Buteng Berpotensi Sebagai Lumbung Rumput Laut, Petani Harus Sejahtera

  • Bagikan
Syamsuddin Alif

REPUBLIKNEWS.CO.ID – Dalam sejarah peradaban indonesia, laut merupakan sumber daya hayati dan non hayati yang tidak bisa dipisahkan indonesia dengan identitasnya. Sebagai negara kepulauan dengan panjang pantai lebih dari 81.000 km dimana 2/3 wilayah kedaulatannya berupa perairan laut. Dalam perintah UUD pasal 33 bahwa harus dikelola secara berkelanjutan untuk sebesar besarnya demi kemakmuran rakyat.

Paradigma berpikir kita mulai dari sekarang, bahwa laut bukan lagi sebagai pemisah, tetapi Lautlah yang menjadi penghubung. Secara filosofi, laut sebagai penghubung anatara daerah, laut sebagai penghubung antar manusia dan alam, juga sebagai penghubung antara manusia dengan Tuhan.

Kabupaten Buton tengah yang terbentuk dipertengahan tahun 2014, sekarang sudah saatnya melihat peluang dalam sektor yang berpotensi untuk dikembangkan, untuk menunjang pendapatan daerah demi kesejahteraan masyarakat. Salah satu sektor yang berpotensi untuk dikembangkan adalah sektor Kelautan dan Perikanan, yang meliputi potensi sumber daya perairan dan potensi wisata bahari. Kedua sektor ini termasuk dalam nawacita Negara Indonesia sebagai poros maritim dunia dan Sudah saatnya Kabupaten Buton Tengah mamainkan perananya sebagai leading sector  sebagai basis atau kiblat Rumput laut di Sulawesi tenggara, khususnya di Kabupaten Buton Tengah.

Salah satu potensi sumber daya perairan yang menjadi peluang besar untuk dikembangkan adalah Rumput laut jenis Cottonii dan Spinosum, meskipun masih banyak komoditi lainnya yang menunjang untuk dikembangkan. Sementara potensi wisata bahari tidak kalah menarik oleh daerah lain, menurut saya keindahan yang disuguhkan sangatlah memanjakan mata bagi wisatawan  untuk menyaksikan Panorama yang di tawarkan oleh Alam di Buton Tengah.

Tujuh Kecamatan yang tersebar di Kabupaten Buton Tengah, memiliki garis pantai yang menjadi dasar dalam melihat daerah ini berpeluang untuk mengembangkan rumput laut, mulai dari metode pembibitan, proses budidaya dan pemasaran rumput laut, agar lebih produktif dengan kualitas kekeringan terjaga. Dari hal tersebut diperlukan kebijakan dan dukungan dari para stakeholder untuk  para petani rumput laut dilingkup Kabupaten Buton Tengah, demi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.

Garis pantai barat yang membentang dari utara ke selatan meliputi daerah pemasok rumput laut seperti desa Air Bajo, Desa Waburense, Tanai Landu, dan Lamaraja yang termasauk dalam administrasi Kecamatan Mawasangka Induk. Garis Pantai Timur meliputi daerah Tolandona, Gu dan Waara. Garis pantai selatan meliputi, Mawasangka Timur dan Mawasangka Tengah dan Garis Pantai Kecamatan Telaga Raya. Selain itu,  juga didukung oleh musim barat dan timur yang sangat stabil di daerah Mawasangka induk, khususnya di daerah Air Bajo, Waburense, Tanai Landu dan Lamaraja, sepanjang tahun petani tidak berhenti memproduksi, hanya saja ada waktu tertentu petani harus beristirahat, karena adanya serangan penyakit rumput laut seperti Doma’ (kerang – kerang), lumut dan penyakit lainnya. Biasanya serangan penyakit itu berkisar dari bulan Agustus hingga November.

Masyarakat pesisir umumnya merupakan penduduk yang bermukim di pinggiran laut yang aktivitasnya, sebagian besar memanfaatkan hasil laut, yang terbangun dalam kelembagaan masyarakat. Sehingga ada pola interaksi yang terbentuk dalam komunitas masyarakat. Sama halnya dengan petani rumput laut, mereka dibentuk dalam struktur patron-klien atau sering disebut sebagai pemodal-pekerja, bagi petani yang membutuhkan bantuan materi maupun bantuan sosial dari pemodal, dengan jaminan kepercayaan.  Pola tersebut sangat memudahkan petani dalam bekerja, sehingga alasan modal tidak lagi menjadi kendala untuk memulai. Karena output dari hubungan patron klien adalah saling menguntungkan. Pola tersebut menjadi kekuatan tersendiri di masyarakat, karena terciptanya sebuah perlakuan sosial, antara individu maupun kelompok.  Menurut hemat saya, “bahwa petani yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Buton Tengah, telah terjalin dalam pola hubungan patron – klien, saya menyebutnya sebagai ekonomi gotong royong, seperti yang cita-citakan oleh sang proklamator bung karno.”.

Petani rumput laut dalam memainkan perannya sebagai pelaku utama, telah mengatur sistem pembagian kerja, untuk menjalankan aktivitas produksi, dalam teori sosial disebut sebagai peran gender. Peran gender merupakan pembagian tugas dan nilai berdasarkan dinamika yang terjadi dalam masyarakat dan dipengaruhi oleh sosial-budaya. Pembagian kerja tersebut (1). Ada yang melakukan aktivitas di laut, seperti memasanga rakit, merawat pertumbuhan rumput laut dan memanen. Mayoritas dilakukan oleh laki laki (2). Mengikat bibit rumput laut di darat, itu dilakukan oleh sekelompok perempuan pesisir. Hal tersebut umumnya terjadi di komunitas petani rumput laut, juga terjadi dipetani rumput laut yang tersebar di bebrapa wilayah Kabupaten Buton Tengah. Sehingga akan mendongkrak penghasilan rumah tangga bagi masyarakat pesisir karena adanya pembagian kerja.

Seperti yang di bahas sebelumnya, bahwa Pemerintah Buton Tengah harus mampu menjadi leading Sector, untuk menempatkan posisi wilayah ini sebagai kiblat rumput laut di  Wilayah Timur Indonesia yang disentralkan di Buton Tengah, hal tersebut sangat strategis sebagai program jangka panjang bebasis masyarakat, karena untuk memenuhi permintaan domestik maupun ekspor. Dengan melimpahnya rumput laut tersebut membuat petani harus berupaya untuk meningkatkan hasil produksi, dengan kuliatas terbaik berdasarkan standar kekeringan oleh buyer atau pembeli,  sehingga harga akan mengikut dengan sendirinya. Dengan demikian, dukungan dari berbagai pihak sangat di butuhkan untuk menunjang keberlangsungan petani rumput laut demi kesejahteraan petani.(*)

*Penulis : Syamsuddin Alif (Pemerhati Lingkungan)

  • Bagikan