REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 28 Januari 2026 menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik yang masih dibayangi berbagai risiko.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa ketahanan sektor keuangan Indonesia ditopang oleh permodalan yang kuat, likuiditas memadai, serta manajemen risiko yang terkendali.
“Di tengah ketidakpastian global, stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga. OJK terus mencermati berbagai perkembangan eksternal maupun domestik untuk memastikan intermediasi keuangan berjalan optimal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya, dalam keterangannya, kemarin.
Baca Juga : Tolak Framing Media yang Menyesatkan, NasDem Sulsel Gelar Aksi Damai di Makassar
Menurutnya, OJK mencermati proyeksi lembaga multinasional yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 masih stagnan dan berada di bawah rata-rata historis. Pergerakan ekonomi global dinilai masih terbatas, seiring melemahnya aktivitas perdagangan dan permintaan.
“Risiko geopolitik juga meningkat seiring eskalasi ketegangan di Iran. Meski demikian, kebijakan moneter global diperkirakan masih bersifat akomodatif guna menopang pertumbuhan,” terangnya.
Di Amerika Serikat, perekonomian tetap tumbuh solid dengan tekanan inflasi yang mereda. Tingkat pengangguran tercatat menurun, meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat. Realisasi penambahan tenaga kerja pada Desember 2025 tercatat lebih rendah dari estimasi pasar. Ke depan, bank sentral AS, Federal Reserve, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) setidaknya hingga Juni 2026.
Baca Juga : Lewat Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Pastikan Pemenuhan Gizi Masyarakat
Sementara itu, di kawasan Asia, ekonomi Tiongkok tumbuh 5,0 persen secara tahunan (yoy), sejalan dengan target pemerintahnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh surplus neraca perdagangan yang terus meningkat dan bahkan mencetak rekor baru.
Namun demikian, tekanan di pasar obligasi Jepang meningkat, terutama pada tenor jangka panjang. Tingginya dominasi kepemilikan asing pada Japanese Government Bond (JGB) jangka panjang meningkatkan kerentanan terhadap risiko sudden stops dan herding, yang berpotensi menimbulkan rambatan global melalui repricing risiko lintas kelas aset.
Dari sisi domestik, OJK mencatat kinerja perekonomian Indonesia tetap solid. Inflasi headline (CPI) meningkat ke level 3,55 persen yoy, sementara inflasi inti naik menjadi 2,45 persen yoy.
Baca Juga : Realisasi APBD Triwulan I Capai 11,07 Persen, Munafri Ingatkan OPD Jangan Salah Arah Program
Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimis. Penjualan mobil dan sepeda motor juga mencatatkan kenaikan signifikan menjelang berakhirnya insentif kendaraan listrik. Dari sisi penawaran, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur menunjukkan tren semakin ekspansif.
“Pada triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,39 persen, sehingga secara tahunan ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen,” sebutnya.
Ia menegaskan, OJK akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama otoritas terkait guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga : Dukung Kebijakan WFH, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50 Persen
“OJK berkomitmen memastikan sektor jasa keuangan tetap resilien, inklusif, dan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Friderica.
