (Chaerani/Republiknews.co.id).

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Sebagai upaya menguatkan pemahaman dan pengetahuan kepada pengurus Forum Anak Makassar (FAM), anak, serta remaja dengan disabilitas dan kusta terkait isu Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR). Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan melalui Program Body Talk kembali melaksanakan pertemuan lanjutan dalam bentuk tudang sipulung.

Dalam pertemuan kedua ini, HWDI Sulsel bekerjasama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Selatan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang HKSR kepada anggota FAM, anak, remaja disabilitas, dan kusta.

“Ini bagian dari pertemuan lanjutan setelah sebelumnya anak-anak yang kami libatkan dalam pertemuan sebelumnya meminta untuk diberikan kelas penguatan tentang HKSR. Makanya kami menggandeng PKBI Sulsel untuk mendatangkan narasumber yang kompoten terkait isu HKSR maupun kesehatan reproduksi (Kespro) lainnya,” kata Program Officer Body Talk HWDI Sulsel Sitti Aisyah usai pertemuan di Kantor PKBI Sulsel, Jalan Andi Djemma, Minggu (29/01/2023).

Baca Juga : Hadiri MTQ XIII Luwu Utara, Abang Fauzi Tunjukkan Kepedulian Terhadap Pengembangan Keagamaan

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pemahaman dasar terkait hak dasar kesehatan reproduksi bagi anak diberikan. Sehingga mereka memiliki pemahaman bagi dirinya sendiri terkait pentingnya menjaga kesehatan reproduksi ini.

“Kita harapkan anak-anak yang memiliki pemahaman soal HKSR ini bisa mereka sharingkan ke lingkungan terdekatnya. Hanya saja memang kami perlu memberikan mereka kelas lanjutan seperti training agar nantinya mereka bisa lebih matang tentang isu ini untuk diinformasikan ke teman-teman, dan lingkungan sekitar seperti di sekolah masing-masing,” kata Aii sapaan akrabnya.

Menurutnya, informasi dan pendidikan tentang HKSR bagi anak dan remaja disabilitas dan kusta masih sangat kurang dilakukan oleh keluarga, masyarakat ataupun di sekolah. Sementara banyak penyandang disabilitas yang belum memiliki pengetahuan yang baik terkait dengan HKSR. Minimnya pengetahuan anak dan remaja disabilitas tentang HKSR ini sangat berpotensi menjadikan anak dan remaja perempuan disabilitas menjadi korban kekerasan seksual dan pelecehan seksual. Termasuk menjadi penyumbang bertambahnya angka HIV dan AIDS, kehamilan yang tidak direncanakan, dan makin banyak remaja yang menggugurkan kandungan karena hamil, dan lainnya.

Baca Juga : Komisi A DPRD Sulsel Segera Gelar Fit and Proper Test Calon Anggota KI Sulsel

“Selain memberikan pemahaman kepada mereka tentang pentingnya HKSR ini. Kami juga berharap besar kepada FAM bagaimana nantinya mereka bisa memberikan kontribusi untuk menjadi tim pendamping pada isu HKSR bagi anak,” harapnya.

Kedepan lanjut Aii, sebagai rencana tindak lanjut (RTL) pada pertemuan tersebut, HWDI Sulsel akan bekerjasama dengan PKBI Sulsel untuk menyusun modul tentang panduan kesehatan reproduksi untuk anak-anak penyandang disabilitas dan kusta. Modul ini menjadi hal penting untuk dibuat kedepannya, sebab referensi yang benar terkait panduan HKSR kepada anak dan remaja disabilitas dan kusta belum ada.

“Sebagai RTL nantinya akan menyusun modul terkait bagaimana panduan kesehatan reproduksi terkait anak-anak yang berkubuthan khusus atau remaja disabilitas dan kusta, apalagi PKBI Sulsel sendiri mengaku belum memiliki karena memang belum berani sebab butuh kajian mendalam lagi bagaimana pola-pola yang perlu dipersiapkan, tentunya kami HWDI Sulsel siap untuk dilibatkan,” tegasnya.

Baca Juga : Delapan Tahun Kepemimpinan Adnan-Kio: Momen Tuntaskan Janji

Sementara, Wakil Sekretaris Forum Anak Makassar (FAM) Natasha Jasmine mengatakan, pemahaman atau materi tentang HKSR ini sangat perlu dan penting untuk diketahui. Apalagi materi atau kelas-kelas seperti ini tidak bisa didapatkan secara gampang di kelas-kelas sekolah, jika pun adanya sangat terbatas.

“Saya sangat senang sekali bisa ikut disini karena memberikan ilmu baru soal HKSR ini, dan dari sini saya tahu bahwa sangat penting untuk saya tahu apa itu HKSR dan pentingnya saja menjaga tubuh saya sendiri,” katanya.

Apalagi kata Natasha, di lingkungan sekolah maupun keluarga isu-isu HKSR masih sangat tabu dan tidak lumrah untuk menjadi pembahasan. Sebab, tidak semua orangtua ataupun guru punya pemahaman tentang HKSR.

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

“Banyak hal baru juga saya dapat. Misalnya saya ketemu dengan teman-teman disabilitas, dan bisa tahu seperti apa kebutuhan dan masalah mereka. Saya mewakili forum anak tentunya akan membagi apa yang saya dapatkan hari ini ke anak-anak yang belum memiliki kesempatan yang sama dengan saya, apalagi di forum anak ini ada memang klaster tentang kesehatan yang bisa saya jadikan wadah untuk mengangkat isu HKSR ini secara luas,” terang siswi SMA Negeri 3 Makassar ini.

Ketua PKBI Sulsel Andi Iskandar Harun mengatakan, HKSR ini harusnya menjadi kebutuhan prioritas, bahkan pengetahuan tentang hal tersebut bukan hanya bagi anak-anak dan remaja non disabilitas saja, tetapi penting pula untuk anak dan remaja dengan disabilitas. Sebab, kelompok disabilitas sangat rentan menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual karena tidak adanya pemahaman tentang HKSR ini.

“Dari beberapa kasus yang kami dampingi, utamanya pada disabilitas perempuan itu mereka mengaku itu jarang mendapatkan akses informasi yang benar tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Kemudian mereka tidak menganggap resiko dari kejadian itu seperti hal biasa, misalnya terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Sehingga informasi soal HKSR ini perlu ada dan diperkuat lagi,” katanya usai menyampaikan materinya.

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

Dengan melihat kondisi tersebut mendorong PKBI bersama Kementerian Sosial dan HWDI untuk mengampanyekan isu HKSR pada kelompok disabilitas, utamanya kelompok anak dan remaja. Termasuk saat ini pihaknya sedang merancang modul khusus untuk kesehatan reproduksi remaja pada disabilitas dan kelompok berkebutuhan khusus lainnya.

“Ini akan menjadi perhatian kami kedepan. Karena memang memberikan pemahaman soal kesehatan reproduksi kepada anak dan remaja disabilitas dan non disabilitas itu pendekatannya sangat berbeda. Ini menjadi semangat kami bersama dengan teman-teman HWDI Sulsel, semoga ini bisa kami kolaborasikan,” harap Iskandar.

Pendidikan HKSR ini dinilai secara mandatory belum menjadi perhatian penuh dari pemerintah atau negara. Sehungga pihaknya mendesak bagaimana pendidikan HKSR ini harusnya mulai menjadi perhatian penting. Utamanya di sektor pendidikan dengan menjadikan pengetahuan HKSR ini menjadi kurikulum pendidikan, meskipun sifatnya masih pada kurikulum muatan lokal.

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

“Kami melihat pendidikan HKSR ini kepentingannya belum ditangkap pemerintah dan instansi pendidikan sebagai prioritas atau bahan pelajaran yang dibutuhkan anak-anak kita. Padahal kalau kita lihat angka kasus untuk kehamilan yang tidak diinginkan pada anak sangat tinggi, kejadiannya makin banyak, dan berdampak pada kehidupan sosial mereka di masa depan,” ujarnya.

Belum lagi melihat kasus-kasus yang marak menimpa anak dan remaja saat ini ia nilai berakar dari pendidikan seksual yang tidak baik, pendidikan seksual yang selalu dicari dengan cara-cara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Belum lagi masyarakat saat ini masih banyak menjadikan pendidikan seksual yang mitos sebagai pedoman, sehingga menjerumuskan anak-anak kepada perilaku seksual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Inilah pentingnya belajar HKSR, sebab dari sini anak-anak dan remaja bisa diajak untuk menentukan sikap sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap resiko dari perbuatannya sendiri, memiliki hak atas tubuhnya, melakukan proses reproduksi pada waktunya, dan bagaimana menjaga kesehatan reproduksi mereka,” harapnya.

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

Sebelumnya, Ketua HWDI Sulsel Maria Un berharap, dengan melibatkan Forum Anak Makassar ini diharapkan akan terbangun perspektif yang ramah dengan kelompok disabilitas. Misalnya, bagaimana melakukan interaksi yang benar dengan kelompok disabilitas, sehingga mereka akan menjadi suportif sistem bagi anak-anak disabilitas di Kota Makassar.

“Termasuk juga mendorong pemenuhan akses layanan kesehatan yang ramah dengan kelompok disabilitas, utamanya remaja dan anak,” katanya.

Menurut Maria, informasi dan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi bagi anak dan remaja disabilitas dan kusta masih sangat kurang dilakukan oleh keluarga, masyarakat ataupun di sekolah. Sementara, banyak penyandang disabilitas yang belum memiliki pengetahuan yang baik terkait dengan HKSR. 

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

Minimnya pengetahuan anak dan remaja disabilitas dan kusta tentang HKSR ini sangat berpotensi menjadikan mereka menjadi korban kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan penyumbang bertambahnya angka HIV-AIDS, serta makin banyak remaja yang menggugurkan kandungan karena hamil dan lain-lain.. 

“Di pertemuan ini kita juga mendapatkan gambaran bahwa pendidikan kesehatan dan reproduksi ini masih lambat diterima. Jadi bukan hanya anak disabilitas dan kusta, tetapi anak non disabilitas pun banyak belum mendapatkan informasi yang benar terkait kesehatan reproduksi seksual,” ujarnya.

Sehingga pada pertemuan ini pun dinilai cukup strategi dan bagus. Di mana memberikan pemahaman secara bersama-sama, yakni menguatkan anak dan remaja non disabilitas dengan perspektif disabilitas, kemudian menguatkan anak dan remaja disabilitas dan kusta dengan skill untuk meningkatkan kepercayaan dirinya agar interaksi antar mereka bisa terjalin dengan baik. 

Baca Juga : OJK Komitmen Perkuat Industri BPR

Belum lagi, tantangan dalam memberikan layanan kesehatan seksual reproduksi kepada anak dan orang muda dengan disabilitas dan kusta adalah stigma yang masih sangat tinggi. Tak hanya itu, sangat sedikit orangtua juga menyadari pentingnya pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi mereka yang memiliki anak dengan penyandang disabilitas dan kusta.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646