0%
logo header
Selasa, 23 Januari 2024 01:13

Misa Pertama Imam Baru, Stefanus Mahuze Ingatkan Kerendahan Hati Menjadi Kunci Mengenal Allah

Mulyadi Ma'ruf
Editor : Mulyadi Ma'ruf
Imam Baru RD Stefanus Mahuze memberikan berkat kepada umat Katolik. (Foto: Hendrik Resi / republiknews.co.id)
Imam Baru RD Stefanus Mahuze memberikan berkat kepada umat Katolik. (Foto: Hendrik Resi / republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MERAUKE — Pasca ditahbiskan menjadi imam baru di Gereja Kathedral St. Fransiskus Xaverius Merauke, Sabtu (20/1/2024), Pastor Stefanus Mahuze, Pr tampil memimpin misa perdana di Gereja Paroki Sang Penebus, Kampung Baru Merauke, Senin (22/1/2024).

Pastor RD. Stefanus Mahuze yang berketurunan Suku Marind Papua Selatan ini, ditahbiskan oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi bersama dua pastor, RD Wilfridus Fallo, RD Simon Petrus Laian dan tiga diakon lainnya.

Dalam khotbah perdana Imam Baru, RD. Stefanus Mahuze mengisahkan bahwa panggilan hidupnya menjadi imam termotivasi oleh karya misionaris yang ditunjukkan oleh para pastor Tarekat MSC, Konggregasi Misionaris Hati Kudus Yesus yang berkarya di wilayah Papua Selatan.

Baca Juga : Nicolaus Kondomo Maju di Pilgub Papua Selatan 2024, Dukungan Masyarakat Terus Mengalir

Sejak dia menjadi misdinar di Gereja Paroki Sang Penebus Merauke, dia melihat pastor misionaris MSC melayani umat Katolik dari generasi ke generasi dengan kasih dan kerendahan hati. Stefanus pun mulai belajar dari sejarah Gereja Katolik tentang satu abad karya pelayanan para Misionaris MSC di Selatan Papua.

“Dari situlah saya sadar bahwa Misionaris MSC sudah datang jauh ke sini dan leluhur tanah ini sudah menerima mereka dengan sukacita. Misionaris sudah melayani dari generasi ke generasi.”

“Saya merasa itu awal panggilan saya menjadi imam untuk melanjutkan karya Misionaris MSC di tanah ini,” kisah Stefanus dalam khotbahnya di hadapan ratusan umat Katolik di Gereja Katolik Paroki Sang Penebus, Kampung Baru Merauke.

Baca Juga : SDN 1 Merauke Dipalang, 524 Siswa Tak Bisa Sekolah

Pengelaman hidup misionaris MSC dalam karya pelayanan di gereja-gereja Katolik, kata Stefanus, memberi motivasi panggilannya untuk menjadi imam. Stefanus kemudian masuk Seminari Pastor Bonus di Kelapa Lima Merauke.

“Saya kemudian masuk Seminari, ada juga teman-teman lain dari paroki ini yang masuk Seminari. Tapi kemudian menghilang. Jadi saya harap pengelaman saya ini menjadi motivasi untuk anak-anak kita di paroki ini, mari kita lanjutkan karya Misionaris di tanah ini,” ucapnya.

Perjalanannya menuju imamat, menurutnya, memiliki tantangan dan godaan. Banyak pengelaman sukacita maupun dukacita. Semuanya harus dijalani dengan hati yang lapang dan kerendahan hati.

Baca Juga : Kakek Tua Ditemukan Tewas Telungkup di Dalam Rumahnya di Kompleks Pasar Baru Merauke

“Menapaki panggilan Tuhan tidak selamanya enak-enak. Kita harus jatuh bangun dan tidak gampang. Saya pernah gagal dalam studi, sehingga berlama-lama di Yogya. Dari kegagalan itu saya mulai sadar bahwa selama ini saya membangun tembok kesombongan, sehingga saya gagal dan berkali-kali gagal.”

“Ketika saya sadar dari kegagalan, saya merasa bahwa saya harus turun merendahkan diri. Belajar dari hal-hal yang sederhana. Melalui rahmat Tuhan saya jalani terus panggilan itu dan akhirnya saya merasa tenang dan menemukan Allah,” ungkapnya.

Dia mengingatkan bahwa untuk menemukan panggilan Allah sebenarnya membutuhkan kerendahan hati seperti Bunda Maria yang menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan menjawabnya dengan penuh sukacita dan kerendahan hati.

Baca Juga : Ahli Dewan Pers Sebut Kerja Jurnalistik Tak Bisa Dipidana

“Akhirnya bagi saya ketika kita berjumpa dengan Alllah kita sudah bertobat dan mau merendahkan diri, Roh Kudus akan turun menuntun kita. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Roh Kudus akan membimbing kita meskipun sulit. Artinya kita harus bersabar dan rendah hati.”

“Untuk bisa mengenal  kehendak Allah butuh kerendahan hati. Kita harus rendah hati. Tuhan sendiri memulai karya keselamatan-Nya bukan di tempat yang mewah, tetapi di Kandang Bethlehem, yang kotor, bau dan gelap,” ucapnya.

“Dalam kondisi itu Tuhan hadir untuk menguatkan. Tuhan hadir dalam kerendahan hati umat-Nya. Kerendahan hati adalah kunci untuk mengenal Allah,” tutup Stefanus menyudahi khotbahnya. (*)

Penulis : Hendrik Resi
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646