REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga Maret 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Hal ini tercermin dari peningkatan total aset, hingga Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, Moch. Muchlasin mengatakan bahwa total aset perbankan di Sulawesi Selatan pada Maret 2026 tercatat mencapai Rp213,44 triliun atau tumbuh 4,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Baca Juga : Koordinasi dan Sinergi akan Perkuat Reformasi Industri Pasar Modal
“Pertumbuhan aset perbankan ini menunjukkan bahwa industri perbankan di Sulawesi Selatan tetap berada dalam kondisi yang sehat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah berbagai dinamika ekonomi,” katanya, dalam keterangan resminya, kemarin.
Dari sisi penghimpunan dana masyarakat, DPK tercatat tumbuh 7,33 persen secara yoy menjadi Rp147,41 triliun. Struktur DPK masih didominasi oleh tabungan dengan pangsa sebesar 61,45 persen, diikuti deposito sebesar 22,70 persen dan giro sebesar 15,85 persen.
“Tingginya pertumbuhan DPK ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan sebagai tempat penyimpanan dana yang aman dan terpercaya,” tegasnya.
Baca Juga : Pasca Diskresi Ketum Bahlil, AMPG Sulsel All Out Dukung IAS Pimpin Golkar Sulsel
Muchlasin menegaskan OJK akan terus mendorong industri perbankan untuk memperkuat fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami berharap perbankan dapat terus meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan kualitas aset yang baik,” ungkap Muchlasin.
Sebelumnya, OJK Sulselbar menilai kinerja sektor jasa keuangan turut mendukung penguatan aktivitas ekonomi di Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya pada Triwulan I 2026.
Baca Juga : Pantas Nakhodai Golkar Sulsel, Politisi Golkar Palopo Sadam Sebut IAS Figur Pemersatu
“Kinerja sektor keuangan hingga triwulan pertama tahun ini tetap solid dengan pertumbuhan yang positif di berbagai sektor,” ujar Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin.
Stabilitas sektor jasa keuangan ini tercermin dari kinerja positif pada sektor perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang terus menunjukkan pertumbuhan secara berkelanjutan. Sehingga, kondisi tersebut turut mendukung aktivitas ekonomi daerah serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi regional.
“Di triwulan I 2026 pertumbuhan ekonomi sebesar 6,88 persen secara year on year (yoy). Ini meningkat dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,78 persen yoy,” terangnya.
Baca Juga : Wali Kota Makassar Lantik 153 Imam Kelurahan, Bakal Dapat Insentif dan Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Sementara, secara garis besar pada kinerja sektor keuangan seperti perbankan yaitu pada total aset tumbuh sebesar 4,12 persen yoy menjadi Rp213,44 triliun. Kemudian,Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,33 persen yoy menjadi Rp147,41 triliun.
“Di sisi penyaluran dana, kredit perbankan tumbuh sebesar 5,19 persen secara yoy menjadi Rp174,39 triliun,” terang Muchlasin.
Selanjutnya, pada kinerja Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulawesi Selatan pada Triwulan I 2026 tumbuh positif di berbagai industri. Penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp19,26 triliun tumbuh 0,79 persen yoy, sementara itu, total pembiayaan pada perusahaan modal ventura mencapai Rp368 miliar atau tumbuh 0,56 persen yoy.
Baca Juga : Wali Kota Makassar Lantik 153 Imam Kelurahan, Bakal Dapat Insentif dan Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
Pertumbuhan tertinggi tercatat pada industri pergadaian dengan total pembiayaan mencapai Rp12,57 triliun atau tumbuh sebesar 61,08 persen yoy. Sedangkan, pada kinerja pasar modal juga menunjukkan perkembangan yang positif seiring meningkatnya minat dan partisipasi masyarakat dalam aktivitas investasi.
Pada posisi Maret 2026, jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) tercatat mencapai 525.596 SID atau tumbuh 57,63 persen (yoy).
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin tingginya kepercayaan dan antusiasme masyarakat terhadap instrumen pasar modal sebagai alternatif pengelolaan keuangan dan investasi jangka panjang,” ungkapnya.
