0%
logo header
Senin, 20 Mei 2024 11:00

KPPU Sidak Harga dan Stok Bahan Pokok di Pasar Tradisional, Khususnya Bawang Putih

Chaerani
Editor : Chaerani
Anggota KPPU RI Hilman Pujana saat mengecek harga bahan pokok di Pasar Terong Makassar, kemarin. (Dok. Humas KPPU RI)
Anggota KPPU RI Hilman Pujana saat mengecek harga bahan pokok di Pasar Terong Makassar, kemarin. (Dok. Humas KPPU RI)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) terus memastikan harga komoditas bahan pokok dalam keadaan stabil.

Apalagi di tengah isu kenaikan harga beberapa bahan pokok, terutama pada komoditas bawang putih. Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan intens melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar-pasar tradisional.

Kali ini sidak dilakukan di Pasar Terong, Kota Makassar. Dalam sidak tersebut dipimpin Anggota KPPU RI Hilman Pujana bersama pihak Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan.

Baca Juga : Pemkab Bantaeng Akui Program Assiama Presisi Polres dan Huadi Group Banyak Bantu Warga

Hadir pula jajaran dinas terkait di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dan Pemerintah Kota Makassar, Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan, BPS Sulawesi Selatan, Kodam XIV Hasanuddin, Satgas Pangan Polda Sulsel, serta dan Dewan Pakar KPPU.

Anggota KPPU RI Hilman Pujana mengatakan, kali ini pihaknya melakukan sidak terkait ketersediaan dan harga barang kebutuhan pokok dan barang penting (Bapokting).

“Dalam sidak ini kami mengecek harga dan ketersediaan bapokting juga berdialog dengan beberapa pedagang,” katanya di sela-sela sidak, kemarin.

Baca Juga : Tingkatkan Kualitas SDM, Kemnaker RI Latih Karyawan Huadi Group

Ia menyampaikan, berdasarkan hasil sidak yang dilakukan harga komoditas seperti telur, daging sapi dan daging ayam relatif stabil. Adapun juga komoditas yang mengalami penurunan harga seperti beras. Sedangkan, komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah minyak goreng curah kemasan.

“Harga MinyaKita itu naik yang semula Rp12.500 per liter saat ini mencapai Rp16.000 per liter dari distributor,” terangnya.

Selain itu, komoditas yang biasanya mengalami fluktuasi harga seperti cabai dan bawang merah, kondisinya di Sulawesi Selatan dinilai cukup stabil baik dari segi harga maupun ketersediaan pasokan. Hal ini tentunya disebabkan karena pasokan datang dari beberapa daerah di Sulsel, yakni Kabupaten Enrekang dan Bantaeng.

Baca Juga : KPU Sulsel Gagas KKN Tematik bersama Unhas

Sementara, lanjutnya, yang mengalami kenaikan harga yakni bawang putih yaitu Rp 40.000 hingga Rp50.000 per Kg ditingkat pengecer. Kenaikan harga tersebut telah terjadi dalam kurun waktu dua hari terakhir.

“Jadi ada beberapa komoditas yang mengalami sedikit kenaikan, mungkin karena adanya isu soal kenaikan harga termasuk komoditas bawang putih. Tadi kita cek harga pada pedagang Rp660.000 per karung atau 20 kg jadi jika dibagi per kilo sekitar Rp 33.000,”, ujarnya.

Hilman menjabarkan jika harga bawang putih pada tingkat pengecer sekitar Rp40.000 per Kg dalam kondisi sudah bersih.

Baca Juga : Wabup Gowa: ASN Harus Miliki Semangat Cinta Tanah Air

“Minggu depan, kami sudah mengundang Kementerian Perdagangan, Pertanian dan pihak-pihak terkait lainnya, akan kami kumpulkan bersama stakeholder untuk melihat kondisi bawang putih ini secara nasional,” tambah Hilman.

Sementara, Kepala Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan, Khadijah menyampaikan, berdasarkan data yang ada untuk Sulawesi Selatan sudah masuk impor bawang putih dari China.

“Dengan demikian, ketersediaan bawang putih saat ini masih terjaga. Begitu pula dengan harga yang ada masih bisa dikatakan stabil,” katanya.

Baca Juga : Wabup Gowa: ASN Harus Miliki Semangat Cinta Tanah Air

Di tempat yang sama, Staf Ahli Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan Pemprov Sulsel Since Erna Lemba menegaskan, jika dilihat dari harga yang ada dan ketersediaan cukup, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

“Belanja sesuai kebutuhan kita, jadi kita menghimbau kepada masyarakat tidak perlu takut sebab kami melihat dari jumlah stock ketersediaan itu cukup kemudian harga cukup stabil,” tuturnya.

Since yang juga Plh. Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sulsel ini mengatakan, pada prinsipnya pemerintah akan terus mengawasi dan mengendalikan harga.

Baca Juga : Wabup Gowa: ASN Harus Miliki Semangat Cinta Tanah Air

“Tujuannya sehingga daya beli masyarakat bisa tetap baik untuk dapat mengakses pangan-pangan kita yang strategis,” ujarnya.

Disisi lain, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Mohamad Abdul Majid Ikram menilai perayaan IdulFitri Fitri serta Natal dan Tahun Baru (Nataru) beberapa waktu lalu berdampak pada harga-harga di pasaran.

“Jadi kondisi harga dan stok yang ada saat ini di pasar-pasar tradisional disebabkan karena IdulFitri dan Nataru,” terangnya.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646