REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa penyaluran pembiayaan perbankan di Sulawesi Selatan didominasi oleh kredit produktif.
Dimana berdasarkan jenis penggunaannya, kredit produktif memiliki pangsa sebesar 52,36 persen dari total penyaluran kredit perbankan dengan pertumbuhan 2,64 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Kami mencatat kredit produktif menguasai lebih dari separuh total penyaluran kredit perbankan di Sulsel. Ini pun menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi daerah,” kata Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, dalam keterangannya, kemarin.
Baca Juga : Renovasi Tuntas, Gedung Sayap Kanan Segera Jadi Kantor Sementara DPRD Makassar
Ia menjelaskan, berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit produktif terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran. Sektor tersebut memiliki pangsa 21,86 persen dari total penyaluran kredit produktif. Adapun untuk dominasi penyaluran kredit produktif mengarah ke sektor perdagangan besar dan eceran.
“Kondisi ini mencerminkan dukungan perbankan terhadap aktivitas ekonomi riil. Komposisi tersebut menunjukkan pembiayaan perbankan masih diarahkan untuk menopang sektor-sektor ekonomi yang menjadi penggerak utama perekonomian daerah,” tegasnya.
Sementara itu, kredit konsumtif mencatat pangsa sebesar 47,64 persen dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 8,74 persen secara yoy. Struktur penyaluran kredit tersebut mencerminkan komitmen industri perbankan dalam mendukung sektor-sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Baca Juga : Maxi Race Jadi Daya Tarik Baru di Gelaran Yamaha Sunday Race 2026
“Dari sisi komposisi, kredit produktif masih mendominasi penyaluran pembiayaan perbankan di Sulawesi Selatan, meskipun kredit konsumtif juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat,” ujar Muchlasin.
Adapun secara total penyaluran kredit perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,46 persen secara tahunan menjadi Rp174,60 triliun. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan di daerah tetap berjalan dengan baik.
Selain itu, penyaluran pembiayaan terus dilakukan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang memadai
Baca Juga : TDA Miles 2026: Dorong Ekosistem Wirausaha Bertumbuh Bersama
“Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut mencerminkan peran perbankan yang tetap optimal dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah, di tengah penerapan prinsip kehati-hatian,” tegas Muchlasin.
Sementara itu, kualitas kredit tetap berada pada level yang terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,74 persen.
“Level NPL yang tetap terjaga menunjukkan kualitas aset perbankan masih cukup baik. Hal ini menjadi indikator bahwa pertumbuhan pembiayaan tetap diimbangi dengan manajemen risiko yang memadai, sehingga stabilitas sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan tetap terpelihara,” tutupnya.
