REPUBLIKNEWS.CO.ID, KENDARI — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengambil peran dalam mendorong penguatan struktur industri jasa keuangan di daerah. Salah satunya melalui kebijakan strategis pada sektor perbankan.
Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha mengatakan, salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah mendorong proses peleburan atau konsolidasi Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat struktur permodalan, serta memperluas kapasitas layanan BPR kepada masyarakat.
“OJK mendorong industri perbankan agar lebih aktif dan responsif dalam menangkap potensi ekonomi lokal di berbagai daerah di Sultra, khususnya dalam meningkatkan pembiayaan kepada sektor produktif dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” terangnya, di sela-sela Bincang Jasa Keuangan (BIJAK), di Learning Center OJK Sultra, kemarin.
Baca Juga : IGS 2026 Buka Jalan Investasi Infrastruktur Makassar, 8 Negara Siap Tindak Lanjut Kerja Sama
Pertemuan yang dihadiri sejumlah media di wilayah Sultra ini sebagai forum komunikasi strategis untuk menyampaikan perkembangan terkini sektor jasa keuangan. Sekaligus, memperkuat sinergi dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai aktivitas keuangan ilegal di daerah.
Bismi berharap, dengan upaya yang dilakukan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata serta tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan. Selain mendorong penguatan industri perbankan, OJK Sultra juga memberikan perhatian khusus terhadap pemerataan akses pembiayaan.
“Meskipun secara umum penyaluran kredit menunjukkan pertumbuhan yang positif, OJK mencermati bahwa realisasi kredit di beberapa kabupaten masih relatif rendah,” terangnya.
Baca Juga : Momen Peringatan HUT ke-18 Kabupaten Sigi, BSI dan BSI Maslahat Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa
Sementara, Manajer Pengawasan OJK Sultra, Muhammad Dwi Wicaksana, menyampaikan perkembangan kinerja sektor jasa keuangan hingga Januari 2026 dalam kondisi yang positif. Hal ini tercermin dalam beberapa indikator, khususnya pada industri perbankan.
Tercatat bahwa total aset perbankan di Sulawesi Tenggara mencapai Rp61,43 triliun atau tumbuh sebesar 6,5 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp33,64 triliun atau tumbuh 5,9 persen (yoy).
“Pada penyaluran kredit perbankannya juga mencapai Rp42,59 triliun atau tumbuh 5,1 persen (yoy),” ungkapnya.
Baca Juga : Terpilih Aklamasi, Supratman Resmi Nakhodai PBVSI Makassar Periode 2026-2030
Dari sisi kualitas kredit, kondisi tetap terjaga dengan baik yang tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,10 persen, masih berada pada tingkat yang sehat dan terkendali.
