REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Save the Children Indonesia bekerja sama dengan mitra strategis berupaya membangun pemenuhan hak-hak dan perlindungan anak berbasis masyarakat, serta memperkuat hak-hak perempuan di wilayah penghasil kakao.
Melalui dukungan GIZ melalui program GrowHerKakao, Save the Children bersama Mars Indonesia, Konsorsium GrowAsia, PISAgro, dan Mars memberikan pendampingan terhadap pemberdayaan perempuan-perempuan petani kakoa di Sulawesi Selatan. Khususnya di Luwu Utara dan Luwu Timur melalui Program Empower, termasuk mitra lainnya di Bone, Soppeng dan Wajo.
Program ini menjadi upaya dalam menciptakan ekosistem rantai pasok kakao yang membantu mendukung kesejahteraan anak dan inklusif bagi perempuan.
Baca Juga : Sinergi Kemenkum Sulsel dan Pemkab Sinjai, Dorong Pemanfaatan KI untuk Pemberdayaan Masyarakat
Senior Director Advocacy, Campaign, Goverment Relations, Tata Sudrajat mengatakan bahwa satu hal yang menjadi kunci dalam program ini adalah semangat pelokalan. Save the Children Indonesia berkolaborasi dengan mitra lokal seperti Sulawesi Cipta Forum dan Perkumpulan Wallacea, LPP Bone dan Yayasan Wadjo, untuk memastikan agar setiap inisiatif yang diambil benar-benar sesuai dengan konteks dan kebutuhan komunitas lokal.
“Para mitra ini berperan penting dalam memastikan bahwa program ini tidak datang sebagai “instruksi dari luar”, melainkan tumbuh dari aspirasi komunitas lokal agar dapat terus berlanjut secara mandiri,” terangnya, dalam kegiatan Learning Event sebagai puncak dari rangkaian program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di sektor kakao di Sulawesi Selatan yang berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa, (31/03/2026).
Pada sisi perlindungan anak, program ini telah berhasil melahirkan 110 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang tersebar di 110 desa. Dari jumlah tersebut, 12 di antaranya telah bertransformasi menjadi Lembaga Kemasyarakatan Desa yang memiliki payung hukum tetap melalui Peraturan Desa. Kelompok ini menjadi barisan terdepan di tingkat desa yang aktif mencegah dan menangani kekerasan serta praktik berbahaya terhadap anak.
Baca Juga : Muscab PPP se-Sulsel: Kandidat Ketua DPC Diikat Pakta Integritas, Figur Eksternal Wajib Ikut Uji Kelayakan
Selain itu, ada 71 PATBM yang melakukan replikasi dari intervensi yang sudah dilakukan di Luwu Utara dan Luwu Timur. Sementara itu, di sisi pemberdayaan perempuan, program ini telah menanamkan kemandirian finansial yang kuat melalui pembentukan 423 Kelompok Simpan Pinjam Desa (VSLA) yang tersebar di 5 kabupaten dengan akumulasi dana simpanan mencapai lebih dari 15 miliar serta lebih dari 100 kelompok usaha mikoro.
Melalui acara ini, Save the Children Indonesia mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat, untuk terus memperkuat kolaborasi demi memastikan setiap anak tumbuh di lingkungan yang aman, sejahtera, dan bebas dari eksploitasi.
“Tentunya upaya ini dilakukan melalui penguatan sistem pelindungan anak berbasis masyarakat, penguatan keluarga, serta pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi dan pengambilan keputusan,” ujarnya.
Baca Juga : Gagas Desa Siaga Bencana di Kelurahan Katimbang, PLN UIP Sulawesi Raih Penghargaan Pemkot Makassar
Learning Event ini berfungsi sebagai sumber inspirasi, pemantik semangat, sekaligus ruang dialog yang menjembatani hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Wawasan dan momentum yang dihasilkan melalui kegiatan ini juga menekankan nilai kemitraan berkelanjutan guna menerjemahkan pembelajaran tersebut sebagai pengaruh kebijakan yang berkelanjutan dan replikasi yang lebih luas di seluruh Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
“Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa ketika siklus program berakhir, sistem yang telah dibangun bisa berjalan dan direplikasi melalui komitmen pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat,” ungkapnya.
Sementara, salah satu penerima manfaat, Martiani, seorang istri petani kakao, menyampaikan bahwa kehadiran VSLA ini membantu meningkatkan akses ekonomi dan permodalan yang sebelumnya sulit dijangkau oleh kelompok perempuan.
Baca Juga : Pemkab Gowa Beri Beasiswa ke Tiga Pelajar Terbaik, Disekolahkan di Universitas Sampoerna
“Sebelum mengikuti VSLA, keuangan kami tidak terkelola dengan baik. Setelah berpartisipasi, kami dapat mengelola keuangan dengan lebih baik, bahkan kami bisa menabung setengah dari penghasilan kakao kami,” ujarnya.
Kehadiran VSLA juga memberikan manfaat ganda pada perempuan. Secara sosial, sistem ini membangun kebersamaan dan perilaku prososial, sementara secara praktis, anggota belajar mengelola keuangan melalui siklus tabungan-pinjaman yang terstruktur. Kombinasi antara dukungan sosial dan praktis ini diharapkan dapat mendorong keterlibatan anggota serta keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Di tempat yang sama, Senior Manager Agriculture Portofolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa mengungkapkan, melalui kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, pihaknya telah membuktikan bahwa penguatan sistem perlindungan anak berbasis komunitas dan pemberdayaan ekonomi perempuan adalah kunci untuk mendukung kesejahteran anak-anak di rantai pasok kakao.
Baca Juga : Pemkab Gowa Beri Beasiswa ke Tiga Pelajar Terbaik, Disekolahkan di Universitas Sampoerna
“Tugas kita sekarang adalah memastikan praktik baik ini bisa direplikasi dan menjadi standar di seluruh wilayah penghasil komoditas di Sulawsi Selatan,” katanya.
Sementara, Regional Manager Programs, GrowAsia, Paramita Mentari Kesuma menambahkan, melalui kemitraan tersebut pihaknya merasa bangga dapat melihat transformasi nyata pada anak-anak dan perempuan di Sulawesi Selatan. Bahkan, pihaknya meyakini bahwa keberhasilan bisnis komoditas global tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan komunitas petani kakao.
Sehingga, kolaborasi bersama dalam Program GrowHer Kakao yang dilaksanakan oleh Konsorsium GrowAsia, PISAgro, Mars dan Save the Children Indonesia dengan dukungan GIZ, merupakan langkah nyata kolaborasi multi-pihak dalam memastikan rantai pasok yang bertanggung jawab, di mana hak anak terlindungi dan perempuan memiliki akses ekonomi yang setara.
Baca Juga : Pemkab Gowa Beri Beasiswa ke Tiga Pelajar Terbaik, Disekolahkan di Universitas Sampoerna
“Kami berharap agar keberhasilan Model GrowHer Kakao dapat direplikasi pada lintas komoditas lain dan wilayah, bukan hanya di Indonesia tapi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini membutuhkan dukungan dan kerjasama yang berkelanjutan dari Pemerintah selaku pemangku kebijakan, sektor swasta dan mitra pembangunan,” ungkapnya.
