0%
logo header
Senin, 02 November 2026 11:58

Balla Lompoa: Dari Pusat Pemerintahan ke Ruang Pusaka Kerajaan Gowa Masa ke Masa

Chaerani
Editor : Chaerani
Museum Balla Lompoa yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. (Foto: Istimewa)
Museum Balla Lompoa yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. (Foto: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Balla Lompoa merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan dari masa ke masa.

Museum ini tidak hanya menyimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan, tetapi juga menjadi simbol identitas, kebudayaan, dan kejayaan masyarakat Gowa pada masa lampau.

Dari berbagai referensi, salah satunya pada buku saku Museum Balla Lompoa yang keluarkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa menyebutkan bahwa bangunan Balla Lompoa merupakan rumah adat tradisional Makassar yang berbentuk rumah panggung.

Baca Juga : Pencegahan Perkawinan Anak di Gowa Didorong Lewat Penguatan Keluarga dan Kader

Dimana, dilengkapi dengan struktur dan arsitektur khas yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Keunikan bangunan tersebut mencerminkan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Makassar yang diwariskan secara turun-temurun.

Pada masa kerajaan, Balla Lompoa pernah ditempati oleh para raja yang berkuasa dari generasi ke generasi. Bangunan ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan sekaligus tempat penyimpanan benda-benda kebesaran kerajaan, yang dikenal dengan sebutan Kalompoang atau Gaukang, sebagai simbol kekuasaan dan peninggalan Kerajaan Gowa.

Kerajaan Gowa merupakan salah satu kerajaan besar yang memiliki pengaruh kekuasaan luas dalam sejarah Sulawesi Selatan selama berabad-abad. Perjalanan kerajaan ini mengalami berbagai peristiwa penting, termasuk konflik dengan Kompeni Belanda yang berujung pada kekalahan Kerajaan Gowa pada periode 1667–1669.

Baca Juga : Kepastian Hukum Aset Makin Kokoh, PLN UIP Sulawesi Amankan 44 Sertifikat Tanah di Sultra

Memasuki abad ke-20, sejumlah kerajaan di Sulawesi Selatan mulai kehilangan otonominya dan berada di bawah kekuasaan serta pengaruh Pemerintah Hindia Belanda. Perubahan tersebut berlangsung sekitar tahun 1905–1906 dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah pemerintahan di Sulawesi Selatan.

Seiring perkembangan zaman, fungsi dan peran Balla Lompoa mengalami perubahan. Sejak tahun 1960, bangunan ini mulai difungsikan sebagai pusat sejarah dan kebudayaan Gowa. Kemudian, pada tahun 1973, Balla Lompoa resmi dijadikan museum dengan nama Museum Balla Lompoa berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Gowa Nomor 77/AU/1973 tertanggal 11 Desember 1973.

Keberadaan Museum Balla Lompoa menjadi gambaran motivasi bagi generasi ke generasi untuk terus mempertahankan dan melestarikan karya peninggalan sejarah serta budaya. Museum ini memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai budaya, memperkuat ketahanan budaya, mempertahankan jati diri bangsa, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya leluhur.

Baca Juga : Festival Musik Tradisi Indonesia: Merawat Musik Tradisi atau Merayakan Inovasi?

Dalam upaya menjaga kelestariannya, bangunan Balla Lompoa pernah menjalani proses restorasi pada tahun 1978–1980. Proses restorasi tersebut kemudian diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Subadio, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Gowa juga telah beberapa kali melakukan rehabilitasi dan pemugaran terhadap bangunan museum. Pemerintah daerah bahkan turut mengalokasikan anggaran setiap tahun untuk mendukung biaya pemeliharaan agar bangunan bersejarah tersebut tetap terjaga.

Museum Balla Lompoa Jadi Destinasi Sejarah Unggulan

Dengan nilai sejarah, keunikan arsitektur, serta berbagai peninggalan Kerajaan Gowa yang tersimpan di dalamnya, Museum Balla Lompoa menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya yang patut dikunjungi. Keberadaannya diharapkan dapat terus menjadi pengingat bagi generasi muda tentang kejayaan masa lalu sekaligus pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

Baca Juga : Hujan Mulai Turun di Poso, PLN Terus Upayakan Pemulihan Pasokan Listrik

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Kabupaten Gowa, A. Ingga Arfandi mengatakan, di tahun ini, Disparbud Gowa akan memfokuskan berbagai program pada penguatan digitalisasi serta menghadirkan pengalaman berkunjung (museum experience) yang lebih interaktif bagi masyarakat.

Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah pemanfaatan teknologi QR Code dan audio guide pada setiap etalase koleksi museum. Melalui inovasi tersebut, pengunjung dapat mengakses informasi sejarah dan nilai budaya dari setiap koleksi secara lebih mudah, praktis, dan menarik melalui perangkat digital.

“Kami menyiapkan barcode pada beberapa koleksi yang ada di museum saat ini. QR Code ini kami siapkan bahasa Indonesia dan Inggris sebagai informasi yang jelas tentang koleksi tersebut kepada pengunjung yang datang,” katanya, saat dikonfirmasi.

Baca Juga : Hujan Mulai Turun di Poso, PLN Terus Upayakan Pemulihan Pasokan Listrik

Sebagai bagian dari upaya menghidupkan kawasan museum, Disparbud Gowa akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai komunitas, seperti sanggar seni dan komunitas fotografer. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan pertunjukan seni dan budaya secara berkala di pelataran Museum Balla Lompoa, sehingga museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang aktivitas budaya yang hidup dan dinamis.

Di samping itu, peningkatan fasilitas dan aksesibilitas juga menjadi salah satu prioritas. Hal ini dinilai penting sebab kenyamanan pengunjung merupakan faktor penting dalam meningkatkan minat masyarakat untuk kembali berkunjung sekaligus merekomendasikan Museum Balla Lompoa kepada keluarga, teman, maupun wisatawan lainnya.

“Melalui berbagai inovasi tersebut kami berharap Museum Balla Lompoa semakin diminati sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang mampu memadukan nilai-nilai kearifan lokal dengan kemajuan teknologi, sehingga memberikan pengalaman yang edukatif, interaktif, dan berkesan bagi setiap pengunjung,” harap A. Ingga.

Baca Juga : Hujan Mulai Turun di Poso, PLN Terus Upayakan Pemulihan Pasokan Listrik

Museum Balla Lompoa terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim Nomor 44, Lingkungan Sungguminasa, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Lokasinya berada di tengah Kota Sungguminasa, tepatnya pada titik Kilometer Nol (0) ibu kota Kabupaten Gowa, serta berbatasan langsung dengan Kota Makassar sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan.

Dari sisi sejarah dan kepercayaan masyarakat setempat, arah utara dan timur memiliki keterkaitan dengan kisah awal kehadiran To Manurung, sosok putri mulia yang dipercaya berasal dari arah timur dan kemudian menghilang atau raib ke arah utara ketika kembali ke alam asalnya sekitar abad ke-14.

Namun, bangunan Balla Lompoa di Gowa memiliki orientasi menghadap ke arah selatan. Posisi tersebut dikaitkan dengan pengaruh Islam, sementara sisi samping bangunan yang mengarah ke barat menunjukkan arah kiblat.

Baca Juga : Hujan Mulai Turun di Poso, PLN Terus Upayakan Pemulihan Pasokan Listrik

Akses menuju Museum Balla Lompoa juga terbilang mudah dan lancar. Pengunjung dapat menjangkau lokasi melalui jalan yang mengelilingi kawasan museum dengan menggunakan berbagai jenis transportasi, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, mulai dari sepeda motor hingga mobil.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646