REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Kepala Pengawas Eksekutif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengaku bahwa tensi geopolitik global memberikan pengaruh pada aktivitas perekonomian dunia. Salah satunya pada kinerja pasar saham Asia yang diklaim anjlok.
Menurutnya, dengan melihat perkembangan dalam waktu seminggu terakhir, saat ini tensi geopolitik semakin meningkat seiring dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran. Dampak nyata dari konflik tersebut telah terasa pada pasar saham di Asia yang anjlok.
“Ini tentunya diakibat aksi panic-selling di tengah kekhawatiran bahwa konflik dimaksud akan memicu inflasi dan menghantam ekonomi global,” terangnya, dalam keterangannya, kemarin.
Baca Juga : OJK Pacu BPR dan BPRS Tumbuh Berintegritas, Tangguh dan Kontributif
Bahkan lanjutnya, dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global dan domestik dapat terjadi apabila perang ini berlangsung lama. Sehingga, dengan belajar dari berbagai krisis yang pernah dihadapi, situasi sulit ini harus digunakan untuk memperkuat reformasi dalam semua sektor perekonomian.
“Beragam kebijakan ekonomi perlu dirumuskan secara terpadu (cohesive) dan selaras (coherence) guna mendorong kinerja yang semakin baik dan berkelanjutan (sustainable), sehingga mampu mendorong ekonomi Indonesia yang lebih dinamis dan berdaya saing,” tegas Dian.
Sementara itu, ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tumbuh tetap solid didorong oleh stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif. Selain itu, pertumbuhan ekonomi domestik juga masih ditopang konsumsi rumah tangga dan manufaktur yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca Juga : BPOM Tegaskan Tak Semua Minimarket dan Supermarket Bisa Jual Obat, Ada Syarat Ketat Tenaga Kefarmasian
Sebelumnya, hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026, menunjukkan bahwa kinerja perbankan akan tetap solid dengan risiko yang terjaga. Survei tersebut dilakukan pada Januari 2026 dengan melibatkan 93 bank responden dengan indikator porsi total asetnya mencapai sebesar 94,17 persen dari total aset bank umum berdasarkan periode data Desember 2025.
Dian Ediana mengungkapkan, keyakinan kinerja perbankan yang solid tecermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 yang tercatat sebesar 56 atau berada dalam zona optimis.
“Optimisme ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan, dan keyakinan bahwa bank masih akan cukup mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar,” terangnya.
Baca Juga : Media Sosial, Bahasa, dan Risiko Hukum yang Kerap Diabaikan
Prediksi akan melemahnya nilai tukar dan meningkatnya laju inflasi menarik ke bawah Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada triwulan I-2026 sehingga masuk ke zona pesimis (IKM=45). Kemudian, keyakinan peningkatan laju inflasi didorong oleh faktor musiman seperti bulan Ramadam, hari raya Idul Fitri dan perayaan Tahun Baru Imlek yang berdampak pada meningkatnya kenaikan harga barang dan jasa.
Terdapat faktor low based effect dari tahun sebelumnya yang mana pada tahun lalu terdapat diskon tarif listrik yang tidak diberlakukan kembali pada triwulan I-2026. Selanjutnya, nilai tukar diperkirakan melemah seiring dengan masih tingginya tensi geopolitik global.
“Hanya saja pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terakselerasi didorong oleh perkiraan peningkatan konsumsi masyarakat pada triwulan I-2026,” jelas Dian.
Baca Juga : Hadiri Konferensi PWI Sulsel, Munafri Tekankan Pentingnya UKW dan Etika Jurnalistik
OJK melaksanakan SBPO secara triwulanan untuk memperoleh gambaran dari industri perbankan tentang arah perekonomian, persepsi terhadap risiko perbankan, serta arah/tendensi bisnis perbankan pada triwulan mendatang. SBPO menghasilkan suatu Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP), yaitu indeks komposit yang menunjukkan persepsi dengan rentang nilai 1 s.d. 100, di mana indeks >50 menunjukkan persepsi optimis, indeks =50 menunjukkan persepsi stabil, dan indeks <50 menunjukkan persepsi pesimis.
IBP terdiri dari tiga subindeks yaitu Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM), Indeksi Persepsi Risiko (IPR) dan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK). Selain ketiga indeks tersebut, SBPO juga menghasilkan informasi lain yang sedang menjadi isu hangat pada industri perbankan serta hal-hal yang dianggap dapat berpengaruh terhadap kinerja perbankan.
“Secara historis, hasil survei SBPO cukup akurat dalam memprediksi arah dari beberapa indikator makroekonomi maupun perbankan di Indonesia,” kata Dian.
